
“Selamat malam, Kak.”
Lean yang baru saja masuk ke rumah saat itu, sedikit terkejut mendapati adik tirinya–Cecilia di sana. Sudah dua hari dia tidak pulang ke rumah dan baru saja kembali malam ini.
“Cecil? Kapan kau kembali?” tanya Lean dengan wajah sedikit heran.
Pasalnya, Lean ingat betul saat kasus video syur dan pembatalan kontrak kerja yang pada akhirnya membuat adiknya itu keluar dari agensi, membuat gadis itu menghilang ke luar negeri dan mati-matian tidak ingin kembali.
“Kemarin, Kak. Kakak dari mana saja? Cecil, ‘kan, kangen.” Gadis itu menjawab dengan wajah sedikit memberengut di akhir kalimatnya.
Lean tersenyum kecil lalu mendekat dan memeluk adiknya itu. “Jangan nakal lagi kayak waktu itu, yah. Kakak minta tolong banget supaya ke depannya kamu lebih bisa menjaga reputasi keluarga kita.”
“Iya, Kak. Maafin, Cecil yah.” Melepas pelukan kakaknya lalu menunduk. Entah menyesal atau malu.
Lean menepuk lembut kepala adiknya lalu berpamitan naik ke atas. Pria itu sungguh lelah dan ingin mengistirahatkan tubuh. Namun, baru beberapa langkah, dia berbalik dan bertanya pada Cecilia yang juga sudah beranjak dari sana.
“Sebentar, Cecil! Papa di mana?” tanya Lean dengan nada sedikit dikeraskan karena Cecilia posisi mereka yang cukup berjarak.
“Papa lagi keluar, Kak!” jawab Cecilia ikut mengeraskan suaranya.
“Tau gak papa ke mana? Dari jam berapa perginya?” tanya Lean mulai penasaran.
“Hmm ….” Tampak mengingat-ingat. “Tadi pergi siang gitu, Kak. Tapi gak tau juga ke mana. Coba tanya mama, Kak. Mungkin mama tau,” jawab Cecilia apa adanya.
Lean berpikir sejenak kemudian mengangguk. Mereka lalu berpisah dengan Lean yang meneruskan langkahnya ke atas. Perasaan pria itu mulai terasa tak enak. Sesuatu pun mulai terlintas di pikirannya.
Apakah papa ke tempat dia?
Ini yang dipikirkan Lean dan karena hal ini juga yang membawanya ke rumah. Dia memang sengaja pulang untuk memantau sendiri pergerakan ayahnya. Lean melihat jam di pergelangannya sudah menunjukkan pukul 09.30 PM.
Lean bermaksud menghubungi nomor ayahnya, tetapi dia memilih membersihkan diri terlebih dahulu. Jangan tanyakan penampilan Lean saat ini. Presdir Sanjaya Grup itu seolah kehilangan semangat dan tujuan hidup. Jika saja orang-orang tidak mengenalnya, mereka tidak akan percaya jika pria dengan penampilan acak-acakan itu merupakan seorang pemimpin perusahaan terbesar yang memiliki anak perusahaan di beberapa kota bahkan beberapa negara.
__ADS_1
Tidak membutuhkan waktu lama, Lean selesai dengan aktivitasnya dan kembali ke kamar. Pria itu mulai mengambil ponsel dan menghubungi nomor ayahnya. Panggilan pertama, kedua, dan ketiga tersambung. Namun, tidak dijawab oleh sang ayah. Lean mulai gusar, tetapi tak jua menyerah. Dia mencoba sekali lagi dan kali ini berhasil.
📲 “Halo, pa.”
📲 “Iya, Lean. Ada apa?”
📲 “Papa lagi di mana?”
📲 “Sekarang papa lagi di luar kota. Ada apa, Lean?”
📲 “Pa? Papa lagi di tempat … ah, kapan papa balik?”
Lean enggan meneruskan pertanyaannya mengenai keberadaan sang ayah saat ini.
📲 “Mungkin besok sore, Nak.”
📲 “Oh, okay, Pa. Lean hanya mau tau keadaan papa aja.”
📲 “Lean, sebentar. Kamu masih belum pulang ke rumah?”
📲 “Oh, baiklah, Nak. Papa tanyakan itu saja. Selamat beristirahat.”
Percakapan ayah dan anak via telepon saat itu pun berakhir. Namun, tidak ada kepuasan di dalam diri Lean. Pria itu ingin bertanya dan memastikan keberadaan sang ayah yang sebenarnya, tetapi dia pun tidak ragu melakukan hal itu.
Lean menghempaskan tubuhnya di atas ranjang besar di sana. Tempat itu begitu besar dan terasa kosong, sekosong hati Lean saat ini. Dia merindukan sosok Caitlyn, benar-benar merindukan.
“Apa lagi yang harus aku lakukan untuk bisa menemukan kamu?”
...***...
“Kamu merindukannya, ‘kan?”
__ADS_1
Hadya bertanya pada Caitlyn. Pria baru saja menyudahi panggilan telepon dari putranya. Sepanjang pembicaraan singkat tadi, Hadya sengaja mengeraskan speaker agar Caitlyn bisa mendengar suara Lean. Di samping itu, Hadya sangat yakin jika Lean mencurigai perjalannya dan sengaja menelepon, tetapi masih menahan gengsi untuk bertanya yang sebenarnya.
Dapat Hadya melihat bahwa ada cinta di antara dua anak muda itu. Namun, kenapa sulit untuk mengungkapkan perasaan mereka? Hadya bingung dengan yang terjadi.
“Papa berani bertaruh, Lean jauh merindukanmu. Lihatlah dia yang sekarang setelah kamu pergi.” Hadya memperlihatkan foto Lean yang dia ambil dari hasil jepretan anak buahnya.
Caitlyn kaget dan menatap Hadya tidak percaya. “Pa, sungguh dia seperti ini?”
Hadya mengangguk. “Sebenarnya papa tidak tega menutupi ini darinya. Tapi papa pikir lebih baik seperti ini agar dia bisa belajar dari semua yang terjadi. Dia juga butuh waktu untuk menyadari perasaan, bukan?”
Caitlyn hanya diam mendengar ucapan Hadya. Memikirkan Lean yang mencintai dirinya? Sungguh Caitlyn tidak percaya dan tidak berharap meskipun dia menginginkannya.
“Jangan banyak melamun dan memikirkan tentang Lean. Pikirkan saja cucu papa, yah. Papa sangat berharap kamu bisa menjaganya dengan baik.” Tangan Hadya terulur dan mengusap kepala Caitlyn. “Nenek akan sangat bahagia jika tau kamu mengandung cicitnya,” lanjut Hadya.
“Jangan kasih tau yang lain dulu, ya, Pa!” pinta Caitlyn tiba-tiba.
Kening Hadya mengerut. “Kenapa?”
Tidak mungkin Caitlyn memberitahukan yang sebenarnya jika dia takut kehilangan bayinya untuk kali kedua. Biarlah kenangan buruk tiga tahun lalu menjadi rahasianya.
“Nanti saja, Pa. Caitlyn belum siap jika Lean tau. Bukankah papa bilang ingin memberinya pelajaran tadi?” Dia beralasan.
Hadya mengangguk. “Baiklah. Ini sudah hampir larut, kamu harus istirahat. Tidak boleh capek-capek begadang. Papa nginap di hotel dekat sini. Nanti besok pagi papa datang lagi sebelum balik ke kota.”
Hadya bangkit dari duduknya dan melangkah keluar disusul Caitlyn di belakang.
“Jaga dirimu baik-baik dan ingat, kamu sedang mengandung calon penerus keluarga Sanjaya. Kamu tahu itu adalah hal paling berharga bagi kami. Jauh sebelum dia hadir nanti, papa ingin berterima kasih karena sudah bersedia mengandungnya. Papa pergi.”
Caitlyn menatap kepergian pria paruh baya itu dengan perasaan yang campur aduk. Ada senang, ada juga sedih. Dia menunduk dan menatap perutnya yang tampak masih rata.
Andai bukan karena kehadiranmu, apakah keluarga mereka akan menghiraukan aku seperti saat ini?
__ADS_1
...TBC...
...🌻🌻🌻...