Behind The Divorce

Behind The Divorce
Bab 13. Grandma's Request


__ADS_3

Lean berlari cepat keluar dari mobil begitu tiba di rumah. Langkah lebar pria tampan itu membawanya menuju kamar Nenek Sanju. Raut khawatir terlihat jelas di wajah Presdir Sanjaya Grup tersebut.


Saat mendapat panggilan dari sang ayah yang memberitahukan mengenai kesehatan sang Nenek, Lean langsung meninggalkan pengacaranya mengurus sendiri perceraian dirinya dan Caitlyn. Pria tampan itu jauh lebih memperdulikan kondisi neneknya.


Bagaimana tidak, ibu dari ayahnya itulah yang sudah menjaga dan membesarkan Lean ketika ibunya tiada. Nenek Sanju adalah sosok ibu kedua bagi Lean sejak pria itu duduk di bangku SMP kelas 1. Kasih sayang dan perhatian seorang ibu yang dia rindukan, diberikan semuanya oleh Nenek Sanju. Lean beruntung masih memiliki sosok malaikat tak bersayap itu dalam diri sang Nenek.


Sementara itu Sania tidak memiliki arti apa-apa bagi Lean. Wanita itu baru saja menikah dengan ayahnya setelah dua tahun kepergian sang ibu, di mana kala itu Lean sudah duduk di bangku kelas 3 SMP. Panggilan mama yang sering terdengar, hanyalah formalitas belaka. Meskipun begitu, Lean tetap menghormatinya sebagaimana dia menghormati sang ayah. Terlepas dari fakta yang dia ketahui jika karena wanita itulah ibunya sampai jatuh sakit dan meninggal dunia, bahkan keberadaan saudara tirinya pun tidak lantas membuat Lean marah dan bersikap semena-mena. Dia justru bersikap baik dengan menerima kenyataan yang ada.


Tidak perlu heran dan bertanya-tanya. Bukankah dari sikapnya saja sudah menunjukkan bahwa dia benar-benar terlahir dari rahim seorang perempuan yang luar biasa? Hanya saja sikap baik Lean terpatahkan oleh sikap dingin dan angkuhnya pada Caitlyn, bahkan terkadang perlakuan kasar dia perlihatkan pada wanita yang sebentar lagi merubah status menjadi mantan istrinya itu.


Jahat? Tidak juga. Lean hanya mencoba membalas kelicikan Caitlyn yang sudah menjebaknya dalam sebuah drama pernikahan.


“Nenek,” panggil Lean begitu tiba di kamar neneknya.


Mata semua orang yang berada di dalam ruangan itu beralih menatap Lean yang baru saja masuk.


“Lean,” panggil Nenek Sanju dengan begitu pelan dan lemah.


“Iya, Nek. Lean di sini.” Segera mendekat ke arah ranjang sang nenek dan langsung duduk di sampingnya. “Nenek gak usah banyak ngomong dulu, yah. Nenek istirahat aja, Lean akan tetap di sini jagain Nenek,” ucap Lean sambil menggenggam tangan neneknya.


“Lean, di mana Caitlyn?” tanya Nenek Sanju mengabaikan ucapan Lean.


Kening Lean mengerut. Bukannya sudah pulang lebih dulu tadi? “Caitlyn? Caitlyn … mungkin di kamar, Nek. Mau Lean panggilkan?” tanyanya.


“Jangan ceraikan dia, Lean!”


Ucapan Nenek Sanju membuat genggaman Lean pada tangannya tak lagi erat. Pria tampan itu bahkan terdiam dan menunduk. Tanpa melihat pun, Lean tahu bahwa beberapa pasang mata di sana sedang tertuju padanya menunggu jawaban sekalian meminta penjelasan.

__ADS_1


“Kau dengar yang nenek bilang?” Nenek Sanju seolah memaksa.


Lean menarik nafasnya dan mengembuskan dengan berat. “Kenapa nenek harus memikirkan itu, sih? Itu bukan hal penting. Kesehatan Nenek jauh lebih penting sekarang,” ucap Lean membuat Hadya menatapnya dengan tajam.


“Kau sedang tidak mabuk, ‘kan? Asal kau tau nenekmu seperti ini karena memikirkan kalian, Lean. Bisa-bisanya kau bilang itu tidak penting? Kau anggap apa pernikahanmu, hah?” Hadya terbawa emosi dan berbicara dengan nada sedikit meninggi.


Sania yang duduk di samping Hadya tidak jua berinisiatif untuk menenangkan suaminya. Dia justru tersenyum dalam hati sambil menikmati pemandangan saat itu. Sedangkan Lean semakin tertunduk sembari dalam hati mengutuki Caitlyn setengah mati.


Pasti dia yang kasih tau ke mereka. Dasar wanita licik!


“Lean minta maaf, Pa. Tapi ini semua bukan keinginan Lean melainkan keinginan Caitlyn sendiri,” ucap Lean membela diri. Pria itu tetap berbicara dengan nada sopan sebagaimana dia menghargai sang ayah.


Hadya menatap putranya tidak percaya. “Kau menyalahkan istrimu? Hei–”


“Hentikan, Hady!” seru Nenek Sanju terlihat begitu memaksakan diri. “Kalian semua pergilah! Tapi Lean harus kembali bersama Caitlyn untuk menjaga nenek. Pergi dan panggilkan istrimu, Lean!” pinta nenek Sanju dengan paksa.


...***...


Lean masuk dan membanting pintu balkon dengan sangat marah.


“Apa dia tidak pulang dan malah pergi lagi ke tempat sahabatnya itu? Apa-apaan dia?” Arrrgghh!” geramnya penuh kesal.


Tangannya bergerak merogoh ponsel dalam saku jas yang masih melekat di tubuhnya. Lean lalu menghubungi Caitlyn, tetapi panggilannya tidak juga diangkat. Hal yang sama dilakukan pria itu hingga berulang kali, tetap saja tak ada jawaban.


Kekesalan berganti emosi yang bahkan kini semakin naik ke ubun-ubun, meluap hingga menghasilkan bunyi yang begitu keras. Pintu kaca menuju balkon kamarnya pecah dan berserakan. Lean melemparkan ponselnya dengan sepenuh tenaga ke arah sana.


“Berani-beraninya dia. Apa aku tidak cukup kasar selama ini?” Nafas Lean naik-turun tak beraturan. “Baiklah, kalo memang itu yang kau mau. Kau akan melihat kemarahanku yang sesungguhnya, wanita licik.”

__ADS_1


Lean membuka jasnya dan melemparkan ke sembarang arah, lalu berjalan ke luar dengan langkah cepat meninggalkan kamar dalam kondisi yang kacau berantakan.


...***...


Sementara itu di apartemen Saskia, Caitlyn sudah tersadar dari pingsannya. Wanita itu kini duduk dengan kepala yang masih sama pusing. Caitlyn ingin melanjutkan istirahat saja, tetapi Saskia dan Nathan memaksanya untuk melakukan pemeriksaan di rumah sakit.


“Gak usah, Ki. Gue baik-baik saja, cuman butuh istirahat kayaknya. Iya, ‘kan, Nath?” tanya Caitlyn pada Nathan.


“Gak bisa, Ly. Lu itu harus melakukan pemeriksaan di rumah sakit biar lebih meyakinkan.” Saskia tidak juga menyerah.


Caitlyn dengan malas menoleh pada Nathan. “Bilang dengan jujur sebenarnya gue kenapa? Kenapa harus ke rumah sakit?” tanya Caitlyn tetapi Nathan diam saja. “Nath,” panggil Caitlyn dengan begitu lembut.


“Gak kenapa-kenapa, Ly. Tapi kita ke rumah sakit aja, yah. Jawaban selanjutnya bakal terjawab semua di sana. Okay?” Akhirnya Nathan pun bersuara.


“Gak bisa besok? Gue pusing banget.” Masih mencoba melakukan penawaran.


“Gada tawar-menawar. Ayo, ke rumah sakit sekarang. Masalah pusing, ‘kan, ada Nathan yang bisa bantu,” putus Saskia.


Caitlyn mendengus kesal tetapi menurut juga pada akhirnya. Ketiganya lalu bergegas keluar dengan Nathan yang membantu memapah Caitlyn. Sesampainya di bawah, Nathan meminta Saskia untuk menemani Caitlyn berdiri di depan sana, sementara dirinya mengambil mobil sebentar.


Tidak berapa lama Nathan pun datang dan dia langsung keluar dari mobil dengan sedikit terburu-buru karena takut membuat Caitlyn kelelahan menunggu. Dia pun kembali memapah Caitlyn ke dalam mobil disusul Saskia dari belakang.


Pada saat yang bersamaan, mobil Lean memasuki area apartemen dan pemandangan itu pun tidak lolos dari pandangannya.


“Breng*sek!”


...TBC...

__ADS_1


...🌻🌻🌻...


__ADS_2