
Jarum jam berputar cepat tak mau tahu, waktu kini menunjukkan pukul 11.35 AM. Lean sudah berdiri di depan pintu apartemen Saskia. Entah sudah berapa puluh kali dia membunyikan bel di sana, tetapi tidak ada jawaban sama sekali yang dia dapat. Lean belum juga menyerah dan dia mencoba beberapa kali lagi hingga jarum jam berada tepat pada angka 12.
Tidak ingin beranggapan sendiri yang belum tentu benar, Lean lantas berdiri beberapa saat di sana menunggu sesuatu yang bisa dia dapat. Kebetulan tidak lama setelah itu, pintu apartemen di seberang unit apartemen Saskia terbuka dan seorang laki-laki muda keluar dari sana. Dari wajahnya saja terlihat jelas jika usianya jauh di bawah Lean, kira-kira 19 tahun.
Secepat kilat Lean menghampiri orang itu dan menanyakan keberadaan tetangga kamarnya.
“Oh, kurang tau, Kak.”
Pemuda itu menjawab asal dan hendak berlalu karena dia tampak terburu-buru. Namun, sedetik kemudian dia berbalik dan menatap Lean seolah ingin memastikan sesuatu. Detik berikutnya mata pemuda itu membola dengan mulut menganga dan tidak percaya.
Dia lantas menunduk berulang kali dan meminta maaf pada Lean. “Maaf, Tuan. Maafkan saya yang sudah tidak sopan. Sekali lagi maaf.”
Saat mengenali siapa orang yang berdiri di depannya saat itu, sang pemuda yang tadinya terlihat tak acuh, kini begitu segan bahkan mengangkat wajahnya saja tidak.
“Oh, tidak apa-apa. Kau tidak membuat kesalahan dan tidak perlu meminta maaf.” Lean menepuk pundak pemuda yang ternyata seorang mahasiswa itu. “Saya hanya ingin mengetahui pemilik tempat tingga di sebelah. Sungguh kau tidak melihatnya?” tanya Lean sekali lagi.
“Maksud Tuan, Kak Kia?” tanya balik pemuda itu dan Lean mengangguk. “Kayaknya semalam Kak Kia dan temannya tidak pulang, Tuan. Terakhir yang saya liat, mereka pergi kemarin sore, Tuan.” Dia berbicara sambil menunduk.
“Apa kau tahu mereka ke mana?” Lean belum puas dengan jawaban yang dia dapatkan.
Pemuda itu menggeleng. “Maaf, tapi kalo itu saya tidak tau, Tuan.”
__ADS_1
Lean mengangguk kemudian dia berpikir sejenak. “Apa kau bisa menolong saya? Akan saya berikan uang berapapun yang kau mau.”
Pemuda itu refleks mengangkat pandangannya sembari menggoyang-goyangkan kedua tangan di depan dada.
“Tidak, Tuan! Tidak perlu berikan uang padaku. Uang keluargaku juga masih cukup banyak. Tapi kalau boleh meminta sesuatu dari Anda, saya hanya mau meminta tanda tangan Anda, Tuan. Apakah saya bisa mendapatkannya?” Ucapan anak muda itu membuat kening Lean mengerut.
“Tapi saya bukan artis,” jawab Lean datar.
“Tapi saya mengidolakan Anda, Tuan. Saya ingin menjadi seperti Anda di kemudian hari.” Jawabannya membuat Lean terdiam beberapa saat.
Apa yang bagus dengan menjadi sepertiku? Tidak pernah ada wanita yang benar-benar mencintaiku dengan tulus.
“Apa boleh saya mendapat tanda tangan Anda?” lanjut pemuda itu bertanya sekali lagi.
“Sekarang apa yang harus saya lakukan, Tuan?” tanyanya bersemangat lengkap full senyum. Kalia ini dia mulai berani menatap Lean.
Lean menyodorkan sebuah kartu nama padanya. “Ini kartu nama saya dan sudah ada nomor telepon di dalamnya. Tolong hubungi nomor itu jika kau melihat pemilik apartemen ini kembali. Bisa, ‘kan?”
Pemuda itu mengangguk beberapa kali. “Tentu saja bisa, Tuan. Siap laksanakan tugas dari, Anda. Dan terima kasih untuk tanda tangannya. Saya permisi duluan ya, Tuan. Sudah terlambat ke kampus.”
Dia menunduk memberi hormat pada Lean dan segera berlalu dari sana, kemudian disusul Lean yang berjalan santai di belakangnya. No, bukan santai tetapi lambat dan tidak bersemangat karena tidak berhasil menemukan Caitlyn.
__ADS_1
“Apa yang akan aku katakan untuk nenek?” Menendang udara seperti orang bodoh.
Dari apartemen Saskia, Lean kembali ke kantor untuk menghadiri meeting jam 2 nanti. Hari ini sungguh berat bagi Lean menjalaninya.
...***...
Waktu saling berkejaran dan berlomba meninggalkan hari, sang gulita kembali menyapa bumi. Dalam kamar pribadi yang tersembunyi di ruang kerja miliknya, Lean tengah berdiri menghadap kaca besar yang transparan dan memperlihatkan pemandangan kota saat malam.
Hatinya ingin kembali ke rumah, tetapi dia takut karena tidak memiliki jawaban untuk menemui neneknya. Selain daripada itu, Lean juga tidak ingin mengingat pertengkaran kemarin. Pria berwajah tampan itu menatap layar ponsel yang sedari tadi berada dalam genggamannya.
Dia sedikit gelisah karena belum mendapat kabar dari pemuda yang menjadi tetangga kamar Saskia. Lean sendiri sudah dari pagi tadi mencoba menghubungi Caitlyn, tetapi nomor wanita itu tidak dapat dihubungi.
Jenuh menunggu kabar dari pemuda yang dia temui tadi, Lean akhirnya melempar ponsel ke ranjang besar di dalam kamar tersebut dan dia pun ikut menghempaskan diri di sana. Baru hendak memejamkan mata, bunyi notifikasi yang masuk membuat Lean pun bangkit. Detik berikutnya dia berdiri meraih kunci mobil dan berlari kecil keluar dari sana.
Dua puluh menit kemudian, dia tiba di apartemen Saskia. Lean keluar dari mobil dengan masih tetap berlari kecil menuju unit apartemen sahabat dari wanita yang membuatnya kacau balau sejak kemarin.
Tangannya memencet bel apartemen itu dengan tidak sabaran. Tidak lama kemudian Saskia keluar dan keduanya saling menatap sengit.
“Di mana Caitlyn?”
...TBC...
__ADS_1
...🌻🌻🌻...