Behind The Divorce

Behind The Divorce
Bab 50. All Because of Sania


__ADS_3

Sesuai perintah sang ayah, Lean duduk dengan tenang memasang wajah datar, tetapi telinganya memastikan semua yang akan didengarnya jelas.


“Kalau saja otakmu dapat berpikir dengan baik, kamu bisa langsung tau jika Caitlyn sudah mengandung sebelum kalian berpisah. Sebelum dia pindah ke tempat tinggalnya di kota kecil itu, dia sementara mangandung anakmu, Lean.” Hadya memulai penjelasannya.


“Pa, tapi laki-laki itu sendiri mengaku sama Lean kalau itu–”


“Diam. Papa belum selesai bicara,” tegur Hadya dengan suara pelan tanpa emosi sama sekali dan Lean pun menurut.


“Sebelum dia memutuskan untuk pergi jauh hari itu, dia dan Saskia lebih dulu mendatangi rumah sakit dan melakukan pemeriksaan dengan dokter obgyn. Sebenarnya, hari di mana kau membuat keributan di depan gedung apartemen tempat tinggal Saskia, hari itu Saskia dan Nathan ingin membawa Caitlyn ke rumah sakit untuk pemeriksaan, bukan dia ingin berduaan dengan istrimu,” lanjut Hadya lagi.


“Kita tidak tahu, Pa–”

__ADS_1


“Kamu saja yang tidak tau, Lean. Papa tahu!” potong Hadya dengan cepat, tidak memberi kesempatan pada Lean untuk mengungkapkan pendapatnya yang tidak masuk akal.


“Apa kamu lupa jika Nathan baru saja kembali dari luar negeri untuk mengambil spesialis bedah umum? Hari itu mereka baru lagi bertemu dan istrimu tiba-tiba pingsan di sana. Kebetulan ada Nathan dan dia periksalah istrimu. Sebagai dokter dia tahu ada tanda-tanda kehamilan. Dia sarankanlah ke rumah sakit. Tapi kau datang dan mengacaukan segalanya.” Hadya menatap kesal putranya itu.


“Lalu kenapa si breng*sek itu mengaku kalau itu anaknya? Dia bahkan minta Lean buat sadar diri, apa itu kalau bukan anaknya, Pa?” Lean mengacak rambutnya dengan frustasi.


Hadya menggeleng-gelengkan kepalanya. “Dan kamu percaya begitu saja? Apa pantas papa menyebutmu bo*doh? Kau mempercayai orang lain lebih daripada istrimu sendiri? 1x24 jam, orang-orang papa menjaga dan memantau kehidupan Caitlyn di sana. Dan tidak ada satu orang pria pun yang pernah ke sana. Hari itu Nathan baru saja datang dan bertamu dari pagi hingga malam, dan kau muncul membuat keributan. Kau tahu apa yang dia lakukan? Memasak untuk istrimu, menghibur dia, membuatnya tertawa, karena Nathan memahami jika wanita hamil tidak boleh stress dan harus selalu bahagia. Tapi kau malah muncul membuat putriku stress. Kalau saja sampai terjadi sesuatu dengan kandungannya, papa akan buat perhitungan sama kamu!” ancaman di akhir kalimatnya.


“Apa lagi yang kamu ragukan, Lean? Setiap detik papa memantau aktivitas kalian. Dan papa tidak pernah mendapat laporan jika istrimu berbuat hal kurang ajar di luar sana, atau mengkhianati kamu di belakang. Tidak pernah, Lean. Kenapa kau tidak bisa melihat cinta di matanya? Caitlyn sangat mencintai kamu, Lean. Bukan Nathan atau pria lainnya.” Nada bicara Hadya masih tetap stabil dan tenang dalam menyadarkan putranya itu.


“Tapi papa lupa jika dia yang menjebak Lean untuk menikah, dan juga dia yang meminta cerai, Pa. Dia … dia itu wanita licik, yang dia inginkan hanya uang, Pa. Hanya harta.” Lean berucap sembari mengusap wajahnya kasar.

__ADS_1


“Dia bukan wanita materialistis seperti yang kau kira, Lean. Dia juga tidak serendah itu untuk menjebakmu. Dia dipaksa untuk melakukan semuanya, kenapa kau tidak bisa melihat ketulusan dan kebaikannya, Lean?” Hadya tidak habis pikir dengan kerasnya hati sang putra.


Sebenarnya Hadya tidak ingin Lean mengetahui kebusukan ibu tirinya–Sania. Hadya tidak ingin sampai Lean membencinya. Hubungan yang sudah kaku dan rentan selama ini biarlah seperti itu tanpa perlu ada gebrakan yang lebih menghancurkan lagi. Namun, hari ini Hadya sudah siap untuk menerobos niatnya sendiri. Membuka ikatan rumit yang membelenggu dirinya bahkan keluarganya. Menutupi permainan Sania, ibarat menceburkan diri dalam lautan tuba. Hadya tidak ingin lagi terus mempertahankan niat baiknya yang hampir menenggelamkan kehidupannya berkali-kali.


“Dia tidak pernah menunjukkan itu, Pa. Bagaimana Lean bisa tau? Terus apa tadi Papa bilang? Dia dipaksa? Dipaksa sama siapa? Lean masih ingat jelas dia melakukan itu dengan sadar, Pa. Dia sadar, dia yang mendramatisir semuanya!” seru Lean marah.


“Sania yang menekannya! Sania yang memaksa dia melakukan semuanya! Dia hanya budak di bawah kendali Sania! Semua kerumitan ini karena Sania!” teriak Hadya tidak lagi tahan.


“Mama …?”


...TBC ...

__ADS_1


...🌻🌻🌻...


__ADS_2