
Lean masuk ke kamar dan memporak-porandakan seisi ruangan itu. Apa pun yang ada di hadapannya, dia hancurkan sesuka hati. Itu pun tidak dapat mengurangi rasa sakit hatinya karena luka yang ditorehkan sang ayah dan juga Caitlyn.
Tidak terhitung lagi berapa banyak benda-benda yang rusak, pecah, dan berserakan di dalam kamar itu. Tentu saja Lean tidak peduli. Kegilaannya terjeda saat dering ponsel terdengar.
Awalnya Lean tidak ingin mengambil dan tidak ingin melihat panggilan dari siapa pun itu. Akan tetapi dering yang terus berbunyi, mendorongnya untuk memastikan telepon dari siapa sebenarnya.
Dia merogoh ponsel dalam saku celananya dan mendapati sebuah pesan gambar dari nomor tidak dikenal. Darah Lean kembali mendidih begitu melihat isi pesan tersebut. Hampir saja dia membanting ponselnya, tetapi benda pipih persegi itu kembali berdering dengan panggilan dari nomor yang sama, menahan aksi Lean sejenak.
Tidak menunggu lama dia langsung menggeser ikon berwarna hijau pada layar dan menerima panggilan tersebut.
📲 “Baji*ngan! Apa maksudmu dengan mengirim foto itu, hah?”
Terdengar gelak tawa di ujung telepon membuat Lean ingin sekali menghajarnya.
📲 “Hanya ingin menyadarkan dan mengingatkan posisimu sekarang, bang. Jadi sudah jelas di sini bahwa siapa yang harus mundur dan siapa yang lebih pantas di sampingnya.”
Suara tenang penuh percaya diri seolah meremehkan seorang Lean.
📲 “Breng*sek! Berhenti menghubungiku. Dan aku sarankan untuk jangan pernah muncul di hadapanku jika kau masih ingin hidup.”
📲 “Tenang saja, bang. Tujuanku hanya ingin bersama dan memiliki istrimu bukan ingin bertemu denganmu.
Lean langsung memutuskan panggilan telepon karena panas yang masuk melalui telinga, menjalar hingga ke hatinya. Saking panasnya, Lean pun membanting ponselnya dengan sekuat tenaga.
"Arrrggghhh! Breng*sek!” Lean berteriak sambil menjambak rambutnya dengan frustasi.
__ADS_1
Masih dengan panas hati, Lean melangkah ke arah kamar mandi lalu menyalakan shower. Dia kemudian berdiri di bawah guyuran air itu dengan posisi wajah yang menengadah dan kedua tangan yang menopang pada dinding.
Saat Lean memejamkan matanya, bayangan dua orang yang tersenyum cerah pada foto yang sengaja dikirimkan oleh Nathan tadi berkelebat dalam pikirannya.
“Baji*ngan! Kalian pengkhianat, breng*sek!”
Lean berteriak dengan kencang sambil memukul-mukul dinding di hadapannya. Di bawah guyuran air seperti ini, Lean bebas menangis karena tidak akan ada yang melihat, bahkan mendengar. Kalaupun ada, tidak mungkin dapat membedakan mana tangis dan mana derai air shower.
“Aku membencimu … sangat-sangat membencimu … tapi aku juga jauh mencintaimu lebih dari itu, breng*sek! Kenapa kau mengkhianati aku? Kenapa?”
Lagi dan lagi Lean memukul dinding di hadapannya hingga punggung tangannya mengeluarkan darah segar yang kini mengucur ke lantai. Kurang lebih dua jam, Lean menenangkan dirinya di bawah terpaan air dingin.
Pria itu keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju walk in closet lalu mengganti pakaiannya. Waktu kini menunjukkan pukul 10.00 PM. Lean meraih kunci mobil dan bergegas keluar kamar. Saat membuka pintu, Lean terdiam sejenak di tempatnya begitu melihat sang ayah yang juga tengah berdiri di hadapannya.
Selama di kamar mandi, Lean tidak tahu saja bahwa pria paruh baya itu sudah menunggunya sedari tadi.
“Aku bukan putramu. Aku hanya anak ibuku yang sudah tiada.”
Setelah memotong perkataan ayahnya, Lean lantas hendak pergi dari sana, tetapi Hadya kembali menahannya.
“Kamu boleh marah sama papa. Papa terima itu, Lean. Tapi kamu harus tau bahwa yang di dalam kandungan Caitlyn it–”
“Jangan menyebut namanya lagi. Aku tidak ingin mendengar tentangnya dan tidak ingin mengenalnya lagi.
Lagi-lagi Lean menghentikan ucapannya dan melangkah pergi dari sana. Tidak tinggal diam, Hadya pun mengejarnya.
__ADS_1
“Lean, tunggu! Kamu hanya salah paham saja, Nak. Jangan kekanakan seperti ini! Dengarkan papa, Lean.” Hadya terus berbicara di belakangnya, tetapi Lean tidak menggubris sedikit pun.
“Janin di kandungan Caitlyn itu adalah anak kamu, Lean. Darah daging kamu!”
Langkah Lean terhenti, tetapi tidak berbalik. Hadya yang melihat itu merasa memiliki kesempatan untuk menjelaskan lagi.
“Kamu tidak bertanya padanya tentang berapa usia kandungannya sekarang. Harusnya kamu lakukan itu sebelum marah dan menuduh tanpa tau yang sebenarnya. Tuduhan kamu sungguh membuatnya terluka, Lean.” Hadya menekan setiap kata-katanya dengan nada rendah.
Lean tidak berniat membalas, bahkan mengatakan apapun untuk membenarkan, ataupun menyalahkan ucapan ayahnya. Dia pun tidak ingin membenarkan diri dengan semua itu. Kembali dia melangkahkan kakinya dan berlalu dari sana.
Teriakan dan ucapan-ucapan Hadya tidak lagi berkuasa untuk menahannya.
“Percaya sama papa, Nak. Jangan sampai kamu menyesali ini suatu hari nanti! Papa sudah memberitahukanmu serta memperingatkan kamu lebih dulu,” ucap Hadya saat Lean sudah masuk ke dalam mobil dan bersiap menjalankannya.
Mengacuhkan semua omongan sang ayah, Lean menarik pedal gas dan melaju keluar, pada waktu hampir larut saat itu. Kepergian Lean, meninggalkan setumpuk kecemasan dan kekhawatiran bagi Hadya. Perasaan pria paruh baya itu mendadak tidak enak.
Apa yang akan dia lakukan?
Hadya segera menghubungi anak buahnya untuk mengikuti ke mana Lean pergi saat itu. Belum sampai lima menit, Hadya mendapat kabar jika sang putra melajukan mobilnya menuju Garden Blue–tempat di mana dia bertemu Caitlyn tiga tahun lalu.
Hadya tidak ingin berdiam diri, dia pun segera menyusul ke mana putranya pergi. Hadya sungguh sangat khawatir saat ini.
“Jangan sampai dia melakukan kesalahan. Tolong aku untuk menghentikannya, Jeanice!”
...TBC...
__ADS_1
...🌻🌻🌻...