Behind The Divorce

Behind The Divorce
Bab 118. Perasaan Aneh dan Jawabannya


__ADS_3

Mobil yang dikendarai oleh Jerry akhirnya tiba di sebuah gedung yang digunakan oleh keluarga Vargas dalam menggelar acara malam itu.


Lean tidak perlu untuk menunggu Jerry membukakan pintu bagi mereka. Begitu mobil telah terparkir dengan sempurna, dia pun bergegas keluar lalu mengitari mobil mencapai pintu sebelah. Dia kemudian membuka pintu dan meraih jemari halus istrinya, membimbingnya turun dari mobil dengan begitu lembut dan hati-hati.


Well, perkara mandi, berganti, berdandan, berdebat, bahkan mengganti baju untuk kedua kalinya, membuat pasangan suami-istri itu akhirnya datang terlambat.


“Gak usah buru-buru juga, Sayang. Santai aja jalannya.” Lean menegur istrinya yang seolah tengah mempercepat langkahnya.


Caitlyn mendengus. “Santai, santai, gak enak datang telat. Gara-gara kamu waktu terbuang dengan harus ganti baju lagi.” Membalas ucapan suaminya dengan ketus.


Lean terkikik karena gemas dengan istrinya. “Kita bukan lagi mau ikut meeting dengan dewan direksi, Sayang. Ini hanya acara keluarga yang tidak mengharuskan kita untuk datang on time, Cintaku. Be calm,” ucap Lean dengan suara rendah setengah berbisik.


“Sama aja,” sahut Caitlyn masih ketus.


Saat ini ketiganya tengah melangkah menuju ballroom, di mana acara tersebut dilangsungkan. Lean menggamit mesra tangan sang istri yang melingkar pada lengannya.


Beberapa langkah tersisa untuk mencapai pintu ruangan yang dimaksud, Lean berhenti sejenak. Caitlyn menoleh dan menyorot suaminya dengan raut bertanya-tanya.


“Sayang, aku rasa mungkin kamu akan sedikit terkejut sebentar lagi di dalam sana. Karena itu aku minta, siapkan hati dan jangan pernah menunduk apalagi terintimidasi oleh keadaan. Tegakkan kepalamu dan ingatlah bahwa aku selalu ada di sampingmu. Okay?” Lean menatap istrinya dan menghujani mata hazel itu dengan segala cinta yang dia miliki.


Caitlyn terbengong mendengar pesan yang diucapkan Lean. Dia belum bisa untuk mencerna semuanya dan belum sempat untuk bertanya, pria tampan dalam balutan jas hitam yang elegan itu kembali membimbing langkah keduanya memasuki ballroom.


Mewah! Satu kata untuk menggambarkan suasana dalam ruangan yang telah dipadati manusia saat itu. Lean melepaskan tangan istrinya lalu beralih meraih pinggang ramping itu dan melingkarkan tangannya di sana dengan posesif.


Benar seperti yang sudah dia perkirakan sebelumnya. Kehadiran mereka menjadi sorotan. Semua mata kini tertuju pada mereka, tetapi Lean sangat yakin jika pandangan itu lebih ditujukan pada wanita cantik yang berjalan anggun di sampingnya. Terbaca dari banyaknya pandangan kagum, serta beberapa tatapan penasaran para pebisnis yang sudah pasti belum mengenal Caitlyn.


“Selamat malam, Tuan Sanjaya dan ....”


Tiba-tiba seorang pria setengah baya datang menghampiri mereka dan hendak menyapa keduanya. Namun, saat ingin menyapa Caitlyn, pria yang diduga usianya hampir sama dengan Papa Hadya itu, mendadak terpaku dan tidak dapat meneruskan kata-katanya.


Lean berdehem seolah ingin menyadarkan pria tersebut agar tidak berlama-lama menatap wajah cantik istrinya. Meskipun, sebenarnya hatinya sedang merasa puas karena dia mengenali raut terkejut pria di hadapannya. Namun, tetap saja Lean rasa cemburu Lean lebih besar. Jangan! Jangan ada yang boleh menatap istrinya berlama-lama.


“Tuan Vargas, Anda baik-baik saja?” tanya Lean dengan sengaja walaupun dia cukup tahu apa yang terjadi dengan pria itu. “Tuan Vargas!” panggil Lean dengan nada sedikit meninggi karena pria setengah baya itu tak kunjung sadar.


Ya, orang yang langsung menghampiri mereka saat itu adalah Tuan Vargas sendiri. Melihat sosok Lean di ambang pintu, pria itu lantas meninggalkan obrolannya bersama para kolega lainnya. Lean adalah salah satu dari tamu kehormatannya. Maka dari itu dia sendiri yang langsung menghampiri pemimpin SG tersebut.


“Oh, ya ... Anda menanyakan sesuatu, Tuan Sanjaya?” tanya Tuan Vargas sedikit tidak fokus.


Lean tersenyum kecil. “Ya, saya rasa sepertinya Anda sedang kurang fokus, Tuan Vargas.”


“Oh, itu ... maaf, tapi jujur saya terlalu terpesona melihat wanita cantik di samping Anda,” ucap Tuan Vargas dengan gamblang.

__ADS_1


Oh, sh*it!


Lean terkekeh di antara rahang yang mengeras. Tangannya makin mencengkram pinggang Caitlyn dengan posesif. Dia harus menahan hati dan mematahkan kecemburuannya untuk tidak emosi saat mendengar pujian pria lain pada istrinya. Terlebih dia harus memaklumi karena pria itu adalah ayah kandung sang istri.


Sabar, Lean. Ini baru ayahnya, belum yang lain. Hold on, Lean ....


“Perkenalkan, Tuan Vargas, ini istri saya!” Singkat, padat, dan tidak peduli. Dia menatap istirnya sejenak dengan tetapan lembut. “Sayang, ini Tuan Vargas, klien baru yang baru bekerjasama dengan Sanjaya Grup baru-baru ini,” jelas Lean.


Tuan Vargas langsung mengulurkan tangannya tanpa canggung. “William Vargas. Senang bertemu dengan Anda, Nyonya Sanjaya.”


Caitlyn menatap sejenak ke arah Lean meminta persetujuan lewat sorot matanya karena cengkraman pada pinggangnya, mengirimkan signal tidak baik dari suaminya bagi bumil cantik itu. Begitu mendapat senyum kecil dan terkesan terpaksa, Caitlyn pun menyambut tangan pria setengah baya di hadapannya.


“Caitlyn Sanjaya. Senang bertemu denganmu juga, Tuan Vargas,” ucap Caitlyn dengan senyum kecil yang menawan.


Tidak ingin membuat suaminya meradang, wanita itu cepat-cepat melepaskan tangannya dengan sedikit memaksa dari cengkraman Tuan Vargas. Dapat dia rasakan pegangan pria setengah baya itu menguat, tetapi anehnya dia justru tidak marah dan tidak merasa risih sama sekali.


Pegangan pria paruh baya itu memberi Caitlyn sedikit rasa yang berbeda saat melakukan kontak fisik dengan pria lain selain suaminya.


Aneh .... batin Caitlyn.


“Caitlyn?” Kening Tuan Vargas mengerut seraya mengucapkan nama itu kembali. Ditatapnya mata hazel wanita cantik di hadapannya.


Kenapa bisa sama? Ah, nama itu, ‘kan, banyak.


Tuan Vargas sedikit tersentak dari lamunannya. “Ah, tidak. Saya hanya terkejut mendengar nama istri Anda, Tuan Sanjaya.” Sekali lagi pria itu menatap Caitlyn dan kemudian berpamitan dari sana. “Em, silahkan menikmati acara ini, Tuan Sanjaya. Saya permisi ke sana sebentar,” imbuhnya dan berlalu pergi.


Satu sudut bibir Lean terangkat merasa puas karena berhasil memercik keraguan pada Tuan Vargas. Meskipun kepuasan itu harus berperang dan saling berlomba dengan kecemburuan yang sama mendominasi.


Ini baru awal. Kita lihat sejauh mana kamu mampu bertahan di balik indentitas palsumu itu, Cecilia.


Lean lalu menuntun Caitlyn menuju tempat duduk yang sudah di siapkan pada barisan paling depan. Tidak lama kemudian pemandu acara membunyikan mic dari arah depan mengundang seluruh atensi.


“Selamat malam para tamu undangan yang terhormat. Mohon perhatiannya sejenak karena pada kesempatan ini, ada hal penting yang ingin disampaikan oleh Tuan dan Nyonya Vargas.” Pemandu itu menoleh pada pasangan paruh baya di sana. “Silahkan, Tuan dan Nyonya Vargas.”


Nyonya tersenyum dan menerima mic yang disodorkan kepadanya. Raut wajahnya sungguh memancarkan kebahagiaan, berbanding terbalik dengan Tuan Vargas yang sedari tadi tidak lepas memandangi Caitlyn dari atas sana dengan tetapan gelisah.


“Pertama-tama saya dan keluarga mengucapkan terima kasih karena sudah berkenan hadir dalam acara keluarga kami malam ini. Dan di kesempatan ini juga, saya ingin memperkenalkan seseorang kepada kalian semua. Seseorang yang sudah lama terpisah dari hidup saya dan keluarga, dan kami baru menemukannya kembali karena itu, kami ingin membagi suka cita ini bersama.”


Nyonya Vargas menjeda lalu memiringkan kepalanya memanggil seseorang yang tengah berdiri di ujung stage, yang gesturnya sedikit tertutupi oleh tirai.


“Sayang, kemarilah!” panggilnya dengan lembut.

__ADS_1


Semua mata kemudian tertuju pada satu sosok yang melangkah pelan menuju ke tempat di mana Tuan dan Nyonya Vargas berdiri. Begitu seluruh tubuhnya terlihat, justru Caitlyn yang dibuat terperangah.


“Cecilia?” ucapnya pelan, kemudian tiba-tiba mencengkram lengan Lean dengan kuat.


Lean tidak kaget karena dia tahu ini bakal terjadi.Dia membiarkan Caitlyn dengan keterkejutannya.


“Sayang, itu dia–”


“Ini adalah Caitlyn Vargas, putri kami yang hilang tujuh belas tahun yang lalu,” ucap Nyonya Vargas dengan setitik air mata yang rebas.


Riuh tepuk tangan para tamu undangan seketika membuat keluarga Vargas begitu haru biru. Berbeda lagi dengan ekspresi Caitlyn saat ini. Wanita hamil itu semakin terkejut dan mendadak pusing.


Menangkap gelagat lain dari istrinya, Lean langsung menggenggam erat jemarinya dengan satu tangan, dan tangan yang lain mengelus punggung wanita itu.


“Tenanglah, Sayang. Ingat kata-kataku tadi, hm,” ucap Lean dengan lembut.


“Al, jadi mereka ... mereka ....” Caitlyn tidak mampu meneruskan kata-katanya.


“Iya, Sayang. Mereka keluargamu.” Lean mengakui semua itu.


“Lalu Cecilia dan Tante Sani memanipulasi ini semua? Dan kamu tau segalanya, Al?”


Lean mengelus punggung istrinya itu dan memberikan kecupan singkat di kepalanya.


“Iya, Sayang. Aku tahu. Maka dari itu aku membawamu kemari supaya kamu tahu segalanya tanpa perlu aku jelaskan panjang lebar.” Lean menjeda. “Dan bukan hanya itu, aku juga ingin menujukkan kamu pada mereka dan melihat seberapa kuatnya ikatan batin di antara kalian. Kamu ingat eskpresi Tuan Vargas tadi?” tanya Lean dan Caitlyn mengangguk.


Ah, jadi ini jawabannya. Pantas saja aku nyaman dengan genggaman tangan itu. Ternyata dia ...


Untuk sesaat wanita cantik itu mencoba meredam gejolak di hatinya. Berulang kali dia menghirup oksigen sebanyak mungkin dan melepaskan dengan embusan kasar.


Tiba-tiba saja dia tersenyum dan langsung bangkit dari duduknya membuat Lean tersentak.


“Kenapa, Sayang?” tanya Lean.


“Bolehkah aku ke atas situ dan memberikan selamat pada mereka, Sayang?” Caitlyn balik bertanya dengan senyum mempesona. Namun, percayalah, hatinya sedang tidak baik-baik saja. Dunianya seolah jumpalitan saat ini.


“Of course, Sayangku!”


Dengan senyuman yang tidak kalah mempesona dari istrinya, Lean bangkit menggandeng tangan Caitlyn dan menuju stage.


...TBC...

__ADS_1


...🌻🌻🌻...


__ADS_2