
Mobil yang ditumpangi Hadya melesat membelah jalanan ibu kota menuju ke rumah sakit, di mana putra dan putrinya menginap semalam. Kali ini dia tidak berkendara sendiri, tetapi dirinya meminta Aidam untuk mengantarnya. Oleh karena itu, asisten setianya itu sudah ada di kediaman Sanjaya pagi-pagi benar.
Sepuluh menit kemudian, mobil yang dikendarai Aidam akhirnya tiba di rumah sakit. Hadya melihat jam di pergelangan tangannya sudah pukul 08 pagi. Pria itu mempercepat langkah lebarnya supaya cepat sampai ke ruang perawatan Caitlyn.
Dia sudah tidak sabar untuk membawa keduanya kembali ke rumah dan memberi kejutan pada ibunya. Namun, dari jauh langkah Hadya melambat kala melihat semua keluarga Vargas sudah tiba lebih dulu dan berdiri di depan pintu ruang rawat Caitlyn.
“Kenapa mereka hanya berdiri di luar saja? Apa yang telah terjadi?” Entah dia bertanya pada siapa.
Mengusir pikiran-pikiran buruk yang bermain di kepalanya, Hadya kembali mempercepat langkah. Setiba di sana dia langsung memberondong keluarga yang menjadi besannya itu dengan tanya.
“Ah, selamat pagi, Tuan Sanjaya. Tidak, tidak ada apa-apa yang terjadi. Hanya saja ....” William sengaja menggantung kalimatnya.
Tidak sabar dan tidak ingin mati penasaran, Hadya langsung membuka pintu dan ruang rawat Caitlyn dan menerobos masuk. Namun, tidak sampai 2 detik pria itu memundurkan langkahnya, lalu keluar sambil kembali menutup pintu.
“Oh, itu ... ah, mereka memang begitu. Maaf,” ucap Hadya sedikit kikuk.
“Ya, itu dia yang kami maksud, Tuan Sanjaya. Daripada mengganggu, kami memilih tetap di sini saja.” William kembali berucap.
“Em, bagaimana kalau kita ngopi sebentar di kantin?” tawar Dokter Vargas. “Sekalian saya ingin memeriksa pasien terlebih dahulu. Nanti setelah itu saya menyusul lagi.”
Semuanya mengangguk dan setuju. Sama-sama mereka menuju kantin dan mengobrol ringan di sana sambil menunggu pasangan yang masih terlelap di ruang rawat sana bangun.
Ya, tadi mereka hendak masuk, tetapi melihat pasangan itu yang tidur sambil berpelukan membuat mereka pun tidak ingin mengganggu momen romantis itu. Apalagi pemandangan itu semakin tak nyaman karena melihat Lean yang tidur sambil bertelanjang dada, sementara Caitlyn tampak sangat nyaman tidur bersandar di atasnya.
Ingin menunggu pada sofa yang tersedia dalam ruangan itu, rasanya tidak sopan juga. Dan di sinilah keluarga itu sekarang.
“Em, saya sudah pesankan kopinya, Tuan. Ditunggu saja karena saya ingin memeriksa pasien lebih dulu.” Dokter Vargas berkata pada Hadya. Dia lalu beralih pada ayah dan ibunya. “Mom, Dad, aku tinggal sebentar, yah,” lanjutnya dan langsung beranjak pergi.
...***...
__ADS_1
Sementara itu di tempat lain tepatnya di apartemen Saskia. Pagi-pagi sekali seseorang dengan usil mengganggu mimpi indahnya. Tidak perlu dengan melihat, Saskia sudah tahu persis bahwa siapa yang sedang membunyikan bel apartemennya itu.
Dengan kesal wanita itu bangkit dari ranjangnya dan berjalan cepat keluar kamar menuju pintu depan.
“Bocah sin*ting! Mau apa lu, hah? Orang tua lu siapa, sih? Gak bisa ngajarin anaknya sopan santun apa? Oh, yah, nanti gue bisa panggil papa sama mama gue buat ngajarin lu tentang sopan santun dan tata krama!” semprot Saskia begitu pintu dibuka.
Bocah yang dimaksud itu justru menyambutnya dengan senyum merekah.
“Good morning, Mbak pacar. Pagi-pagi itu tidak boleh marah-marah nanti cantiknya cepat hilang.” Langsung menyelonong masuk tanpa izin. “Apalagi menyambut pacar, harus dikasih yang manis-manis, bukan malah omelan,” ucapnya langsung menjatuhkan tubuhnya pada sofa ruang tamu.
Emosi Saskia semakin bertambah kala melihat tampang tidak berdosa bocah itu, dan kini dia duduk dengan gaya santai seperti tamu kehormatan. Oh, gosh, Saskia ingin sekali mencekik lalu membunuhnya.
Namun, tidak. Setiap menanggapi ucapan dan tingkah lakunya, Saskia hanya akan emosi. Saskia memilih diam dan melangkah hendak menuju kamar, tetapi suara itu mencegahnya.
“Tidak ada kopi dan sarapan untuk pacarmu ini, Mbak Cantik?” tanyanya dengan tatapan nakal.
Lelaki muda itu tersenyum devil lalu bangkit dari duduknya dan kini berdiri tepat di depan Saskia. Wajah mereka bahkan berdekatan hingga masing-masing dari mereka bisa merasakan embusan nafas masing-masing.
Walaupun lebih muda dari wanita di hadapannya, tetapi postur tubuh bocah itu jauh lebih tinggi dan sangat atletis. Karena itu dia harus menunduk untuk bisa melihat wajah cantik Saskia dengan lebih dekat.
“Sianida? Boleh, tidak buruk untuk mencobanya,” ucap si bocah membuat Saskia terbelalak.
“Gue serius mau racunin lu, be*go!” pekik Saskia merasa kesal.
Pria muda itu tersenyum melihat reaksi kesal Saskia. Dia sangat yakin jika wanita itu merasa panik dengan sikap tenangnya.
“Aku juga serius. Tapi ... ada syaratnya.” Saskia mengernyit memikirkan syarat apa yang dimaksud pria ini. Mendapati Saskia yang diam dan seolah menunggu jawaban, pria itu kembali berucap. “Syaratnya sajikan itu padaku tidak boleh menggunakan gelas, cangkir, atau wadah apapun itu.” Wajah pria muda itu kini tampak datar.
“Jadi? Lu mau minum langsung dari panci gitu? Cih, mau mati aja banyak gaya,” seloroh Saskia keki.
__ADS_1
“Bukan. Sudah aku bilang tidak menggunakan wadah apapun. Begitu selesai kamu siapkan, langsung disimpan di mulutmu tapi jangan diminum. Nanti dikasih ke aku kayak gini ....”
Mata Saskia membola dengan jantung yang berdegup kencang, saat pria itu menarik tengkuknya dengan gerekan cepat dan menyatukan bibir mereka. Untuk sedetik mata Saskia mengerjab beberapa kali dengan tubuh yang terpaku tak bergerak saat merasakan benda basah dan kenyal itu menempel di bibirnya. Hanya menempel, ‘kan? Iya, hanya menempel.
Namun, pelan-pelan kelopak mata Saskia akhirnya terpejam saat dia merasakan lu*matan di bibirnya. Tubuh kakunya kini menjadi rileks, bahkan kedua tangannya perlahan mencengkram pinggiran jaket denim yang dipakai peria itu, saat si pria memperdalam ciumannya.
Merasakan jika Saskia membalas ciumannya, pria itu tersenyum senang di sela-sela ciumannya. Detik berikutnya dia melepaskan ciuman mereka dengan perlahan. Kedua tangannya masih setia berada di tengkuk Saskia dan kini berpindah menangkup wajahnya.
Mendapati wanitanya masih terpejam, keusilan pria itu kembali on.
“Kau sangat manis sekali, apalagi diam dan penurut seperti ini. Ini baru pacarnya aku,” ucapnya dengan senyum jahil.
Mata Saskia langsung terbuka dan spontan mendorong dada pria itu dengan kuat.
“Gak sopan, me*sum, pe*lecehan!” ucap Saskia tegas sembari mendelik.
Pria itu tergelak. “Kamu tidak menolaknya, bahkan membalas ciumanku. Pelecehan dari mananya, Mbak pacar? Itu dasar suka sama suka,” tekanannya di akhir kalimat.
“Gak! Lu doang. Gue gak suka sama lu!” ketus Saskia dan berbalik pergi.
“Tapi kamu sangat menikmatinya!” balas pria itu dengan sedikit ejekan.
“Tutup mulutmu, bereng*sek!” teriak Saskia dengan wajah memerah menahan malu.
“Mau ditutup tapi pake bibir Mbak aja, yah.”
“Bocah setaaaaannnnn!”
Gelak tawa pria itu memenuhi seluruh ruangan apartemen Saskia.
__ADS_1