
Seminggu berlalu dan Lean serta Hadya masih dapat berpanas lega karena ancaman Sania tidak lagi mereka dapatkan. Oh, ralat! Bukan tidak lagi, tetapi mungkin belum saja. Siapa yang bisa tahu kapan dia menjalankan rencananya, bukan?
Meskipun begitu, Lean maupun Hadya selalu mengupayakan penjagaan yang super ketat untuk Caitlyn. Lean bahkan tidak lagi kembali ke apartemen. Hadya memutuskan menyudahi hukuman untuk putranya itu karena tidak ingin mengambil resiko.
Namun, kelegaan Hadya mendadak sirna setelah dia mendapat telepon dari pengacaranya yang mengatakan jika surat dari pengadilan sudah ada.
Hadya yang masih berada di rumah saat itu, meminta bertemu dengan sang pengacara di sebuah Cafe n’ Resto. Dia pun segera bersiap untuk menuju ke tempat yang sudah dijanjikan. Kebetulan waktu setempat menunjukan sudah pukul 11 siang.
Saat keluar dari kamar dan melewati ruang keluarga, Caitlyn menahannya.
“Papa?” panggil Caitlyn dengan suara lembutnya.
“Eh. Ya, Sayang?” Dia sedikit kaget dan menjawab panggilan menantunya.
“Papa mau keluar? Ini sudah hampir jam makan siang, loh. Gak nunggu sampai selesai makan siang dulu?” tanya Caitlyn.
“Em, nanti makan berdua sama nenek dulu, yah. Papa lagi ada urusan penting. Mungkin sekalian makan di luar saja.” Hadya menjawab dengan senyum. “Atau mau papa panggilkan Lean pulang dan bisa makan siang bersama?” tawar Hadya.
Caitlyn menggeleng. “Gak usah, Pa. Kasian nanti dia bolak-balik capek. Caitlyn biar sama nenek saja.”
“Baiklah, Sayang. Jaga diri baik-baik, yah. Papa mungkin gak bakalan lama. Ok, Sayang, papa jalan dulu.” Hadya mengusap kepala Caitlyn sekilas dan melangkah pergi.
__ADS_1
Di luar sudah ada Aidam–asisten setia Hadya. Pria yang sedikit lebih berumur dari Hadya itu segera menjalankan mobil meninggalkan kediaman utama Sanjaya.
Sementara itu di gedung utama SG, Lean memanggil Rendi untuk segera ke ruangannya. Tidak lama setelah Rendi datang, Lean langsung menanyakan sesuatu hal padanya.
“Duduklah, Ren.” Lean bangkit dari duduknya dan melangkah ke arah sofa yang tersedia dalam ruang kerjanya itu, sedangkan Rendi tanpa banyak bertanya atau melakukan apapun itu, diam dan mengikuti saja yang diperintahkan Lean.
“Aku hanya ingin bertanya saja,” ucap Lean membaca kebingungan di wajah Rendi.
Dia lalu menyodorkan sebuah kertas pada Rendi. Saat menerimanya dan membaca judul pada kertas tersebut, kening Rendi mengerut.
“Surat perjanjian kerjasama pembangunan proyek? Ini ... maksudnya apa, Tuan? Saya ... tidak paham sama sekali.” Pria itu berkata jujur sembari memandang Lean dengan wajah bingung.
“Ah, tidak perlu membaca yang lain dan tidak perlu untuk memahami apapun di sana kalau begitu. Ini,” tunjuk Lean pada sebuah alamat yang tertera pada kertas tersebut. “Kamu hanya perlu membaca alamat ini dan katakan padaku jika tebakanku salah,” imbuh Lean.
“Ini ... ini, ‘kan, alamat di dekat tempat tinggal saya, Tuan. Ini lokasi pasar yang bermasalah itu. Sudah pernah saya ceritakan ini pada, Tuan besar,” aku Rendi.
Lean menarik kertas tersebut lalu menyimpannya kembali. Pria itu kini menatap serius pada kakak angkat istrinya.
“Ok, tebakanku benar. Sekarang aku ingin tahu, apa yang pernah kamu ceritakan sama papa? Dan kenapa juga papa harus tau tentang lokasi itu?” tanya Lean serius sekali.
“Em, maaf, Tuan. Sebenarnya Tuan besar meminta saya untuk merahasiakan ini dari siapapun. Beliau ingin mencari tahu tentang orang tua kandung Lily secara diam-diam,” aku Rendi lagi.
__ADS_1
Lean berdecak. “Dan alasan apa hingga harus merahasiakan dariku? Bukankah aku berhak tau tentang urusan istriku?” Lean menggeleng lalu bangkit dari duduknya dan kembali ke kursi kebesarannya. “Papa pikir aku masih saja masa bodoh dengan segala hal menyangkut istriku. Jangan percaya, Ren! Itu dulu ... dan sekarang telah berbeda.” Lean menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi lalu berputar membelakangi Rendi.
“Aku bahkan tau jika pernah terjadi kekacauan di sana akibat lahan sengketa itu. Dan beberapa lama kemudian, ada beberapa orang asing yang mendatangi tempat tersebut mencari sesuatu. Kau tau apa yang mereka cari? Seorang anak kecil yang hilang waktu terjadi ricuh antara warga di sana dan orang-orang dari perusahaan asing,” ungkap Lean.
“Anda serius, Tuan?” tanya Rendi tidak percaya.
Pasalnya dia hanya tahu kalau orang-orang asing yang datang kembali waktu itu hanya ingin memantau kembali lokasi dan keadaan di sana, bukan mancari seorang anak kecil yang hilang.
Lean memutar kursinya menghadap Rendi kembali. “Lebih dari serius! Dan aku tahu nama perusahaan asing itu adalah Vagz International. Perusahaan itulah yang sedang menawarkan kerjasama dengan Sanjaya Grup saat ini.”
Mata Rendi membola. “Apakah orang yang makan siang bersama Anda di resto hari itu adalah salah satu perwakilan dari perusahaan asing itu, Tuan?” tanya Rendi masih dengan raut terkejutnya.
“Benar sekali. Kamu mengenali wajahnya?” Mata Lean memicing.
Rendi mengangguk cepat. “Saya mengenali wajah asing itu. Waktu itu saya ingin mengejar dan lebih memastikan lagi tetapi Tante Sani datang dan menghalangi saya.”
“Kau tahu apa artinya?” tanya Lean lagi dan lagi-lagi Rendi menggeleng.
“Dia juga mengenal siapa orang itu dan dia tidak ingin sampai kamu memberitahu aku dan papa jika kau juga mengenalnya. Artinya, Sania tahu segalanya dan ingin menutupi semua jalan.”
...TBC...
__ADS_1
...🌻🌻🌻...