Behind The Divorce

Behind The Divorce
Bab 91. Darah Sanjaya


__ADS_3

Hari sudah malam dan Rendi telah kembali setelah mereka sama-sama menikmati makan malam tentunya. Pria itu pulang ke rumahnya dengan diantarkan oleh salah satu supir keluarga Sanjaya.


Tinggal Lean yang juga harus kembali ke apartemennya tetapi masih perlu melewati serangkaian drama yang membuat Hadya pusing.


“Boleh, ya, Pa, aku tidur di sini malam ini saja,” pinta pria yang beberapa bulan lagi akan menjadi seorang ayah itu.


“Tidak ada alasan, Lean. Apalagi yang menjadi masalahmu? Tadi siang sudah cukup puas, ‘kan? Apalagi yang belum cukup memangnya?” seloroh Hadya yang membuat Nenek Sanju tersenyum.


Lean melirik Caitlyn yang tampak biasa saja. Wanita itu seakan tidak ingin untuk menahannya. Dia langsung mendekat dan menempel pada istrinya seperti perangko.


“Sayang, kamu mau, ‘kan, aku nginap di sini malam ini? Bilang sama papa biar aku gak usah pulang ke apartemen. Mau, yah,” bisik Lean pada Caitlyn tapi masih bisa di dengar oleh Hadya.


Caitlyn belum lagi menjawab perkataan suaminya itu, suara Hadya sudah lebih dulu menghentikannya.


“Yang tadi siang itu sudah cukup untuk menjadi bekal hingga besok dan bulan depan,” seru Hadya seraya bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan ruang keluarga.


Lean mendengarnya berdecak kesal, sedangkan Caitlyn tiba-tiba wajahnya memerah karena malu. Bisa-bisanya ayah dan anak itu membahas hal-hal fulgar di depannya tanpa tahu malu sedikit pun.


“Stop, Al. Sekarang juga pulang ke apartemen. Adanya kamu di sini cuman bikin malu aku tau gak,” gerutu Caitlyn sembari memukul pelan tangan besar Lean yang merangkulnya dengan posesif.


“Lah, kok, gitu? Kamu gak sayang, yah, sama aku? Segitu aja cintanya kamu? Baiklah, aku pergi dan gak akan balik-balik lagi!” sungut Lean dan langsung bangkit dari duduknya.


Pria berparas tampan itu berpura-pura marah pada istrinya. Cara itu rupanya berhasil membuat Caitlyn menoleh dan menahannya. Wanita yang tengah hamil itu bergerak cepat meraih tangan Lean.


“Gak, Al. Bukan gitu. Kamu jangan aneh-aneh lagi, deh. Mau pergi ke mana memangnya? Enak saja gak mau balik-balik.” Caitlyn berbicara sambil mendongak menatap Lean yang berdiri di sampingnya.

__ADS_1


Suaminya itu berakting tidak menggubris, padahal dia ingin sekali tertawa dan menghujani wajah cantik Caitlyn dengan ciuman. Perlahan dia pun menjatuhkan tubuhnya kembali duduk di samping Caitlyn. Meskipun wajah itu terlihat datar tanpa ekspresi, tetap saja tidak mengurangi kadar ketampanannya.


“Kata-kata itu harus dijaga, gak baik memperkatakan hal buruk. Lain kali gak boleh lagi.” Caitlyn masih berbicara dan tangan yang kali ini menutup mulut suaminya itu. “Mau pergi ke manapun kamu, tetap harus kembali padaku. Nih, bukti kalo aku sayang sama kamu.” Sebelah tangannya terangkat lalu menujuk pada perutnya yang sedikit demi sedikit mulai terlihat menumpuk.


Namun, wajah cantiknya selalu tertuju pada sang suami. Lean yang sudah tidak tahan dengan tatapan lembut yang sedari tadi tertuju padanya itu, lantas menoleh dan tersenyum lebar.


Bukan hanya Lean yang merasa bahagia mendengarnya, tetapi Nenek Sanju yang masih ada di sana pun turut merasa bahagia yang sama.


“Benar yang dikatakan istrimu, Lean. Tidak baik bicara yang tidak-tidak. Ingat, kata-kata itu adalah doa. Jadi setiap kata yang keluar dari mulut harus yang baik-baik juga,” timpal sang nenek.


Lean menoleh sejenak ke arah neneknya. “Iya, Nek. Maafkan, Lean.” Dia lalu kambali fokus pada Caitlyn. “So, apa aku boleh tidur di sini malam ini?” tanyanya pada sang istri.


Telapak tangan Caitlyn langsung menempel di wajah tampan Lean lalu sedikit mendorongnya menjauh.


“Sana minta sama papa.” Sekarang giliran Caitlyn yan bangkit dari duduknya dan langsung melangkah menaiki tangga.


Wanita cantik itu melangkah meninggalkan area ruang keluarga menuju ke kamarnya. Tapi sebelum benar-benar menghilang dari sana, Caitlyn menyempatkan diri untuk berbalik sejenak.


“Usaha, dong,” ucapnya dengan nada pelan diikuti tawa setelah itu dan benar-benar menghilang dari sana.


“Astaga ... lihatlah, Nenek. Dia mulai bersikap nakal seperti dulu.” Lean mengadu pada neneknya.


Nenek Sanju tertawa kecil sambil menggeleng. “Bagus kalau begitu. Artinya dia tidak pernah berubah, ‘kan? Dia tetaplah Caitlyn yang mencintaimu dulu maupun kini,” ungkap sang nenek.


Lean merespon dengan anggukan kepala. Laki-laki itu lalu bangkit dari tempatnya dan mendorong kursi roda Nenek Sanju ke kamarnya.

__ADS_1


“Baiklah, Nenek. Ini sudah malam banget dan Nenek sudah harus tidur. Aku juga harus berusaha mendapatkan izin dari papa seperti yang dikatakan menantunya itu.” Lean berucap sambil melangkah ke kamar neneknya.


Tangan keriput sang nenek terangkat dan menyentuh lengannya. “Jika sudah dapat izin papamu, jangan buat cucu mantu nenek lelah lagi, yah. Kandungannya masih harus selalu dijaga, Lean,” peringat Nenek Sanju.


“Yah, gimana dong kalo Lean gak bisa tahan. Habisnya cucu mantu nenek terlalu cantik untuk dilewatkan, sih,” canda Lean yang kemudian dihadiahi satu cubitan di tangannya. “Iya, Nenek. Siap! Lean janji gak bakal ngapa-ngapain dia malam ini,” lanjutnya disusul tawa.


Begitu sampai di kamar Nenek Sanju, Lean lekas ingin keluar dan cepat-cepat menemui ayahnya. Namun, sang nenek menahan sejenak.


“Kau tahu, Lean? Anak yang dikandung istrimu benar-benar darah Sanjaya. Setiap kali makan entah itu sarapan atau makan siang, maupun malam, Caitlyn akan selalu menanyakan brioche dan telur dadar setengah matang,” tutur Nenek Sanju.


Lean berjongkok dan duduk di depan neneknya. “Benarkah, Nek?” Wajah Lean berseri sekali. “Itu semua, ‘kan, kesukaan aku, Nenek.”


Sang nenek lagi-lagi mengangguk. “Dulu nenek sewaktu mengandung dan ngidam pun cuman mau makan itu. Hal yang sama turun pada mama kamu sewaktu dia mengandungmu. Dan sekarang hal itu terjadi juga pada Caitlyn. Bukankah itu semua sudah cukup membuktikan bahwa anak yang dikandungnya benar-benar darah Sanjaya, ‘kan?”


Lean tiba-tiba menyesal pernah menuduh istrinya yang tidak-tidak. Dia menyesal pernah mengatakan jika yang dikandung Caitlyn adalah bayi saudara tirinya.


“Lean sudah menyesal, Nenek. Lean juga sudah minta maaf sama Caitlyn. Lean memang bodoh. Maafkan, Lean,” sesalnya.


“Karena itulah papamu menghukum kamu. Jangan lupa untuk minta maaf juga pada anakmu!” pesan neneknya lagi.


Lean tersenyum dan mengangguk. “Apa ini rahasia yang dikatakan nenek waktu itu?” tanya Lean.


“Bukan. Rahasia itu akan nenek katakan jika kau sudah menyelesaikan hukuman dari papamu!”


...TBC...

__ADS_1


...🌻🌻🌻...



__ADS_2