Behind The Divorce

Behind The Divorce
Bab 98. Khawatir Hadya


__ADS_3

Malam itu Hadya dan Nenek Sanju makan berdua saja di meja makan tanpa kehadiran Caitlyn seperti yang sudah biasanya berlangsung selama sebulan lebih ini. Tidak hanya Caitlyn, tetapi suaminya juga tidak ada di sana.


Hadya sudah menyuruh pelayan memanggil keduanya, bahkan dia sendiri pun menelpon beberapa kali, tetapi dua orang itu tak kunjung hadir.


“Mungkin saja mereka sudah tidur,” ucap Hadya.


“Tidak mungkin. Caitlyn barusan dari kamar ibu, Hady.” Nenek Sanju membantah.


“Kalau itu, sih, Hady tidak tau, Bu. Tapi Lean dia benar-benar lelah dan ada sedikit ada masalah jadi aku rasa dia sudah istirahat.” Lagi kata Hadya.


“Yasudah, biarkan mereka. Kita makan saja, ibu juga mau segera beristirahat.” Nenek Sanju mengakhiri pembicaraan mereka dan memulai makan malam dalam diam.


Hadya pun demikian. Namun, pikiran pria paruh baya itu sama seperti putranya yang terus saja tertuju pada Sania dan segala kejahatannya. Hal itu tidak lepas dari perhatian Nenek Sanju, tetapi wanita lanjut usia itu tidak ingin menanyakan. Dia cukup tahu jika memang putranya memiliki masalah.


“Bu, kalau berdua saja dengan Caitlyn di rumah, jangan biarkan dia jalan ke taman atau keluar sendirian, yah. Ajaklah dia untuk selalu dekat sama Ibu sampai Hady atau Lean kembali dari luar,” ucap Hadya tiba-tiba.


Wanita lanjut usia itu menoleh dengan kening berkerut. Sepertinya tebakan sang nenek tadi benar.


Apa ini tentang wanita iblis itu lagi?


“Ada apa memangnya? Ada yang kau sembunyikan dari ibu?” tanya Nenek Sanju penuh curiga.


Hadya menyelesaikan makannya dan meletakkan kembali peralatan makan ke dalam piring kosong di hadapannya.


“Aku hanya mengantisipasi segala kemungkinan buruk, Bu. Tadi Rendi menemui Sania di restoran dekat dengan kantor. Dia mengancam akan melakukan hal buruk pada Caitlyn. Meskipun banyak penjaga tetapi aku tetap khawatir, Bu. Wanita itu sudah tau seluk-beluk dan kondisi rumah ini. Bukan tidak mungkin jika dia bisa melakukan apapun, ‘kan, Bu. Maka dari itu kita harus lebih berhati-hati menghadapi wanita iblis seperti dia,” terang Hadya panjang lebar.


“Caitlyn jangan sampai tau hal ini, Hady. Pikiran dan perasaannya harus selalu sehat. Jangan sampai dia ketakutan dan tertekan,” pesan Nenek Sanju.

__ADS_1


Hadya mengembuskan napasnya kasar. “Justru itulah yang sedang aku dan Lean lakukan, Bu. Jadi ibu harap merahasiakan ini jangan sampai dia tahu. Kita sama-sama menjaganya, Bu.” Lean menggenggam tangan tua ibunya dan berharap.


Nenek Sanju mengangguk dan menyetujui. Caitlyn sepenting itu sekarang bagi mereka semua. Bukan hanya Caitlyn, tetapi calon penerus Sanjaya juga harus dilindungi.


“Sebaiknya Lean jangan melanjutkan hukumannya lagi, Hady. Biarkan dia tetap di sini agar bisa selalu dekat dan menjaga istrinya,” saran Nenek Sanju.


“Iya, Bu. Aku juga berpikir demikian.” Hadya menerima saran dari ibunya. “Ini sudah cukup malam, sebaiknya ibu beristirahat,” tambahnya.


Setelah bercerita panjang lebar dan mendiskusikan beberapa hal, Hadya pun mendorong kursi roda Nenek Sanju ke kamarnya. Setelah itu dia segera menuju kamarnya sendiri.


Tiba di sana, Hadya langsung menghubungi pengacaranya menanyakan perihal perceraiannya bersama Sania. Entah mengapa Hadya tiba-tiba merasa tidak senang dengan kabar yang diberikan sang pengacara.


Pria di seberang telepon mengatakan jika surat panggilan dari pengadilan sebentar lagi akan keluar. Seharusnya Hadya senang, bukan? Ini artinya dia akan segera berpisah dari Sania.


Namun, bukan itu yang Hadya takutkan melainkan posisi Caitlyn dalam hal ini. Jika surat tersebut sampai ke tangan Sania, Hadya bisa membayangkan jika jiwa iblis wanita itu pasti semakin meronta-ronta dan Sania akan menggila. Dapat Hadya pastikan bahwa Sania akan melakukan apapun sebagai bentuk balas dendamnya.


“Apa yang harus aku lakukan? Aku harus apa sekarang? Menunda perceraian ini? Tidak, tidak. Wanita itu memang sudah seharusnya disingkirkan dari hidupku.” Hadya berbicara sendiri setelah menyudahi obrolan dengan pengacaranya via telepon.


Pria itu lalu memaksakan diri untuk tidur, meskipun dia tidak mengantuk sama sekali. Pikirannya tidak ingin berhenti bekerja, tetapi tubuhnya benar-benar lelah dan butuh untuk beristirahat.


Sementara itu di kamar Lean dan Caitlyn, keduanya kembali berdebat kecil perkara makan malam setelah melewati percintaan yang hebat.


“Kamu saja, Al. Aku sudah ngantuk berat.” Caitlyn berucap malas dan dengan mata yang terpejam.


“Gak bisa gini, Sayang. Kamu belum makan. Ayo, bangun!” Lean melepaskan pelukannya dan menyingkirkan selimut yang menutupi tubuh polos mereka.


Dengan cepat dia memungut pakaian mereka berdua dan mengenakan kembali pakaian miliknya. Pria itu juga bergegas memakaikan kembali pakaian istrinya.

__ADS_1


“Ok, selesai. Sekarang bangun dan makan dulu, setelah itu baru tidur,” ucap Lean begitu berhasil memakaikan pakaian di tubuh Caitlyn.


“Gak mau, Al. Aku capek,” rengek Caitlyn.


“Aku yang suapin!” seru Lean dengan cepat. “Kamu gak perlu melakukan apapun dan juga tidak boleh menolak. Aku ngerti kamu cepek dan ngantuk, tapi kasian anakku di dalam sana. Makan, yah,” pinta Lean.


Tidak ingin menunggu jawaban wanitanya, Lean langsung menelpon pelayan mengantarkan makan malam untuknya dan Caitlyn ke kamar. Tidak sampai berapa lama, ketukan pada pintu berbunyi dan Lean langung menyuruh pelayan itu masuk dan menyajikan makanannya.


“Terima kasih. Kau boleh pergi. Nanti selelah ini aku panggilkan lagi,” kata Lean pada sang pelayan.


“Baik, Tuan.” Pelayan wanita itu ke menuduk dan langsung pergi.


Lean langsung bersiap menyuapi istrinya. “Buka mulutnya dan jangan cemberut. Kalau bukan untuk kamu, lakukan ini untuk anakku,” bujuk Lean lagi dan lagi.


“Jadi kau hanya memikirkan anakmu saja? Lalu bagaimana dengan ibunya?” tanya Caitlyn sebelum menerima sesendok penuh makanan dari Lean.


Lean tertawa mendengar pertanyaan sederhana itu. “Pertanyaan apa itu, Sayang? Prosedurnya, cintai dulu ibunya terlebih dulu baru anaknya. Bukan sebaliknya, Sayang. Anak memang selalu menjadi prioritas, tapi istri yang teristimewa,” ucap Lean membuat Caitlyn tersenyum senang di sela-sela kunyahannya.


“Jadi aku istimewa?” tanyanya memastikan.


“Tentu saja, Sayang. Tidak akan ada yang bisa menyamai kedudukanmu di hatiku. Anakku sekalipun,” jawab Lean dengan mantap.


Meskipun hampir setiap hari mendengar kata cinta dari lelaki itu, tetap saja Caitlyn merasa seolah ingin terbang ke awan-awan. Hobi baru Lean belakangan ini adalah melambungkan jiwa Caitlyn menembus angkasa.


“Kenapa kau jadi manis seperti sekarang, sih? Aku, ‘kan, gak bisa berpaling ke lain hati lagi, oho, ahahaha ... Lean! Aku cuman bercanda,” teriak Caitlyn di akhir ucapannya dibarengi tawa.


Aku akan selalu memastikan senyum bahagia itu tidak akan pernah hilang dari hidupmu.

__ADS_1


...TBC...


...🌻🌻🌻...


__ADS_2