
Dua minggu berlalu lagi dan kini genap sebulan sudah Caitlyn menghilang dari kehidupan keluarga Sanjaya. Kurun waktu yang sama pula, membuat Lean hampir kehilangan akal sehatnya. Dua minggu terus mengemis dan meminta alamat Caitlyn, tidak juga dia dapatkan dari sang ayah.
Berbagai hal telah Lean lakukan hanya untuk mengetahui keberadaan Caitlyn, tetapi hasilnya selalu nihil. Hadya benar-benar menutup semua akses menuju Caitlyn. Tembok besar yang harus dia taklukkan adalah ayahnya sendiri. Lean bingung dan tidak habis pikir. Maksud apa ayahnya melakukan semua ini? Keuntungan apa yang dia dapat dengan menyembunyikan wanita itu dan menyiksa anaknya sendiri?
Fine, Lean tahu jika ayahnya hanya menyembunyikan keberadaan Caitlyn. Akan tetapi, dia tidak tahu fakta lain bahwa Caitlyn sedang mengandung anaknya. Bagaimana jika dia tahu tentang hal itu? Apakah pertanyaan konyol mengenai keuntungan apa yang didapat oleh ayahnya akan terus dia pertanyakan? Entahlah, waktu yang akan menjawab.
Sudah tiga hari Lean tidak pulang ke rumah. Pria itu menyerah untuk meminta pada ayahnya. Keadaan Nenek Sanju pun tak lagi dia hiraukan. Apakah Lean marah? Benar, dia marah. Marah pada ayahnya yang pelit dan tidak ingin memberitahu tentang keberadaan Caitlyn.
“Kenapa dia harus marah? Kalau hanya untuk kesehatan ibu? Dia tidak perlu marah dan malah ikut-ikutan pergi juga dari rumah, ‘kan?”
Hadya saat itu tengah melampiaskan kekesalannya pada Aidam–asisten setianya. Sebenarnya apapun yang dilakukan Lean, Hadya tidak pernah marah. Ini bukan kali pertama Lean main pergi-pergi dari rumah. Ini juga bukan kali pertama Lean marah padanya. Sungguh ini bukan kesalahpahaman perdana anak dan ayah itu. Namun, dari sekian kali banyaknya, baru kali ini Lean benar-benar membuatnya pusing.
Bagaimana tidak, Lean pergi dengan meninggalkan segudang pekerjaan untuk ayahnya. Baru kali ini putra kebanggaannya itu pergi dan tidak memperdulikan soal perusahaan. Ini menunjukkan jika Lean benar-benar marah padanya. Mau tak mau, Hadya harus turun tangan menyelesaikan semuanya.
“Apa yang dia pikirkan? Menelantarkan nasib puluh ribu orang yang bergantung di perusahaan sebesar ini? Menantuku benar-benar sudah membuatnya kehilangan akal.”
Hadya memijit pelipisnya sambil berjalan mondar-mandir di dalam ruang kerja milik Lean.
“Tuan, kenapa tidak beritahu saja pada tuan muda tentang keadaan Nona Caitlyn?” Aidam mengemukakan pendapatnya.
“Tidak! Anak itu harus diberi sedikit pelajaran dan biar dia berusaha sendiri. Jika dia mendapatkan dengan mudah, dia tidak akan pernah tau sebuah perjuangan itu seperti apa. Yang ada dia tidak akan menghargai pasangannya. Biarkan dia seperti itu sampai dia menyadari kesalahan dan perasaannya.” Hadya menjelaskan panjang lebar, menolak pendapat asistennya.
“Ya, dia harus menyadari perasaannya sendiri. Jika dia sudah benar-benar sadar, biarkan dia berjuang sendiri.”
Hadya tahu jika yang ditunjukan Lean dan Caitlyn selama ini hanyalah sandiwara belaka. Bagaimana mungkin seorang pria akan jatuh cinta dengan wanita yang telah menjebaknya? Hadya tahu, tahu semuanya. Tahu tentang siapa Caitlyn, apa tujuannya, siapa yang memaksanya melakukan itu, Hadya tahu semuanya.
Dia tidak mungkin diam saja saat putranya mendapat masalah. Dalam waktu singkat, Hadya memperoleh semua informasi tentang Caitlyn. Awalnya dia pikir menantunya itu wanita tidak baik dan dia pun ikut membencinya. Namun, pada akhirnya Hadya sadar jika Caitlyn hanyalah alat bagi istrinya. Sejak hari itu, Hadya menyayangi Caitlyn dan mulai lebih berhati-hati dengan istrinya sendiri.
Hal itu disimpan Hadya seorang diri tanpa memberitahukan pada siapapun. Hanya satu hal yang terlepas dari pantauan Hadya yaitu drama keguguran Caitlyn tiga tahun lalu. Dia hanya tahu bahwa ini merupakan kehamilan pertama Caitlyn.
__ADS_1
“Aidam, panggilkan Jerry ke sini. Suruh dia untuk membawakan berkas-berkas yang harus ditandatangani oleh Lean. Otaknya jangan ikutan tidak waras seperti tuannya itu!” perintah Hadya dengan kesal.
“Baik, Tuan!” Aidam segera berlalu dari sana dan menjalankan tugas.
Like father, like son, Aidam kini kembali bersama Jerry setelah tiga puluh menit berlalu. Entah bagaimana lelaki itu bersiap dalam waktu yang singkat, menempuh jarak perjalanan yang lumayan jauh. Benar-benar anak Aidam. Selalu siap, on time, dan luar biasa.
“Dari mana saja kau? Ketidakhadiran tuanmu bukan berarti kau juga harus menghilang. Apa kalian berdua berencana untuk bikin bangkrut Sanjaya Grup?” semprot Hadya begitu melihat kemunculan Jerry.
“Ma-maaf, Tuan besar,” ucap Jerry takut-takut.
Hadya membanting tumpukan berkas di atas meja. “Bawa ini pada tuanmu dan suruh dia tandatangani. Katakan padanya jika semua barkas itu tidak selesai juga hari ini, namanya sebagai pewaris Sanjaya Grup akan aku coret, dan aku berikan pada menantuku!”
Baik Aidam maupun Jerry sama-sama terkejut mendengar ancaman Hadya. Namun, keduanya tetap diam dan tidak mungkin bisa berkomentar apalagi protes. Jika Lean saja tidak bisa apalagi mereka berdua?
“Ba-baik, Tuan besar. Saya permisi.”
...***...
“Please, Kia. Tolongin gue kali ini aja. Gue akan berhati-hati supaya tidak diikuti siapapun. Gue bersumpah bakal hati-hati, Ki. Gue mau tau kondisi Caitlyn dan janinnya. Please!” Nathan terus memohon.
Kegigihannya yang tak pantang menyerah, justru membuat Saskia harus mengalah dan menyerah. Wanita itu marah ponsel dan mengirimkan alamat serta nomor ponsel Caitlyn pada Nathan. Jangan tanyakan ekspresi pria berprofesi dokter itu seperti apa. Senangnya bukan main.
“Tinkyuw banget, Kia. Lu emang bestie paling the best di seluruh jagat raya.” Saking senangnya dia sampai memeluk Saskia dengan begitu erat.
“Udah, sana … ih, Nathan! Gue sesak tau ….” pekik Saskia sembari mencubit pinggang Nathan. “Giliran ada maunya aja manisnya melebihi gula. Coba kalo gak ada butuh, datar dingin kek pinguin,” sungut Saskia dan ditanggapi Nathan dan tawa.
“Serah lu mau bilang gue kek apa, intinya gue mau bilang lu emang terbaik. Btw ….” Nathan ragu meneruskan kalimatnya.
“Btw apa, Nathan? Terusin gak?” Saskia mode memaksa.
__ADS_1
Nathan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Btw dia, ‘kan, udah cerai tuh. Boleh gak yah, gue ngungkapin perasaan buat dia?” Mengucapkan itu saja wajah Nathan terlihat bahagia.
Namun, Saskia tidak menunjukkan ekspresi apapun. Wajahnya tetap datar sedatar jalan tol. Melihat itu Nathan merasa tidak enak hati.
“Hmm, maaf, Ki. Jika lu–”
Tiba-tiba Saskia bangkit berdiri sambil melompat di atas sofa dan bertepuk tangan. Sesekali dia sedikit berteriak dan bergoyang kegirangan.
“Gue setuju banget, Nath. Lakukan dan pastikan dia terus bahagia. Seharusnya gue ada di sana untuk ngerekam moment yang sudah lama lu tunggu-tunggu ini,” ucap Saskia bersemangat.
Nathan kaget dengan pernyataan tersebut. “Jadi … lu udah tau kalo gue sebenernya ….”
Saskia mengangguk. “Gue tau kok, Nath. Tapi demi persahabatan kita agar tetap berjalan baik. Gue gak mau ngasih tau ke Lily. Takut ngerusak rumah tangga dia. Tapi sekarang udah kayak gini gue bakal jadi orang pertama yang support hubungan kalian,” tutur Saskia.
Senyum Nathan terukir merespon ucapan wanita itu. “Makasih banget, yah, Ki. Sore ini juga gue mau OTW ke sana.”
Dia pun berpamitan pada Saskia dan bersiap untuk segera berlalu dari sana. Namun, baru saja melangkah sampai di depan pintu, Saskia menghentikannya.
“Nath,” panggil Saskia pelan.
“Ya?” Nathan berbalik dan menunggu apa yang akan dikatakan wanita itu.
“Jalan lu mungkin gak bakal mulus karena itu gue kasih tips nih, berusahalah sebisa lu untuk meluluhkan hati Lily. Karena singgasana hatinya hanya ada Lean. Gak bakal mudah mengusir dia dari hati Lily, apalagi mereka punya anak, Nath. Berjuanglah!” Saskia memberi semangat.
Ucapan itu sedikit membuat Nathan tidak percaya diri, tetapi dia telah bertekad karena hari ini telah lama dia nanti sejak bertahun-tahun lalu. Mengungkapkan cintanya pada Caitlyn adalah hal terindah yang paling dia takuti tetapi juga paling dia nantikan. Baik Nathan maupun Saskia merasa bahwa ini adalah waktu yang tepat.
I will try it ….
...TBC...
__ADS_1
...🌻🌻🌻...