Behind The Divorce

Behind The Divorce
Bab 117. Stunning


__ADS_3

Semua kejadian saat di butik tadi, tidak lepas dari pengamatan seorang pria tampan yang tidak lain adalah Lean. Tingkah tidak tahu malunya Cecilia, terekam sempurna dari sebuah kamera ponsel yang kemudian dikirimkan kepada Lean menjadi satu tontonan menarik.


Calon ayah tampan dan berkharisma itu menonton dengan senyum meremehkan melihat keinginan Cecilia yang begitu besar.


“Ck, menyedihkan sekali. Tidak punya uang dan hanya bermodalkan tipu muslihat, tetapi berani membayar lebih. Ha-ha-ha. Cecilia ... Cecilia ... sampai kapanpun, kau atau siapapun itu, tidak akan pernah bisa bersaing dengan Caitlynku. Istri seorang Aleandro Sanjaya tidak akan terkalahkan oleh siapapun itu. Tidak akan pernah.” Lean berucap dengan pelan penuh penekanan.


Bukan tanpa alasan dia bisa mengetahui rekaman video tersebut. Dan bukan tanpa alasan pula dia meminta istrinya untuk memesan gaun beberapa saat lalu.


Melalui ponsel Sania yang diberikan oleh Jerry, Lean dengan mudah dapat mengetahui rencana-rencana wanita itu. Setiap kali akan melakukan apapun, Cecilia memberikan informasi lewat pesan kepada ibunya–Sania. Dengan tidak sengaja dia membocorkan segala tak-tiknya bersama Sania pada Lean.


Lean berdiri dari kursi ruang pribadinya yang menyatu dengan kamar dan hanya terhalang sekat. Pria itu kembali menyimpan ponsel Sania ke dalam saku celananya sebelum keluar. Setiap tiga puluh menit, dia akan memeriksa benda pipih itu secara berskala agar bisa terus memantau pergerakan Cecilia.


“Sayang!” panggil Lean mencari-cari keberadaan Caitlyn. “Ke mana dia?” Sosok itu tidak terlihat di dalam kamar. “Sayang!” Sekali Lean memanggil dan terdengar sahutan dari walk in closet.


“Aku di sini, Sayang. Sebentar!” sahut Caitlyn sedikit mengeraskan suaranya.


Lean hendak menyusul ke sana, tetapi langkah langkahnya tertahan begitu sesuatu terlintas di benaknya.


“Ah, jangan sekarang. Nanti saja sekalian.” Lean memutar langkahnya kembali ke tempat tidur.


Dia yakin saat ini Caitlyn pasti sedang mencoba gaun yang dipesannya. Beberapa menit lalu barang tersebut sudah diantarkan oleh karyawan TrendyStore ke kediaman Sanjaya.


Lean sangat ingin melihat kecantikan istrinya dalam balutan gaun tersebut, tetapi dia menahannya hingga malam nanti saja.


...***...


And the last, waktu yang dinanti-nantikan oleh Lean akhirnya tiba. Waktu setempat kini menujukkan pukul 7 malam. Lean menatap jam tangan yang melekat di pergelangan tangannya.


“Seharusnya dia sudah siap, ’kan?” tanya Lean pada dirinya sendiri tetapi dapat di dengar oleh Hadya.


Pria itu sudah siap hampir setengah jam lalu. Sambil menunggu istrinya, dia memilih turun ke lantai bawah dan berbincang dengan ayahnya sebentar karena tidak ingin mati bosan menunggu istrinya yang sudah diperkirakan pasti akan memakan waktu.


Benar, bahkan wanita itu sudah lebih dulu bersiap-siap sebelum Lean. Nyatanya hingga Lean selesai pun sang istri belum juga mengakhiri kegiatan berganti dan berdandan. For the shake of God, semua wanita sama saja.

__ADS_1


“Ya, sudah. Pergi dan pastikan istrimu. Jangan-jangan dia malah tertidur.” Ucapan yang membuat Lean mengumpat pelan dan langsung bergegas kembali ke kamar.


Bukan tanpa alasan Hadya mengatakan seperti itu. Sejak kehamilannya, Caitlyn memang sering sekali tertidur. Masa kehamilannya banyak terisi dengan tidur dan tidur.


Lean tiba di kamar dan cepat-cepat membuka pintu. Pria itu melongokan kepala dengan bola mata yang melirik sana-sini mencari sosok istrinya di sana. Tidak ada. Sesungguhnya, dia sendiri penasaran dengan penampilan istirnya malam ini.


“Sayang?” panggil Lean pelan dan langsung melangkah masuk. “Caitlyn sayang!” Lean mengeraskan suaranya.


Kakinya baru saja akan melangkah ke walk in closet, tetapi tertahan kala terdengar pantulan heels yang bersentuhan dengan lantai tengah menuju ke arahnya. Pria tampan itu mendadak membeku saat matanya menangkap sepasang kaki jenjang di antara juntaian balutan panjang yang terburai menyapu lantai, tiba-tiba keluar dari sana. Lean yang tadinya menunduk, dengan perlahan mengangkat pandangan hingga matanya dapat menatap keseluruhan mahakarya sang pencipta dalam sosok di hadapannya.



Oh, gosh! Lean merasa pasokan oksigen di sekitarnya mendadak berkurangnya. Napasnya tercekat dengan ritme debaran jantung yang berkerja lebih cepat.


“I am ready, Mr Sanjaya. So let's enjoy the party tonight,” ucap Caitlyn dengan suara menggoda.


Da*mn it! Selama ini dia ke mana saja dan tidak menyadari bahwa tiga tahun lebih dirinya telah menikahi seorang bidadari. Lean berdehem sekedar menetralkan debaran jantung serta kegugupannya.


Well, dulu dia sering melihat istrinya berdandan glamour seperti ini. Namun, sungguh belum pernah semenakjubkan ini. Apa mungkin karena faktor kehamilan membuat auranya semakin bersinar?


“Sayang, aku ... aku ....” Sh*it! Lean tidak mampu meneruskan kalimatnya.


Kening Caitlyn mengerut melihat tingkah aneh sang suami. “Kenapa? Kita gak jadi pergi?”


“No, bukan! Tapi ... aku ... aku gak bisa liat kamu kayak gini, Sayang.” Finally dia berhasil mengurai perasaan yang sempat terjebak karena pesona sang istri.


“Kenapa memangnya dengan aku? Apa ada yang kurang dari penampilanku? Apa aku tidak terlihat cantik? Atau apa, Sayang? Please, ngomong yang bener, dong.” Caitlyn mendadak gusar karena ucapan tidak jelas sang suami membuatnya mendadak tidak percaya diri.


Lean membuang napasnya kasar. “You look so stunning, Baby. Dan karena itu aku gak sanggup. Aku rasa kamu perlu ganti baju, Sayang. Aku rasa aku gak sanggup membagi pemandangan indah ini dengan siapapun.” Lean mengusap wajah tampannya. “Not only beautiful but you look so damn sexy, Baby. For the shake of God, aku gak rela.”


“Hah?” Mulut Caitlyn menganga dan mata membola tidak percaya mendengar penuturan suaminya. “Lah, gimana, sih? Katanya istrinya pemimpin Sanjaya Grup harus terlihat cantik dan berkilau. Sekarang aku udah terlihat mempesona seperti katamu tadi, kenapa harus ganti lagi? Wah, gak bener otak kamu, Sayang.” Menggeleng kepalanya kesal.


“Iya, Sayang. Tapi ini di luar perkiraan aku. Ini terlalu sempurna dan yang paling bikin kesel, ini tuh terlalu sek*si, Sayang. Pokoknya gak bisa. Gak harus terbuka gini juga, astaga. Aku gak yakin bisa nahan emosi kalo liat ada yang menatap kamu. Aku rasa aku akan berakhir di kantor polisi dengan kasus membunuh orang malam ini.” Lean mengacak rambutnya frustasi.

__ADS_1


Berulang kali Caitlyn menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan dengan begitu kasar. Gerakan alami itu berulang-ulang dia lakukan untuk meredam kekesalannya pada Lean malam ini.


“Fine, aku ganti. Tapi sekali lagi kalo gak pas di mata kamu juga, aku batal pergi. Sana pergi aja bawa nenek atau salah satu pelayan di rumah ini,” ucap Caitlyn dengan ketus dan memutar tubuh kembali menuju deretan gaun yang dia kenakan.


Lean bergegas menghirup udara sebanyak mungkin untuk melegakan hatinya setelah kepergian sang istri. Pria itu mengusap wajahnya berulang kali. Caitlyn hampir saja membuat jantungnya berhenti berdetak.


“Harusnya aku tahu ini bakal terjadi karena dia ... dia secantik itu, aaarrrgghhh.” Lean mengerang kesal.


Tidak begitu lama istrinya kemudian keluar lagi dari dalam sana dengan balutan gaun yang lebih sopan dari sebelumnya. Di mata Lean, yang dikenakan istrinya kali ini lebih cocok untuk ukuran wanita hamil meskipun perut Caitlyn belum tampak membesar. Apapun itu, satu poin penting adalah dia tetap terlihat cantik dan menawan. Senyum manis kemudian tercetak di wajah tampan Lean.



Caitlyn dapat menangkap aura puas yang bersemayam dalam pahatan garis wajah tampan itu.


“Sempurna, Sayang. The real queen of my heart, dan juga tuan putri di acara malam ini,” ucap Lean penuh puja. Sementara Caitlyn memutar matanya jengah.


“Jadi kita sudah bisa jalan sekarang, Tuan Sanjaya?” tanya Caitlyn dengan nada penuh penekanan.


“Of course, Nyonya Sanjaya.”


Mereka lalu bergandengan keluar kamar dan menuruni anak tangga satu per satu. Tiba di bawah, penampilan Caitlyn membaut sang nenek dan ayah mertuanya pangling.


“Waow, inikah istrinya cucuku yang keras kepala itu?” gurau Nenek Sanju.


“Benar, Nek. Sangat keras kepala dan sialnya aku justru jatuh cinta,” ucap Caitlyn membalas gurauan neneknya.


Mereka lalu tertawa bersama sebelum kalimat Hadya mengakhiri basa-basi itu, sekaligus mengantarkan kepergian Lean dan Caitlyn.


“Nikmati malam kalian dengan bahagia. Jaga mantu papa baik-baik, Lean. Pulang jangan kemalaman!”


...TBC...


...🌻🌻🌻...

__ADS_1


__ADS_2