Behind The Divorce

Behind The Divorce
Bab 79. Bertemu Nenek Sanju


__ADS_3

Lean dan Caitlyn keluar dari mobil setelah cukup lama bergelut di dalam sana dengan segala rasa bahagia yang meluap memenuhi keduanya. Lean lebih dulu turun dan mengitari mobil, lalu membuka sisi pintu di sebelahnya dan menjemput Caitlyn.


Setelah menutup pintu, Lean pun meraih sebelah tangan Caitlyn dan menggenggamnya, lalu melangkah bersama menuju ke dalam rumah utama. Begitu melewati para pelayan, Caitlyn merasa ada yang aneh. Meskipun tampak jika para pelayan itu menunduk dan memberi hormat, tetapi Caitlyn bisa melihat jika pandangan mereka beberapa detik lalu saat dia baru keluar dari mobil begitu berbeda.


“Ada apa, Sayang?” tanya Lean.


Pria itu merasa jika langkah istrinya terasa sedikit berat. Lean berbalik dan sedikit melirik, ternyata dia mendapati Caitlyn yang terus saja menoleh ke belakang.


Cepat-cepat wanita hamil itu menggeleng. “Ah, tidak ada apa-apa. Al,” ucapnya memberikan sedikit senyum.


Lean pun hanya membalas tersenyum dan melanjutkan langkah, hingga keduanya masuk ke dalam rumah. Lean masih setia menggenggam tangan Caitlyn dan hendak menuju kamar nenek Sanju. Namun, belum juga tiba di sana, dari jarak yang tidak terlalu jauh dapat mereka lihat bahwa pintu kamar nenek Sanju sudah terbuka.


Tampak wantia lanjut usia itu telah menunggu di depan pintu dengan duduk di atas kursi roda, sedangkan Hadya setia berdiri di sampingnya ibunya itu. Begitu melihat wajah dua orang yang sangat dia rindukan itu muncul di sana, Nenek Sanju tersenyum senang bahkan sampai meneteskan air matanya.


Mendengar apa yang diceritakan oleh Hadya, serta melihat pemandangan indah di depannya saat ini, membuat wanita lanjut usia itu sudah bisa bernapas lega. Harinya kini terasa damai setelah drama perceraian dan juga perpisahan dua bulan terakhir.


“Lean, Caitlyn ...,” panggil Nenek Sanju. Suaranya parau sedikit bergetar dan terdengar lemah, khas orang tua lanjut usia.


Caitlyn yang juga sudah tidak lagi sabar menahan rindunya pada wanita tua itu, langsung melepaskan tangan Lean. Dia segera berlari menghampiri Nenek Sanju. Namun, tindakannya itu spontan membuat semua orang panik terutama Lean.


“Caitlyn!” Suara Lean, Hadya, dan Nenek Sanju kompak menyerukan namanya berbarengan.

__ADS_1


Tidak menunggu lama atau bahkan menunggu hal-hal yang tidak diinginkan terjadi, Lean pun refleks berlari cepat dan menghentikannya.


“Jangan seperti itu, Caitlyn! Kamu lupa kalau lagi hamil? Ini lantai licin, Sayang. Ck, bikin jantungan saja,” gerutu Lean sambil merengkuh pinggang wanita hamil itu.


“Maaf,” cicit Caitlyn. Dia lalu menoleh pada Hadya dan Nenek Sanju dengan memperlihatkan cengirannya.


Keduanya berjalan cepat ke arah dua orang yang sudah menunggu sedari tadi. Saat sudah mendekat, kening Hadya mengerut melihat keduanya.


“Kalian habis ngapain?” tanya Hadya tidak jelas.


“Maksud, Papa?” Lean bertanya balik tidak mengerti.


Hadya memindai penampilan keduanya secara bergantian. Rambut yang acak-acakan dan juga pakaian yang terlihat begitu kusut.


Caitlyn langsung menundukan wajahnya sambil merapikan rambut. Dia jadi teringat dengan pandangan aneh para pelayan di luar tadi.


Jadi ini yang membuat mereka begitu aneh? Ah, malunya aku. Gara-gara dia, sih ....


Caitlyn melirik Lean dengan wajah kesal dan Lean hanya menanggapi dengan kedipan mata. Wanita itu semakin meradang karena sikap Lean yang dia anggap tidak tahu malu.


“Ah, biasalah, Pa. Lean, ‘kan, tadi ketiduran di mobil. Jadi pastilah agak-agak berantakan gini,” kilah Lean.

__ADS_1


Apakah Hadya percaya? Tentu saja tidak. Melihat sikap Caitlyn yang tampak malu dan menghindar, Hadya sudah bisa menebak apa yang terjadi saat dia tak lagi di mobil. Pria itu hanya menggeleng kecil.


“Sudahlah Hadya, jangan memarahi mereka. Ibu sangat rindu pada mereka.” Nenek Sanju menegur Hadya. Orang tua itu lalu beralih menatap Caitlyn dan Lean lagi. “Kalian berdua jangan pedulikan papa kalian. Kemarilah,” panggil Nenek Sanju.


Tidak menunggu perintah kedua kalinya, Caitlyn langsung menghambur memeluk tubuh ringkih Nenek Sanju.


“Cucuku,” ucap Nenek Sanju penuh haru. “Terlalu lama kamu meninggalkan rumah ini. Jangan pergi-pergi lagi, yah. Rumah ini butuh kamu, Caitlyn.” Dua wanita berbeda generasi itu saling berpelukan dan menangis dalam haru.


“Caitlyn sudah di sini, Nenek. Caitlyn tidak akan pergi lagi. Tapi itu juga tergantung dia, Nek." Caitlyn menunjuk Lean dan mendapat lirikan tajam laki-laki itu membuat Caitlyn tertawa kecil. “Kalau misal dia mau Caitlyn pergi yah–”


“Tidak ada pergi-pergi lagi pokoknya. Tetap di sini agar nenek bisa melihat dan memantau perkembangan cicit nenek. Bagaimana kabarnya saat ini? Apa dia sehat?” tanya Nenek Sanju selanjutnya sambil menyentuh perut Caitlyn.


“Jadi Nenek sudah tau kalau Caitlyn sedang mengandung?” tanya Caitlyn begitu antusias.


“Tidak ada kabar yang tidak nenekmu ini tahu, Sayang,” jawab Nenek Sanju.


“Oh, Nenek. Caitlyn sayang banget sama Nenek.”


...TBC...


...🌻🌻🌻...

__ADS_1



__ADS_2