
Hari sudah malam dan Hadya sungguh cemas karena Lean belum juga sampai di rumah. Keberadaannya bahkan tidak terdeteksi oleh anak buah ayahnya. Orang-orang suruhan Hadya itu kehilangan jejak Lean saat dalam perjalanan dari kota kecil yang didiami Caitlyn menuju ibu kota.
Dalam keadaan marah, Lean berkendara dengan sangat brutal dan tidak terkontrol. Orang waras akan takut melakukan yang dia lakukan saat itu. Alhasil, dia sudah tiba lebih dulu di rumah daripada anak buah ayahnya.
Tujuan Lean saat ini adalah ayahnya. Dia ingin memarahi sang ayah yang selalu saja membela Caitlyn dan mengagungkan wanita itu. Tepat saat mobil Lean terparkir di halaman, Hadya yang melihat dari balkon kamar langsung bergegas keluar menyambutnya.
“Lean!” panggil Hadya.
Dapat dia lihat raut wajah anaknya yang tergambar jelas kekecewaan dan kemarahan di sana. Hadya langsung mendekat dan hendak menahan pundaknya, tetapi Lean menepis kuat dengan tak tanggung-tanggung.
“Apa, Pa? Dia ngadu lagi sama Papa? Wanita licik gak tau diri itu ngadu lagi, iya?” sembur Lean yang terlanjur emosi. “Papa liat yang dia lakukan, ‘kan? Dia hamil di saat kita baru pisah sebulan, Pa. Itu yang mau Papa banggakan dari dia, hah?”
Hadya memejamkan matanya sejenak, menenangkan hati dan meredakan emosi agar tidak meledak karena keinginan untuk menghajar putranya sedari tadi.
“Lean, bisa tidak tahan sedikit saja emosimu dan dengarkan penjelasan papa? Bisa tidak, Lean?” tanya Hadya dengan suara rendah serta lembut.
Namun, Lean tetaplah Lean, tidak mengindahkan perkataan ayahnya sama sekali.
“Apa lagi yang ingin Papa jelaskan? Bisa gak, sih, Papa gak usah belain wanita murahan itu? Dia tidak lebih dari benalu dalam kehidupan kita–”
__ADS_1
“Lean!” bentak Hadya dengan keras.
Pria emosian itu malah tertawa remeh. “Lihatlah, Papa bener-bener lebih mengedepankan perasaan dia daripada perasaan aku yang jelas-jelas anak Papa?” Lean menghentikan tawanya lalu menggeleng. “Belain aja terus, Pa. Belain. Karena pembelaan Papa itu, sehingga dia begitu berani membawa laki-laki lain ke sana dan bermesraan sampai hamil. Apa lagi namanya kalau bukan murahan?” Suara Lean semakin meninggi.
Perdebatan ayah dan anak itu menimbulkan keributan yang mengundang perhatian Sania dan Cecilia. Ibu dan anak itu menonton dan memasang telinga dari jarak yang cukup aman agar tidak ketahuan.
“Sekali lagi kau mengatai istrimu seperti itu, tangan ini benar-benar akan menghajarmu, Lean!” peringatan keras dari Hadya dengan tangan yang mengepal kuat.
Peduli apa Lean dengan peringatan maupun ancaman itu? Dia tidak peduli dengan apapun. Dia hanya ingin melampiaskan segala emosi dan rasa sakit hati serta kecewanya.
“Lakukan, Pa. Lakukan jika itu yang Papa mau. Sakiti saja anakmu ini demi wanita murahan tidak tau diri itu!”
Bunyi tamparan Hadya menggema hingga terdengar memenuhi ruang tamu yang mereka pijaki saat itu. Gaungnya memantulkan sayatan baru bagi Lean. Seumur hidupnya, baru kali ini tangan sang ayah terkangkat untuknya. Lean tidak percaya ini.
Sementara itu, Hadya sendiri jauh lebih terluka. Tangannya sampai bergetar karena melakukan hal yang tidak pernah ingin dia lakukan seumur hidupnya. Lean adalah hal paling berharga dalam hidupnya. Kehadiran putranya itu jauh lebih berarti melebihi harta kekayaan yang dia miliki. Lean adalah bukti hidup dari banyaknya kenangan yang ditinggalkan oleh Jeanice–mendiang istri pertamanya. Lean adalah kebanggaannya, meskipun dia memiliki anak dengan Sania, tetapi kasih sayangnya tidak dapat sebanding dengan yang dia berikan untuk Lean.
Pria emosian itu adalah bukti nyata betapa dia sangat mencintai mendiang istri pertamanya. Dia selalu mendapatkan tempat spesial di hati Hadya melebihi anaknya yang lain karena dia terlahir dari rahim perempuan yang sangat Hadya cintai.
Sementara Sania, Hadya yang bodoh saat itu, dijebak seperti yang dia lakukan pada Caitlyn dan Lean. Bedanya, waktu itu Hadya dijebak saat dia sudah memiliki istri dan seorang putra yang masih bayi. Mau tidak mau, Hadya harus bertanggung jawab jika tidak ingin reputasi keluarganya hancur, bahkan rumah tangganya yang sempurna ikut terancam karam. Bertahun-tahun Hadya menyembunyikan hubungan terlarangnya dengan Sania, hingga semua itu diketahui oleh mendiang istrinya–Jeanice, pada saat Lean sudah duduk di bangku kelas 6 Sekolah Dasar. Jeanice shock mengetahui fakta bahwa suaminya memiliki seorang wanita simpanan, bahkan hubungan terlarang itu menghasilkan anak.
__ADS_1
Sejak hari itu Jeanice stress dan jatuh sakit selama satu tahun, hingga akhirnya dia memilih pergi meninggalkan hidup Lean dan Hadya untuk selamanya. Kala itu, Lean sudah duduk di bangku kelas 1 SMP dan sang nenek yang merawatnya. Setelah dua tahun kepergian Jeanice, Hadya akhirnya menikahi Sania dan membawanya ke kediaman Sanjaya karena desakan dan tipu muslihat perempuan itu.
“Le-Lean …. papa ….” Hadya tergagap dengan mata yang berkaca-kaca. Dia tidak tahu apa yang ingin dia katakan saat itu.
Lean masih menatap ayahnya dengan wajah datar. “Lakukan sekali lagi, Pa.” Menunjukkan sisi pipinya yang lain. “Nih, sebelahnya belum Papa tampar. Ayo, Pa!”
Hadya terdiam dengan mulut yang bergetar tidak dapat membalas perkataan putranya itu, hingga Lean berlalu pergi begitu saja dari hadapannya. Sementara beberapa meter dari tempat Hadya berdiri, Sania dan Cecilia masih setia mengintip. Mereka melebarkan mulutnya dengan mata membola tidak percaya.
“Waow, anak pungut itu sungguh luar biasa bisa membuat dua pria yang saling menyayangi itu bertengkar hebat bahkan saling menyakiti. Emejing, Ma.” Cecilia berbisik pada ibunya.
“Bukan itu saja, Sayang. Kita punya banyak peluang bagus dari permasalahan mereka. Mama harus bergerak saat ini juga, jangan sampai kesempatan emas ini hilang percuma.”
Sania langsung berbalik meninggalkan tempat itu dan berlalu entah ke mana, disusul oleh Cecilia yang tidak memahami apa-apa.
Apapun rencana mama, pasti selalu jossss ….
...TBC...
...🌻🌻🌻...
__ADS_1