
Tubuh Sania gemetar ketakutan saat dinding di belakangnya sedikit berlubang karena tembakan yang sengaja dilepas oleh Lean. Wanita itu lalu melepaskan Caitlyn dan bergerak menjauh, tetapi Nathan dengan cepat mengganti posisinya agar tetap menyandera Caitlyn.
“Kau pikir aku takut padamu? Coba tembak lagi dan kau akan melihat bahwa bukan saja istrimu yang terluka kali ini, tetapi kau juga akan kehilangan bayimu yang tidak kau akui dan kau ragukan sebelumnya,” tantang Nathan dengan berani.
Hati Lean tersentil mendengar perkataan yang memang benar adanya. Namun, dia tidak ingin menunjukkan rasa penyesalan yang hanya akan terlihat lemah di depan Nathan. Pria itu berdecak sambil melangkah mendekat ke arah Caitlyn.
“Lakukanlah! Aku ingin menyaksikannya,” ucap Lean santai sekali.
Pria itu kini berdiri kurang lebih satu meter di depan Caitlyn dan Nathan.
“Lean! Apa kau tidak waras?” sergah Hadya.
Dia sangat marah mendengar jawaban Lean yang seolah tidak peduli dengan kondisi Caitlyn dan anaknya.
“Untuk saat ini, siapa pun boleh mengatakan seperti itu, Pa. Dan aku sama sekali tidak keberatan karena aku memang sedang tidak waras saat ini,” sahut Lean pada ayahnya.
Ayahnya baru akan membalas ucapannya, tetapi Lean sudah lebih dulu memberi kode dengan memanggil seseorang masuk. Semua orang terdiam dan melihat apa yang Lean lakukan.
Dari arah pintu, muncul dua orang pria asing yang tampak sedang menyandera seorang wanita. Sontak saja Nathan dan Sania menjadi panik.
“Lean! Apa yang kau lakukan? Dia itu juga adikmu!” sentak Sania yang kemudian histeris.
Pria tampan itu tersenyum setan dan berbalik menghadap korban sandera yang tidak lain adalah Cecilia. Revolver yang sedari masih berada di tangannya, kini dia arahkan tepat di kepala Cecilia.
“I don't care! Kembalikan istri dan anakku, dan kau ambil anakmu.”
Sungguh wajah tampan yang sebentar-sebentar datar, sebentar-sebentar tersenyum, sebentar-sebentar tertawa itu, sangat sulit untuk dibaca. Satu yang pasti, dia sedang tidak waras malam ini dan apa saja akan dia lakukan.
Nathan masih tidak goyah dan tetap menahan Caitlyn.
__ADS_1
“Apa kau tega membunuh orang yang masih satu darah denganmu demi wanita lain? Hentikan kegilaanmu, Bang!” bentak Nathan.
“Aku ke sini bukan untuk mendengarkan Kau masih nasihat darimu, Brengsek! Aku di sini untuk menjemput istri dan anakku.” Lean mulai geram. Sepertinya batas kesabarannya mulai habis.
Jauh di dalam lubuk hatinya, dia tidak tahan melihat kondisi Caitlyn yang begitu hancur dan tampak jelas ketakutan. Sedari tadi pria tampan itu menghindari tatapannya agar tidak tertuju pada mata cantik yang selalu mendebarkan hatinya.
“Kau masih belum ingin berubah pikiran dan masih tetap ingin menahan istriku? Bagaimana jika benda ini meledak di kepala adikmu?” tanya Lean.
“Tidak, tidak, Lean! Mama mohon jangan lakukan itu!” Sania memohon pada anak tirinya, kemudian menoleh pada putra kandungnya lagi. “Lepaskan dia, Nathan!” pintanya dengan kedua tangan yang terkatup memohon.
“Tidak akan, Ma!” tegas Nathan.
“Baiklah, berarti kau lebih memilih untuk mengakhiri hidup adikmu.” Lean langsung menarik pelatuk.
Gerakan tidak ragu-ragu itu justru memberi ancaman bagi Nathan yang sedari tadi bersikeras tidak ingin melepaskan Caitlyn. Dengan sekali gerakan dia pun langsung mendorong tubuh Caitlyn begitu saja.
Sementara itu tubuh Cecilia terpental begitu saja saat Lean mendorongnya dengan keras. Nathan yang marah dan merasa kalah, hendak melemparkan pisau yang dipegangnya. Namun, Lean melihat itu dengan cepat dan langsung melepaskan satu tembakan yang tepat mengenai lengan Nathan.
Nathan mengerang kesakitan tetapi Lean tidak peduli sedikit pun. Dia justru sibuk memindai tubuh istrinya.
“Are you okay?” tanyanya dengan rendah.
Entah mengapa, Caitlyn tidak bisa untuk menjawab pertanyaan sederhana itu. Dia hanya mampu menatap dalam wajah yang beberapa hari lalu membuatnya begitu stress, sekaligus yang begitu dia cintai.
“Sh*it! Dia melukaimu.” Marah karena melihat luka goresan di leher jenjang Caitlyn.
Lean melepaskan pelukannya dari tubuh Caitlyn dan hendak berbalik kepada Nathan, tetapi Caitlyn menahannya dengan lemah pada ujung hoodie yang dia kenakan.
“Enough, Al! Aku tidak kenapa-kenapa.” Baru mau berbicara.
__ADS_1
Caitlyn menaikan tangannya yang masih dalam keadaan terikat. Menyadari itu, Lean pun cepat-cepat membuka talinya dan juga ikatan yang ada pada kaki. Hatinya panas melihat bekas lilitan yang meninggalkan lecet pada kulit mulus Caitlyn.
“Di bawah sudah ada ambulans, langsung ke rumah sakit, yah.” Lean berucap dengan sangat perhatian.
“Sama siapa?” tanya Caitlyn.
Tidak langsung menjawab, Lean menoleh ke arah ayahnya yang kini tampak sibuk mengurusi Sania, Nathan, Tamara, dan Cecilia. Pria paruh baya itu dibantu oleh Jerry dan beberapa anak buah mereka, sehingga keempat orang itu tidak dapat berbuat apa-apa.
“Sama papa, yah,” jawab Lean singkat.
Caitlyn terdiam cukup lama lalu berkata kemudian, “Kenapa gak sama kamu saja?” tatapannya tersirat harapan.
“Kan sudah biasa sama papa? Lagian aku belum selesai urusan sama mereka,” jawab Lean apa adanya dan memang seperti itu.
“Kalau kali ini mau sama kamu gimana?” Sikapnya yang dulu muncul lagi.
Namun, kali ini berbeda. Jika dulu dia lakukan hanya untuk membuat Lean marah dan kesal padanya, kali ini dia lakukan karena memang dia ingin seperti itu dan apa adanya.
Lean yang melihat itu pun tersenyum kecil karena seolah mendapatkan kembali Caitlyn yang dulu menjengkelkan di matanya. Namun, kali ini dia justru sangat suka melihatnya. Dia menoleh lagi pada ayahnya.
“Pa, aku mau anterin Caitlyn ke rumah sakit. Tapi setelah itu aku balik ke sini karena urusanku sama mereka belum selesai. Selain itu juga, ada sesuatu hal luar biasa yang ingin aku tunjukkan pada kalian semua. Jadi pastikan mereka tetap di sini sampai aku kembali.”
Caitlyn mendadak senang tetapi juga penasaran.
Hal luar biasa?
...TBC...
...🌻🌻🌻...
__ADS_1