Behind The Divorce

Behind The Divorce
Bab 76. Hukuman Untuk Tamara


__ADS_3

Di tempat lain, tepatnya di rumah baru yang beratasnamakan Sania yang semalam dijadikan tempat sandera, kini telah sepi. Sudah tidak ada lagi Sania, Nathan, dan Cecilia. Tinggal Tamara dan beberapa anak buah Hadya yang masih berjaga di sana.


“Breng*sek, lepaskan aku!”


Entah sudah berapa kali wanita itu terus saja berteriak minta dibebaskan. Kaki dan tangannya yang terikat, membuat dia tidak bisa untuk melakukan apa pun.


Wanita itu masih penasaran dengan kejutan yang disebutkan Lean tadi. Otaknya terus saja berputar berusaha menebak-nebak apa yang dipersiapkan lelaki itu, tetap saja dia tidak bisa mengetahui apa pun.


Lean adalah pria yang sulit ditebak. Gaya hidupnya terlihat datar dan monoton, tetapi selalu penuh kejutan. Kadang dia baik, tetapi juga kadang dia menyebalkan. Kadang dia bersimpatik, kadang juga dia tidak peduli terhadap apa pun.


“Oh, sh*it! Aku haus. Apa tidak ada yang bisa memberiku sedikit meminum?” Tamara berteriak lagi.


Tidak lama kemudian, pintu terbuka dan dua orang pria datang membawa makanan dan minuman untuknya.


“Makanlah, Nona. Makan yang banyak dan bersiap untuk kejutan yang dijanjikan tuan muda.” Salah satu dari mereka berucap.


“Bagaimana aku memakannya, Bo*doh? Tanganku ini sedang kau ikat. Apa kau tidak waras?” sembur Tamara merasa kesal.


“Ck, merepotkan saja kau ini,” gerutu salah satunya.


Pria itu dengan terpaksa membuka tutup botol dan mendekatkan ke arah Tamara lalu memberinya minum. Setelah itu, dia juga membantu menyuapkan Tamara.


“Jika hidupmu tidak berguna seperti ini, mati saja kau, Nona,” sindir pria berwajah sangar itu.


“Kau saja yang mati, Breng*sek! Aku masih ingin hidup dan mengejar cinra Leanku,” maki Tamara.


Kedua pria itu terbahak mendengar perkataan Tamara yang dianggap terlalu berkhayal. Bisa-bisanya sudah ditolak bahkan ditendang dan dijadikan sandera seperti itu, masih saja berharap tinggi.

__ADS_1


“Berhenti berkhayal, Nona. Anda terlihat seperti pasien rumah sakit jiwa saja.” Terbahak lagi.


“Penjaga kurang ajar! Kau yang sudah tidak waras. Mana ada model terkenal dan cantik seperti ini jadi pasein rumah sakit jiwa? Coba lihat, wajah kalian berdua yang cocok masuk ke sana. Enak saja,” ucap Tamara tidak terima.


“Hei, Nona. Wajahmu itu terlihat jelas wajah-wajah depresi. Saya sarankan untuk jangan terlalu berkhayal. Kasian, diri Anda. Tuan muda sudah bahagia dengan istrinya yang cantik. Lah, Anda tersiksa dengan hayalan. Sadar, Nona. Masih ada kita yang siap mendampingi Nona jika Nona mau.” Pria yang berucap itu lantas mendekat ke arah Tamara.


Namun, rasa jijik membuatnya langsung meludahi pria tersebut. Tidak terima dengan penghinaan itu, si pria langsung menampar dan menjambak rambut Tamara.


“Heh, wanita si*alan. Jika aku mau, dari tadi sudah aku telanjangi kau di sini. Tapi pria sebrengsek diriku juga tidak sudi untuk menyentuh wanita menjijikan sepertimu. Kau pikir kau secantik nona muda istrinya tuan muda? Jangan mimpi. Sekalipun cantik, tapi menjual diri sana sini jelas kau tidak ada harganya.” Dia lalu mendorong kepala Tamara hingga wanita itu terjungkal ke belakang.


“Oh, sh*it! Aku bersumpah akan membalas kalian dan juga wanita si*alan itu!”


Pria yang satunya meresa kasihan, lalu dia pun membantu menarik Tamara hingga bisa duduk dengan benar.


“Jangan pedulikan dia. Biarkan saja dia seperti itu. Menyusahkan.”


Dua penjaga itu lalu bergegas keluar meninggalkan Tamara yang tidak lagi melanjutkan makannya. Beberapa menit kemudian, pintu yang tadinya tertutup itu kini kembali terbuka.


“Wah, wah. Lihatlah, siapa yang kemarin meninggalkan aku dengan begitu sombongnya, dan sekarang malah terikat seperti ini?” ucap seorang pria yang berdiri di ambang pintu tersebut.


Dia kemudian melangkah perlahan mendekat ke arah Tamara. Tangannya terulur lalu menaikkan wajah wanita itu.


“Jadi kesengsaraan ini yang kau kejar-kejar? Kesengsaraan ini juga yang membuatmu merayuku dan menjual tubuhmu padaku? Lalu setelah kau dapatkan apa yang kau mau, kau malah berusaha kabur dariku dan kembali pada masa lalumu yang tidak lagi peduli padamu itu?” cecar pria itu sambil mencengkram kedua pipi Tamara.


Matanya berkilat penuh amarah, mengingat kecurangan Tamara beberapa waktu lalu. Di mana wanita itu mencoba kabur darinya setelah berhasil memperdayainya dan mencuri sejumlah uang dari kartu yang dia gunakan, dalam jumlah yang fantastis.


“Wanita ular, licik!” ucap pria itu lebih penekanan.

__ADS_1


“O-Om, maafkan aku. A-aku–”


“Sssttt, diam! Jangan mengatakan alasan apapun. Kita hanya perlu selesaikan permainan kita yang sempat tertunda hari itu. Anggap saja tebusan karena kau telah mencuri uangku,” bisik pria itu.


Pria itu adalah seorang pria paruh baya pendiri SW-Entertainment, yang merupakan ayah dari Saskia–sahabatnya Caitlyn. Beberapa waktu lalu Tamara berhubungan dengannya dan menguras banyak sekali isi kartu debitnya


Wanita licik itu telah berjanji untuk tidak akan kambeli mengejar Lean karena telah mendapatkan sumber uang yang baru. Namun, Tamara tidak merasa puas dengan hanya mendapatkan uang. Nyatanya dia butuh Lean yang tampan dan tentu saja masih muda dan bisa memuaskan hasratnya lebih.


“Tapi, Om–”


“Tidak ada tapi-tapian. Permainan kita harus tetap berlanjut!” ucapnya dengan tegas.


Pria itu lalu memerintahkan anak buahnya menyeret Tamara keluar dari sana. Mereka masuk ke mobil, lalu meninggalkan tempat itu menuju tempat lain yang disediakan oleh ayahnya Saskia.


Sore harinya setelah tiba di tempat tujuan, Tamara dibawa ke sebuah ruangan yang tampak kosong. Hanya terdapat sebuah tempat pasung dan rantai panjang yang tergeletak di lantai.


Tamara bergidik. “Om, apa yang kita lakukan di sini? Tidak ada tempat tidur, bagaimana kita bisa bermain di sini?” tanya Tamara yang hanya ingin mencari alasan. Yang sebenarnya dia sudah bisa menebak apa yang akan dilakukan pria paruh baya itu.


Pria itu tergelak. “Oh, tentu saja kita akan bermain di sini, Sayang. Mencoba suasana baru. Bosan di ranjang terus. Iya, ‘kan?”


Selajutnya yang terjadi adalah, pria itu meminta anak buahnya melucuti semua pakaian Tamara tanpa tersisa sehelai benang pun. Kaki serta tangannya dipasung, dan pria itu mulai menjalankan aksinya dengan brutal, dan disaksikan oleh beberapa anak buahnya sekaligus.


Tamara berteriak meminta tolong dan ampunan, tetapi tidak ada yang menggubris. Dalam hati wanita itu hanya meminta semoga saja pria tua itu tidak mengizinkan anak buahnya melakukan hal yang sama secara bergiliran.


Lean kepa*rat. Aku bersumpah akan membalaskan ini. Rumah tanggamu tidak akan pernah bahagia tujuh turunan dan delapan tanjakan!


...TBC...

__ADS_1


...🌻🌻🌻...



__ADS_2