Behind The Divorce

Behind The Divorce
Bab 110. Keluarga Lengkap


__ADS_3

Mendengar apa yang dikatakan wanita yang tengah berlutut di bawah sana, Nyonya Vargas tersentak bukan main dan langsung bangkit dari duduknya dengan tubuh yang bergetar. Hal yang sama dirasakan pula oleh suaminya–Tuan Vargas.


Pasangan suami-istri itu refleks saling berpegangan, serta menatap sosok wanita muda di sana dengan raut wajah kaget dan perasaan yang campur aduk.


“Apa? Pu-putriku? Ka-kau tidak bercanda?” tanya Nyonya Vargas dengan suara yang bergetar serta kaku.


Sesungguhnya, bibirnya mendadak terasa kelu dan tidak mampu untuk berucap. Namun, dia harus memastikan ini.


“Sama sekali tidak, Nyonya. Maafkan saya yang sepagi ini datang dan membuat kegemparan bagi keluarga Anda,” jawab wanita paruh baya itu.


“Tidak, tidak. Tidak masalah sama sekali. Tapi, bagaimana Anda tahu kalau kami sedang mencari putri kami yang hilang?” Kali ini Tuan Vargas yang berbicara.


“Saya tinggal di lokasi kumuh dekat pembangunan proyek baru itu, Tuan. Dan saya selalu mendengar jika keluarga Anda mencari seorang anak perempuan yang hilang dulu.” Wanita tua itu menunduk dalam. “Maafkan saya yang baru datang dan mengaku sekarang. Karena sejujurnya saya sudah sangat menyayangi putri kalian.” Wanita paruh baya itu menitikan air matanya. “Waktu itu saya menemuinya yang sedang menangis kebingungan di pinggiran jalan saat terjadi keributan besar dulu. Saya menjadikannya putri saya, membesarkannya di daerah kumuh itu. Saya sangat menyayanginya, karena itu saya tidak ingin memberitahu setiap kali ada orang yang ke sana dan mancari anak kecil.” Wanita itu bertutur dengan nada pilu.


Mendengar itu, Nyonya Vargas ikut terisak. Meskipun penglihatannya samar karena genangan pada matanya, tetapi tatapan itu selalu tertuju pada sosok hawa yang duduk dengan tenang di sana.


“Putriku ... Cacaku?” ucap Nyonya Vargas begitu lembut sembari hendak melangkah maju. Namun, langkahnya ditahan oleh sang suami.


Tuan Vargas tampak ragu dengan kejadian saat itu yang dianggapnya terlalu mendadak. Bukan apa-apa, hanya saja dia takut dengan banyak kejadian-kejadian manipulatif dengan beragam modus yang sering terjadi di mana-mana.


“Em, maaf tapi ... apa ada hal yang dapat meyakinkan kami jika–” Ucapannya terpotong.


“Tentu saja, Tuan. Gadis ini punya sesuatu yang bisa menjadi jawaban atas pertanyaan Anda.” Wanita paruh baya itu menoleh ke samping dan memperlihatkan kalung yang dipakai gadis di sebelahnya. “Karena tidak ingin ada yang mengenalinya, saya selalu menyimpan benda ini,” imbuh wanita itu.


Nyoya Vargas terbelalak dengan kedua tangan yang langsung menutup mulutnya. Wanita itu semakin menangis dengan hebat. Detik berikutnya, dia pun berlari cepat ke arah gadis di sana dan langsung memeluk tubuh gadis cantik itu.


“Putriku ... terima kasih sudah kembali, Sayang. Terima kasih, terima kasih, Cacaku.” Suara tangis Nyonya Vargas semakin menjadi seiring dengan pelukannya yang kian erat. “Ini mommy, Sayang. Ini rumahmu, ini keluargamu,” racau Nyonya Vargas tiada henti.


Gadis di depannya tersenyum kecil lalu membalas pelukan Nyonya Vargas.


“Mommy?” tanya gadis itu.


“Ya, ini mommy.” Nyonya Vargas melepas pelukannya dan menangkup wajah gadis di hadapannya, kemudian dia menghujaninya dengan banyak sekali kecupan di sana. “Dan dia ... dia adalah Daddy. Daddy kamu, Sayang.” Menunjuk suaminya yang masih berdiri di tempat semula.

__ADS_1


“Daddy?” ucap gadis itu sambil menatap Tuan Vargas.


Awalnya pria itu tidak ingin percaya begitu saja, tetapi melihat benda yang dipakai gadis itu, hatinya pun melemah dan akhirnya percaya. Dia pun tersenyum dan mengangguk pada gadis itu, serta memintanya untuk berlari ke arahnya.


Ragu-ragu gadis itu berdiri dan melangkah perlahan ke arah Tuan Vargas. Saat mulai mendekat, Tuan Vargas lantas membuka kedua tangannya dan gadis itu pun berlari cepat kemudian keduanya berpelukan.


“Daddy,” ucap gadis itu dengan nada pelan.


“Iya sayang. Ini Daddy. Daddy senang akhirnya kau kembali,” ucap Tuan Vargas dengan posisi masih memeluk tubuh gadis yang mengaku adalah putrinya.


Suasana haru itu sedikit teralihkan dengan kehadiran Chris dan Callix. Dua kakak beradik itu bingung dengan apa yang sedang terjadi di ruang tamu kediaman mereka. Kebingungan itu semakin bertambah saat melihat sang ayah memeluk seorang gadis asing di depan ibu mereka.


“Daddy, apa-apaan ini? Apa yang terjadi di sini?” seloroh Callix.


Nyonya Vargas bangkit dari duduknya dan menghampiri kedua putranya.


“Caca kita sudah kembali, Sayang. Tuan putri kita sudah kembali,” ucap wanita itu dengan senyuman kebahagiaan yang tidak luput.


“Serius, Mom?” tanya Chris dengan wajah tidak percaya.


“Keluarga kita sekarang sudah lengkap, mari kita rayakan!”


...***...


Sementara itu di kediaman Sanjaya tengah terjadi keributan besar dan ketegangan. Lean yang hendak berangkat ke kantor saat itu, mendadak menunda kepergiannya karena marah besar.


Semua pelayan di kediaman mewah itu diperintahkan untuk menghentikan semua pekerjaan mereka dan berbaris di halaman samping, tepat di depan rumah khusus yang disiapkan untuk para pelayan.


Saat semuanya berbaris, Jerry memerintahkan beberapa penjaga untuk menggeledah seluruh kamar para peyanan dalam rumah itu tanpa terkecuali. Sementara itu Caitlyn sedang dibawa oleh Nenek Sanju ke kamarnya.


Tubuh wanita cantik itu bergetar hebat dan dia hanya butuh Lean di sampingnya saat ini.


“Tenanglah, Sayang. Kita tunggu Lean di sini, yah. Tenanglah, tidak akan terjadi apa.” Nenek Sanju menengkan cucu mantunya itu.

__ADS_1


“Caitlyn takut, Nek. Caitlyn mau Al ada di sini. Panggil dia, Nenek.” Bumil itu berucap dengan suara bergetar penuh ketakutan.


“Sebentar saja, Sayang. Suamimu akan datang sebentar lagi. Biarkan dia menghukum orang itu,” ucap Nenek Sanju dengan sabar.


Di samping itu di luar sana, Jerry datang menghampiri Lean dan Hadya dengan satu buah alat bukti berupa sebotol obat dengan tulisan medis yang tidak dipahami Lean maupun Hadya.


Pria yang sebentar lagi akan menjadi ayah itu merogoh ponselnya dan menghubungi dokter Andra. Dia lalu menyebutkan nama obat yang tertera pada botol kecil tersebut. Dokter Andra terkejut mendengar satu kata asing yang disebutkan oleh Tuan Muda itu.


📲 “Dari mana obat itu, Tuan? Itu obat penggugur kandungan.”


📲 “Kau yakin, Dokter Andra?”


Emosi Lean sudah tidak bisa dibendung lagi. Sebelah tangannya sudah terkepal sempurna ingin melampiaskan amarah pada siapapun. Begitu juga dengan Hadya.


📲 “Benar, Tuan. Tidak mungkin saya membohongi Anda.”


📲 “Baik, Dok. Terima kasih!”


Panggilan telepon itu langsung diakhiri dengan Lean yang mantap nyalang wajah-wajah para pelayan di sana.


“Di kamar siapa kau temukan benda itu, Jerry?” tanya Lean pada asistennya tetapi wajahnya tetap tertuju pada puluhan pelayan di depannya.


“Dia, Tuan!” Jerry menunjuk tepat pada Dita.


Pelayan wanita itu langsung menjatuhkan tubuhnya dan tersungkur seraya mengatupkan kedua tangan meminta maaf dan memohon pengampunan Lean. Tidak, tidak semudah itu.


Lean lekas mendekat, melangkah dengan dipenuhi emosi. Begitu tiba di depan pelayan wanita itu, Lean menariknya berdiri dengan paksa dan langsung memberikan satu tamparan keras hingga wanita itu pusing dan kembali terjatuh.


Biasanya Hadya akan menegur putranya, tetapi tidak kali ini. Hal ini sudah sangatlah keterlaluan.


“Kau bekerja untuk siapa, Ja*lang?”


...TBC...

__ADS_1


...🌻🌻🌻...


__ADS_2