
“Mau Tante apa?” tanya Rendi to the poin.
Saat ini yang berdiri di depannya adalah kakak dari almarhum ayahnya–Sania. Wanita itu lagi-lagi datang dan mengusik ketenangannya.
“Bukankah sudah aku katakan jika aku tidak ingin mengikuti rencana apapun itu? Aku telah bersumpah untuk membalas kebaikan keluarga Sanjaya dan ingin memperbaiki hidup yang lebih baik. Jadi aku tidak akan pernah mau berurusan lagi dengan Tante,” ucap Rendi panjang lebar, tetapi tegas.
“Kau pikir aku peduli dan akan menyerah. Itu bukan aku. Aku adalah Sania yang selalu mendapat apapun yang aku inginkan. Tawaran maupun ancamanku masih berlaku jika kau ingin berubah pikiran.” Sania tanpa beban mengucapkan itu.
Sebulan lalu pasca kunjungan Lean dan Caitlyn di rumah Rendi, Sania datang ke sana dan mengancam serta menawarkan kerjasama dengan keponakannya itu. Dia meminta agar Rendi menerima tawaran Caitlyn untuk tinggal di kediaman utama Sanjaya. Dengan begitu dia bisa melancarkan segala aksinya nanti. Dia juga meminta Rendi agar menjual rumah yang sebenarnya tidak layak lagi untuk ditempati itu.
Namun, Rendi menolak mentah-mentah. Hari itu Sania pulang dengan tangan hampa, tetapi meninggalkan ancaman yang membuat Rendi sedikit kepikiran hingga kini.
Pria itu lalu menyapu pandangannya ke sekeliling. Akan tetapi, Sania memahami gerak-geriknya.
“Tidak perlu repot mencari mereka. Tidak ada lagi pengawal tuanmu itu di sekitar sini. Sudah kubilang, aku Sania yang bisa melakukan apapun. Dan selalu tau tentang apapun. Jadi bagaimana? Kau masih ingin berubah pikiran?” tanya Sania dengan sebelah alis yang terangkat.
“Tidak akan pernah. Kenapa Tante tidak mengerti juga?” Rendi mendadak frustasi karena kegilaan Sania.
“Aku memang tidak ingin mengerti alasanmu dan kau yang harusnya mengerti keinginanku. Berbaktilah pada tantemu ini, Rendi.” Sania berucap dengan tangan yang memegang pisau yang masih mengarah pada Rendi.
“Ok, kalau begitu berikan aku alasan yang tepat kenapa aku harus mengikuti kemauan Tante?” ucap Rendi seakan menyerah dan itu sukses membuat Sania tersenyum puas.
__ADS_1
Oh, what the hell! Apakah dia mulai goyah dan akan bersekutu kembali dengan Sania–wanita iblis itu? Semoga saja tidak.
Sementara itu di dalam resto, Lean dan Jerry tengah kebingungan mencari Rendi yang tiba-tiba menghilang tanpa meninggalkan jejak.
“Ke mana dia sebenarnya?” tanya Lean yang sudah cukup pusing menuggu dan mencari ke sana ke mari.
“Entahlah, Tuan. Tadi dia masih duduk saja di sini.” Jerry pun sama pusingnya dengan sang atasan.
“Sudah di cari ke kamar mandi? Mungkin saja dia ada di sana,” saran Lean yang belum menyerah.
Namun, Jerry menjawab jika dia pun sudah ke sana tetapi nihil. Keduanya bergantian menelpon ke nomor ponsel milik Rendi tetapi tidak kunjung dijawab.
“Mungkin dia sudah di kantor. Kita balik saja ke sana,” putus Lean.
Keduanya lalu kembali ke kantor dengan Jerry yang mengendarai mobil. Tidak membutuhkan waktu lama, mereka pun sampai karena jarak yang sangat dekat. Lean langung membuka pintu dan keluar.
Sama seperti di resto tadi, Lean masih saja mengedarkan pandangannya. Sampai dia masuk ke dalam lift dan tiba di ruangannya pun masih saja mencari sosok Rendi.
“Menghilang ke mana dia sebenarnya? Aneh banget.” Lean menjatuhkan tubuhnya pada kursi kebesaran dan bersandar sejenak melepaskan lelah.
Jerry menyusul masuk dan sigap berdiri di belakang tuannya itu. Dia selalu siap untuk tugas apapun yang diberikan oleh sang atasan.
__ADS_1
“Coba periksa kantin. Mungkin saja dia ada di sana.” Suara Lean kembali terdengar.
Jerry jadi berpikir mungkin saja demikian, mengingat Rendi yang tadinya tidak bisa makan dan kebingungan menggunakan peralatan makan di Kim Resto. Dia pun mengiyakan dan kembali bergegas keluar dari ruangan Lean.
Setelah kepergian Jerry, baru beberapa detik saja pintu ruangan Lean sudah terbuka lagi. Presdir SG itu terkejut karena orang yang masuk tidak mengetuk pintu terlebih dahulu. Hal yang lebih membuat Lean kaget adalah dia yang masuk saat itu dengan napas yang tersengal-sengal.
“Rendi? Kau dari mana saja? Aku dan Jerry mencarimu sedari tadi di restoran sampai di sini. Kau ke mana memangnya? Kenapa juga aku seperti orang yang habis dikejar-kejar begini?” cecar Lean begitu saja. Pria tampan itu bahkan bangkit dari duduknya saking gemas dengan Rendi.
“Nanti saja saya menjawabnya, Tuan. Sekarang kita harus ke rumah dan memastikan keadaan Lily. Saya takut terjadi sesuatu dengan dirinya,” ucap Rendi dengan napas yang sama sekali masih tidak teratur.
Kening Lean mengkerut. “Ada apa dengan istriku memangnya? Di rumah aman-aman saja, banyak pengawal–”
Ucapan Lean mendadak terhenti kala vibrasi telponnya terasa pada saku jas yang dia kenakan.
“Papa?”
...TBC...
...🌻🌻🌻...
__ADS_1