Behind The Divorce

Behind The Divorce
Bab 71. Spoiled


__ADS_3

“Makan dulu, Ly. Dari tadi pagi lu belom makan apa-apa, loh. Lu gak kasian sama bayinya? Dia butuh makan tau.” Saskia merayu, tetapi juga ingin marah.


Pasalnya dari pagi saat Caitlyn terbangun, dia tidak ingin apapun. Yang menjadi keinginan wanita itu hanyalah ingin melihat Lean. Dia masih ingat betul bahwa saat dia tertidur, tangan Lean yang setia menggenggamnya.


Namun, ketika dia membuka mata dan menyadari Lean sudah tak lagi ada di sampingnya, Caitlyn mendadak kecewa. Dia merasa jika genggaman Lean semalam hanyalah mimpi semu.


Beberapa kali Saskia telah menjelaskan pada Caitlyn bahwa semalam itu bukanlah mimpi. Lean benar-benar menemaninya dan baru saja pergi menjelang pagi. Namun, Caitlyn tetap tidak percaya sampai dia bisa melihat Lean terlebih dulu.


“Nanti saja, Kia.” Begitu saja terus jawabannya sedari tadi.


Oh, ya. FYI, Saskia adalah orang yang dihubungi Lean pagi tadi untuk menemani Caitlyn. Dua orang yang sejak dulu seperti Tom dan Jerry itu kini sudah berbaikan. Jadi, Lean tidak lagi sungkan untuk meminta bantuan pada sahabat istrinya itu.


“Lu mau nungguin Lean sampai kapan? Kalo dia gak jadi datang gimana?” Saskia tidak dapat lagi menahan kekesalannya.


Plakkk!


Satu geplakan mendarat di lengan Saskia. “Apa, sih. Dia pasti datang. Jangan doain yang gak-gak!” Caitlyn cemberut.


“Gak bakal datang kalo lu gak mau makan,” sela Saskia.


“Iiisss, Saskiaaaa! Kenapa lu jadi menyebalkan gini, sih! Dahlah, gue mau tidur aja.” Caitlyn yang tadinya sedang duduk bersandar, kini memilih merebahkan tubuhnya kembali, lalu menarik selimut dan menutup seluruh wajahnya.


Saskia menggelangkan kepalanya sambil tersenyum melihat tindakan sang sahabat. Dia sangat memaklumi hal itu.


Sejak hamil jadi manja banget dia ....


“Yodah, kalo gitu gue mau pulang saja. Nanti kalo Om Hady datang, gue laporin lu gak jagain cucunya malah sibuk mikirin bapaknya.” Saskia bangkit dari duduknya dan berjalan keluar.


Sampai di depan pintu dia masih bisa mendengar omelan sang sahabat dari balik selimut. Kalau tidak mengingat sahabatnya itu sedang hamil, Saskia ingin sekali menerjangnya di tempat tidur lalu menggelitiknya hingga dia tertawa dan menyerah. Mereka dulunya seperti itu.


“Pulang aja sana. Dari tadi kerjanya cuman ngomel mulu, cerewet banget kek buk-ibuk, resek. Ih, nyebelin banget dia hari ini. Pake acara mau ngadu-ngadu laporin gue ke papa segala. Dih, dia pikir papa bakal marahin gue? Gak mungkinlah. Papa, ‘kan, sayang banget sama gue.” Dia masih terus bicara sampai Saskia benar-benar keluar dan menutup pintu.


Caitlyn berbalik lalu mengintip sejenak ke arah pintu dan tidak mendapati Saskia di sana.

__ADS_1


“Ck, beneran pulang lagi, tega bener ninggalin gue sendirian di sini. Gue yang bakal laporin ke papa sama Al nanti,” sungut Caitlyn bicara sendiri.


Beberapa menit kemudian sendiri dalam kesepian, Caitlyn mendengar bunyi pintu yang terbuka. Tanpa berbalik, wanita hamil itu mulai mengomel lagi dan lagi.


“Ngapain balik lagi ke sini? Sana balik lagi. Gue gak butuh siapa-siapa di sini. Gue bisa sendiri,” sambut Caitlyn tanpa melihat siapa yang datang.


Beberapa menit menunggu mungkin saja Saskia akan membalas ucapannya, tetapi tidak. Caitlyn tidak mendengar suara apa pun di sana. Kesunyian masih sama mendominasi.


“Percuma lu di sini. Udah deh, pulang aja sana ....” Caitlyn masih terus mengoceh.


“Beneran, nih, aku disuruh pulang?” tanya seseorang yang barusan masuk saat itu.


Suara berat itu serta-merta membuat Caitlyn menurunkan selimut dan langsung terduduk detik itu juga.


“Al?” Dia kaget bukan main. “Se-sejak kapan kamu di situ?” Caitlyn mendadak gugup.


“Belum lama ini,” jawab Lean. “Tapi beneran nih, aku disuruh pulang?” Caitlyn kelabakan dan ketar-ketir sendiri. “Padahal sudah buru-buru ngebut dari jauh demi bisa ketemu kamu secepatnya.” Lean pura-pura sedih.


“Bukan kamu yang aku maksud, Al. Tapi Saskia. Dia sangat menyebalkan hari ini. Kenapa tadi pake acara manggil dia buat temani aku segala, sih?” sahut Caitlyn mulai marah.


“Memangnya apa yang dia lakukan, hm?” tanya Lean begitu lembut.


Namun, Caitlyn tidak mampu untuk menjawab pertanyaan sederhana itu. Wajah cantiknya tiba-tiba saja memerah dan memanas, kala Lean meraih kedua tangannya lalu menggenggam dan memberi kecupan.


“Aku tidak percaya siapapun untuk menjagamu. Hanya dia satu-satunya orang yang aku percayai tidak akan menyakiti kamu,” ucap Lean membela Saskia.


Caitlyn menunduk begitu dalam karena tidak mampu untuk membalas tatapan Lean yang teramat dalam padanya. Detik berikutnya Lean melepaskan tangan Caitlyn dan beranjak dari duduknya.


“Mau ke mana, Al?” tanya Caitlyn dengan cepat.


Lean tidak menjawab. Pria itu meraih makanan yang sedari tadi masih tetap utuh. Caitlyn jadi malu sendiri melihat itu. Dia pikir Lean akan pergi meninggalkannya lagi.


“Aku tidak akan ke mana-mana lagi. Jadi sekarang makan dulu, yah,” pinta Lean.

__ADS_1


Caitlyn pun mengangguk dan langsung menyambar piring dari tangan Lean. “Iya. Biar aku makan sendiri saja.”


Penolakan datang dari Lean. “Biarkan aku yang melakukannya. Ini sebagai tebusan karena aku sudah meninggalkanmu tadi saat tertidur.”


Bumil cantik itu tersenyum dengan perasan bahagia yang tidak terkira. Jika saja ada alat untuk mengukur kebahagiaan, mungkin alat itu dapat mendeteksi dan menunjukkan perasaan Caitlyn bahwa dia adalah wanita paling bahagia saat ini.


“Papa mana?” tanya Caitlyn di sela-sela aktifitas mengunyah.


Pintu terbuka dan orang yang ditanyakan pun tiba-tiba muncul dari sana. Tidak lupa Saskia mengekor di belakang. Caitlyn semakin tersenyum bahagia melihat pria paruh baya yang selalu membuatnya bahagia.


“Papa ...,” sapa Caitlyn dengan girang.


“Halo, Sayang! Kenapa baru makan sekarang? Cucu papa kenapa dibiarkan kelaparan?” Hadya bertanya dengan lembut.


“Dia gak mau makan kalo belum liat Lean katanya, Om. Gimana, sih, bukan mikirin bayinya malah mikirin bapaknya si bayik.” Omongan Saskia membuat Caitlyn malu setengah mati.


Ingin rasanya dia menyembunyikan dirinya di dalam cangkang kerang. Sedangkan Lean hanya tertawa mendengar penuturan Saskia.


Uh, punya bestie, kok, malu-maluin banget, sih? Awas aja lu, Kia.


“Maaf, papa.” Caitlyn meminta maaf lalu menunduk lagi.


Hadya bergerak mengusap kepalanya. “Tidak apa-apa, Sayang. Makanlah lagi yang banyak.” Perintah Hadya dan Caitlyn mengangguk.


Tidak lama setelah makanan yang disuapi Lean pun habis, Caitlyn penasaran akan sesuatu dan menanyakan itu pada ayah mertuanya.


“Pa, tapi papa belum cerita sama Caitlyn kalau papa tau pasien yang Caitlyn sembunyikan dari mana? Lalu keributan semalam ... gimana keadaannya? Caitlyn mau liat sebentar, Pa.”


Ucapan dan permintaan itu seketika membuat Hadya maupun Lean terbungkam. Ayah dan anak itu saling melemparkan tatapan bingung. Bingung ingin menjawab pertanyaan Caitlyn seperti apa.


Apa aku harus jujur saja? Tapi aku takut dia terluka ....


...TBC...

__ADS_1


...🌻🌻🌻...


__ADS_2