
Hadya belum sempat untuk menahannya, Lean sudah lebih dulu berlalu pergi dengan merampas kunci mobil yang ada pada Jerry. Hadya berusaha mengejarnya tetapi kalah cepat. Lean sudah melesat dari sana dengan kecepatan yang tidak perlu ditanyakan lagi.
Pria paruh baya itu mendadak khawatir. Dia segera meraih ponsel dan menghubungi para penjaga untuk tidak membukakan pintu gerbang bagi Lean jika tiba di sana. Bukan apa-apa, tetapi Hadya takut putranya itu menyakiti Sania ataupun Cecilia. Dia tahu seperti apa watak Lean. Selain itu, Hadya tidak ingin membuat keributan di saat kondisi ibunya–Nenek Sanju sedang tidak sehat.
“Anak itu tidak pernah bisa mengendalikan emosinya,” ucap Hadya sambil menggeleng.
Dia lalu memanggil Jerry dan memerintahkan untuk membawanya ke kediaman utama. Sepanjang perjalanan, Hadya memijit pelipisnya saking pusing dibuat tingkah Lean. Dalam hati pria paruh baya itu berharap Lean tidak sampai lepas kendali. Ini yang selalu Hadya takutkan jika putranya itu mengetahui kecurangan-kecurangan Sania.
Dua puluh menit berlalu dan mobil Lean kini berada tepat di depan gerbang besar kediaman keluarganya. Sudah menunggu beberapa detik, tetapi gerbang tersebut tak kunjung dibuka. Pria itu memberi klakson berulang kali, tetap sama tak terbuka.
“Penjaga sia*lan! Ada apa dengan mereka hari ini?” maki Lean sambil memberi klakson panjang beberapa kali lagi.
“Benar-benar sia*lan memang.” Meraih ponsel dan menelepon bagian pos penjagaan di dalam sana.
📲 “Breng*sek, kau sedang tidur atau kau pura-pura tuli, hah?
📲 “Ma-maaf, Tuan. Tetapi ka-kami hanya takut saja.”
📲 “Takut apa, bo*doh? Buka gerbangnya sekarang!”
📲 “Ta-tapi kami takut dimarahi tuan besar, Tuan.
Lean mengumpat dan langsung mematikan sambungan teleponnya. Dia mengerti jika ayahnya baru saja memberikan perintah.
“Baiklah, kalau itu yang papa mau.”
Setelah berucap seperti itu, Lean menghidupkan kembali mesin mobil yang sempat dia matikan tadi. Para penjaga yang berada di dalam sana, mulai bisa bernafas lega begitu mendengar deru mesin mobil yang berbunyi. Mereka berpikir jika tuan muda akan segera pergi dan mengamuk pada ayahnya.
Namun, nyatanya yang terjadi adalah bunyi benturan keras pada gerbang, membuat semua penjaga kaget dan ketar-ketir. Tindakan Lean yang menabrak gerbang, memenjarakan para penjaga dalam dilema rumit. Entah harus menurut pada tuan muda atau tuan besar. Sementara keduanya sama-sama mereka hormati.
“Kita harus bagaimana ini? Apa kita buka saja gerbangnya? Tapi tuan besar …..”
Salah satu penjaga bertanya dan meminta pendapat pada penjaga yang lain. Tidak memiliki pilihan dan takut membuat keputusan yang berujung kesalahan, penjaga di sana menghubungi sang tuan besar dan memberitahukan perbuatan si tuan muda.
__ADS_1
📲 “Katakan pada penjaga lain untuk menahannya di depan pintu jika dia sampai berhasil masuk. Sebentar lagi saya tiba di sana.”
Begitu yang diperintahkan Hadya saat mendapat laporan.
“Lean benar-benar tidak waras,” sungut Hadya. “Lebih cepat lagi, Jerry. Atasanmu sungguh membuat pusing.” Hadya berbicara dengan tidak tenang karena ingin segera sampai dan menghentikan putranya.
Sementara itu, Lean masih berusaha melakukan aksinya beberapa kali. Menarik pedal gas lalu menabrak gerbang besi yang menjulang tinggi di depannya dengan brutal. Sama sekali dia tidak peduli dengan kondisi bagian depan mobilnya yang sudah hancur.
Beberapa kali mencoba, pintu gerbang besi nan kokoh itu tak kunjung terbuka, meskipun kondisinya cukup parah dan tidak seindah semula. Tak pantang menyerah, Lean kembali mencoba dan kali ini bertepatan dengan kadatangan ayahnya.
Hadya cepat-cepat tur un dari mobil dan menghampiri Lean. Pria itu mengetuk pintu bagian pengemudi dengan kuat.
“Lean? Buka, Lean!” teriak Hadya sembari tangannya bergerak mengetuk pintu mobil anaknya
“Tidak akan,” gumam Lean yang tidak peduli sama sekali.
Pria itu sekali lagi memundurkan mobilnya dan melaju hingga menabrak gerbang sekali lagi. Hadya memegang kepalanya yang begitu pening.
Tidak bisa untuk menghentikan dia ….
“Sh*it!” Membuka pintu mobil lalu keluar menemui ayahnya. “Papa kenapa, sih? Kenapa selalu saja menghalangi Lean?” Bertanya dengan nada kesal pada ayahnya.
“Papa bukan menghalangi kamu, papa hanya menghentikan kegilaanmu. Jangan membaut semuanya semakin kacau dengan kelakuan kamu!” kata Hadya sedikit marah.
“Apanya yang kacau? Bukannya semua memang sudah kacau? Bilang saja papa ingin membela istri Papa itu, ‘kan?” Lean semakin kesal.
“Tidak seperti itu!” pekik Hadya yang tidak suka dengan perkataan anaknya.
“Lalu kenapa Papa menghalangi Lean?” Bersedekap di depan ayahnya dengan tidak tenang.
“Kau tahu? Sania tidak sendiri dalam setiap geraknya. Papa tidak mau dengan kecerobohanmu ini, justru akan berimbas pada keselamatan Caitlyn! Sania itu nekat, Lean. Sama gilanya seperti kamu. Jadi jangan selalu menggunakan emosimu yang hanya akan memercik emosi orang lain,” ucap Hadya dengan penuh penekanan dan emosi.
Lean terdiam sejenak menatap ayahnya dengan begitu serius.
__ADS_1
“Sekarang bukan waktunya menghadapi Sania. Dia akan menjadi urusan papa. Urusan kamu adalah mengenali lagi perasaanmu lebih jauh. Apakah kamu mencintai Caitlyn? Apa kamu sudah yakin jika yang ada di dalam kandungannya itu anakmu?” Pertanyaan telak itu membuat Lean samakin bungkam.
Dia berbalik dan membelakangi ayahnya. Keduanya terdiam dengan pikiran Lean yang melanglang buana entah ke mana.
“Lean, kau masih ragu? Apa yang ingin kau buktikan lagi untuk meyakinkan semuanya? Jangan pernah berpikir untuk melakukan tes DNA–”
“Tidak, Pa!” sahut Lean dengan cepat menghetikan omongan ayahnya.
“Jadi?” Hadya menaikan alisnya.
Menatap ayahnya beberapa detik lalu menjawab, “Tidak perlu melakukan itu. Lean percaya sama Papa.”
Hadya tersenyum lalu menggeleng. “Bukan sama Papa, Nak. Tapi percalah pada Caitlyn dan juga pada hatimu.”
Tidak membalas ucapan sang ayah lagi, Lean langsung masuk ke dalam mobilnya. Hadya melihat itu dengan bingung.
“Mau ke mana, Lean?” Hadya mengikutinya dan beridiri di samping jendela mobil.
Lean sudah menghidupkan mesin mobil dan hendak melesat dari sana.
“Ke tempat di mana hatiku berada.” Sudah menjalankan mobilnya.
“Di mana memangnya, Lean?” terima Hadya menghetikannya lagi.
Lean berhenti tanpa keluar dari mobil. Dia melongokan kepalanya keluar dan melihat ke belakang, menatap ayahnya dengan senyum kecil.
“Ke tempat Caitlyn, Pa!” jawabnya singkat dan langsung melesat dari sana.
Hadya ingin menghentikan tetapi Lean sudah tidak bisa terjangkau lagi. Pria paruh baya itu hanya bisa menggeleng sambil tersenyum penuh bahagia.
“Memangnya dia tahu menantuku sekarang tinggal di mana” Hadya mengedikan bahunya. “Ah, lebih bagus kalau dia ke tempat yang lama. Biar saja itu menjadi hukuman kecil baginya. Paling-paling dia akan panik jika tau Caitlyn sudah tidak ada lagi di sana.”
Hadya terkeh membayangkan raut panik putranya.
__ADS_1
...TBC...
...🌻🌻🌻...