Behind The Divorce

Behind The Divorce
Bab 24. Not a Kid Anymore


__ADS_3

Suasana di rumah keluarga Sanjaya setiap hari semakin hambar dan seolah tak bercahaya. Meskipun kini sudah ada Cecilia–putri bungsu dari Hadya dan Sania, tetapi kehadirannya sama sekali tidak mampu mengubah apapun. Cahaya yang pernah dinyalakan oleh Caitlyn, kini telah redup dan tidak seorang pun yang dapat menghidupkannya kembali.


Bertahun-tahun lalu, rumah mega bak istana itu seakan mati bersamaan dengan kepergian ibu kandung Lean. Namun, kehadiran Caitlyn mampu menghidupkan cahaya itu kembali.


Tidak bisa dipungkiri jika pertama kali dia hadir di sana, Nenek Sanju, Hadya, dan Lean sendiri tidak menyukainya bahkan membencinya. Namun, kebencian itu dibalas Caitlyn dengan perlakuan yang manusiawi sebagai balasan atas kecurangan yang sudah dia lakukan saat menjebak Lean.


“Selamat pagi, Tuan. Ini kopi untuk Anda.”


Setiap pagi Caitlyn sudah bangun lebih dulu dan menyiapkan semua sarapan. Kopi untuk Hadya dan jus bit untuk Nenek Sanju. Dia tidak seperti Sania yang harus menawarkan atau diminta terlebih dulu.


“Halo, nek. Seperti biasa jus bit. Habiskan jusnya yah. Ini baik untuk kesehatan jantung nenek.”


Meskipun kerap mendapat penolakan dari sang nenek, Caitlyn tidak pernah menyerah. Niat baik yang ia taburkan, akhirnya menuai hasil. Hadya perlahan mulai menyayanginya, begitu pun dengan nenek Sanju. Belum lagi sikap ramahnya yang senang menyapa dan tersenyum pada para pelayan, juga hobinya yang senang di dapur, mematahkan berbagai penilaian buruk keluarga Sanjaya padanya.


“Dita, boleh aku pinjam area kerja kalian?”


“Pak, boleh aku minta bunganya?


Jangan tanyakan tentang Sania dan Lean. Untuk Sania, dia tidak pernah mendapat perlakuan baik dari Caitlyn karena dia sendiri yang menyeret paksa wanita itu masuk ke dalam rencana besarnya. Sementara Lean, pria itu sangat takut jika wanita licik seperti Caitlyn meracuninya. Lean masih ingat betul saat dia dijebak melalui minuman yang diberikan Caitlyn padanya saat di blue garden tiga tahun lalu.


“Pakai yang ini saja, suamiku. Yang ini simple tapi elegan.”


“Aku sudah menyiapkan pakaianmu, suamiku.”

__ADS_1


Hanya hal-hal lain di luar urusan makan yang dapat Lean terima.


Mengganti bunga-bunga yang mulai tampak layu dengan rangkaian bunga segar yang dia ambilkan sendiri dari taman, memberi makan ikan-ikan yang terdapat dalam kolam maupun akuarium, semua Caitlyn lakukan dengan senang hati. Jelaskan pada siapa pun, hati mana yang tidak luluh dan terpikat dengan hal-hal sederhana ini?


Hadya termenung mengingat setiap hal yang dilakukan Caitlyn selama ini. Tutur santun dan senyum manis yang begitu positif, entah kenapa tidak bisa meluluhkan putranya?


Hadya melihat jam di pergelangannya sudah menunjukkan pukul 02.00 AM. Dia bergegas mempersiapkan diri untuk keluar.


“Pa? Mau ke mana siang-siang gini?” tanya Sania yang melihat suaminya begitu rapi.


“Ada meeting dengan pemilik SW–Entertainment.” Hadya berucap tanpa melihat istrinya.


Sementara Sania tiba-tiba berbinar mendengar ucapan suaminya. “Papa kenal sama orangnya?” tanyanya tak sabar.


“Iya. Kenapa memangnya?” Hadya sudah siap dan hendak keluar kamar.


Hadya melirik istrinya. “Jika dia ingin, berusahalah sendiri. Tunjukkan kemampuannya jangan hanya menggunakan nama keluarga untuk sebuah popularitas yang tidak bisa dia pertahankan.”


“Pa! Dia putrimu satu-satunya. Apa Papa tega liat putri sendiri jadi pengangguran?” Sania tampak kesal. Dia tahu bahwa suaminya itu masih marah pada Cecilia atas kesalahannya tempo hari.


“Kenapa harus mencari kerjaan di luar? Sanjaya Grup masih butuh banyak karyawan.” Hadya mengatakan fakta yang sebenarnya.


“Pa! Papa kenapa jadi menyebalkan gini, sih? Masa anak pemilik perusahaan besar harus kerja jadi karyawan? Harus ngemis kerja sama kakaknya sendiri? Atau harus ngemis ke orang lain juga? Harga diri kita di mana, Pa?” Sania heran dan tidak habis pikir dengan suaminya saat itu.

__ADS_1


“Apa yang salah memangnya? Lagian Sanjaya Grup bukan lagi milik papa, itu semua sudah jadi milik Lean. Minta sama dia, dia yang akan membimbing adiknya.” Ucapan ini sama sekali tidak disetujui Sania. Mengemis pada Lean? Tidak, tidak! Meskipun perlakuan pria itu baik padanya, tetapi Sania tahu hati dan sikap Lean seperti apa.


Sania masih melamun dan Hadya kembali melanjutkan ucapannya. “Satu lagi, Ma. Ganti kata ngemis dengan berusaha atau kerja keras. Jangan hanya karena dia berasal dari keluarga yang berada membuatnya menganggap semua hal itu mudah. Mau jadi apa dia jika hanya mengandalkan nama besar keluarga? Sudahlah, Ma. Anak itu mending diam saja dulu di rumah sampai dia memang benar-benar siap untuk menentukan masa depannya sendiri. Tidak perlu dipaksa dan diatur-atur. Dia bukan anak kecil yang harus dituntun!” jelas Hadya panjang lebar dan tegas.


Setelah mengatakan itu, dia berpamitan pada istrinya dan berlalu dari sana. Dia tidak peduli jika istrinya merajuk dan sebagainya. Hadya tidak ingin melemahkan hati yang hanya akan membuatnya luluh, kemudian berakhir marah dengan kelakuan anak dan istrinya.


...***...


Pada waktu yang bersamaan, tetapi di tempat yang berbeda, Nathan mengunjungi tempat lokasi syuting Saskia. Gadis itu berprofesi sebagai seorang aktris yang dinaungi oleh agensi milik keluarganya sendiri–agensi terbesar di kota tersebut. Hal ini yang menjadi alasan kenapa Sania begitu mengharapkan Cecilia bernaung di agensi tersebut. Akan tetapi, tidak semudah yang wanita tua itu harapkan karena Saskia akan memblokir akses Cecilia untuk masuk ke sana.


“Nath? Napa kok nyari gue sampe sini segala?” Saskia menghampiri pria itu pada waktu istirahat. “Gada jadwal kontrol pasien emang?”


Nathan tersenyum dan mengangguk. “Gue mau liat akting lu aja gitu.” Nathan bercanda dan keduanya tertawa. “Hmm, Ki. Gue mau minta alamat Lily. Please, jangan sembunyikan dia dari gue juga!” pinta Nathan kemudian.


Saskia menghentikan tawanya dan terlihat ragu. “Bukan gue gak mau kasih, Nath. Tapi gue udah janji sama Lily. Dia gak mau ketemu siapapun. Dia takut jika salah satu dari kita ada yang ke sana, Lean dan keluarganya bakal tau keberadaan dia. Gue aja sampe harus nahan kangen gak ketemu dia,” ucap Kia apa adanya.


Wajah Nathan memelas dengan kedua tangan yang terkatup di dada.


“Please, Kia. Gue bakal hati-hati dan melihat situasi yang baik. Please banget, Kia!”


Saskia terdiam.


Ini Nathan, loh, Lily. Gue harus apa?

__ADS_1


...TBC...


...🌻🌻🌻...


__ADS_2