Behind The Divorce

Behind The Divorce
Bab 61. Hi, Son!


__ADS_3

Penghulu dan satu orang saksi kini sudah bersiap, begitu pun juga dengan Nathan. Raut bahagia tidak dapat terelakkan dari wajahnya tampannya. Jelas jauh berbeda dengan Caitlyn yang merasa dunianya sebentar lagi akan hancur.


Setiap detik bagi Caitlyn hanyalah ingin mati. Saking stresnya, dia lupa dengan kehamilannya. Ingin rasanya dia mengakhiri hidupnya detik itu juga saat melihat Nathan dengan bahagianya menjabat tangan penghulu.


“Apakah Anda sudah siap, Pak Nathan?” tanya penghulu sebelum mulai.


“Sangat siap, Pak penghulu!” jawabnya tegas.


Namun, kebahagiaan besar yang dirasakan Nathan saat itu, seketika buyar saat mendengar keributan besar dari bawah sana. Tidak hanya Nathan, tetapi Sania dan Tamara pun mendadak panik.


Melihat hal itu, raut frustasi Caitlyn berganti senang. Dia tahu bahwa Hadya tidak akan tinggal diam saja. Dia selalu meyakini bawah sosok bak pahlawan itu akan hadir saat dirinya terjatuh dan sangat membutuhkan pertolongan. Meskipun terkadang keterlambatannya membuat Caitlyn ingin rasanya mengakhiri hidup.


“Papa,” gumamnya dengan perasaan lega tak terkira.


Namun, Nathan justru benci melihat kebahagiaan di wajah cantik Caitlyn karena pernikahannya yang hampir saja gagal.


“Jangan pedulikan yang terjadi di bawah sana, Pak penghulu. Kita lanjutkan saja,” ucap Nathan tidak mau tahu.


“Tidak, tidak! Jangan lakukan itu, Pak penghulu! Dia adalah pria gila. Aku ini wanita bersuami, dan yang datang itu pasti ayah mertuaku yang ingin menjemputku,” ucap Caitlyn dengan cepat.


Tamara kesal lalu mendekat pada Caitlyn dan menutup mulutnya.


“Diam kau, Bi*tch!” ucapnya sedikit berbisik pada Caitlyn. Setelah itu dia berbalik menghadap penghulu dengan tangan yang masih menutup mulut Caitlyn. “Mulai saja, Pak. Jangan dengarkan dia! Dia memang memiliki gangguan kejiwaan. Dan teman saya ini sangat mencintai dia, ingin menikahinya agar bisa merawatnya, Pak. Tolong dilanjutkan lagi,” lanjut Tamara.


Banyak penjelasan yang masuk ke telinganya dari beberapa orang yang berbeda, membuat penghulu itu bingung untuk memutuskan semuanya. Entah ingin melanjutkan atau membatalkan saja. Kesempatan itu digunakan Caitlyn untuk kembali berontak.

__ADS_1


“Arrrggg!” Tamara tiba-tiba menjerit kesakitan dan langsung melepaskan tangannya dari mulut Caitlyn. “Dasar wanita ja*lang!” makinya sambil mengibas-ngibaskan tangannya.


“Papa …! Papa …! Caitlyn di sini, Pa!” Caitlyn justru berteriak memanggil Hadya tanpa peduli dengan kesakitan yang dirasakan Tamara karena gigitannya.


Sania yang panik dari tadi, langsung berdiri dan menjambak rambut Caitlyn.


“Sekali lagi kau memanggilnya, aku tidak segan untuk menggores ini ke wajahmu,” ucap Sania sambil menunjukan sebuah pisau lipat.


Tubuh Caitlyn bergetar ketakutan, sedangkan penghulu dan seorang saksi langsung berdiri dan hendak meninggalkan ruangan tersebut. Namun, langkah keduanya tertahan kala berhadapan dengan beberapa orang pria yang melangkah masuk.


“Siapa kalian? Tetap di tempat dan jangan beranjak sedikit pun!” Seseorang menerobos lebih dulu dan menodongkan senjata ke arah penghulu dan saksi.


Beberapa yang lain kemudian ikut masuk dari belakang dan seseorang di antaranya, membuat perasaan Caitlyn mendadak tenang dan senang.


Suami dari Sania itu langsung hendak melangkah ke arah menantunya, tetapi hal itu justru memberi efek tidak baik bagi Caitlyn. Nathan bergerak lebih cepat dan langsung menyambar pisau lipat yang dipegang Sania, lalu menekannya di leher mulus Caitlyn karena Sania mulai kehilangan fokus ketika melihat Hadya di sana.


“Jangan coba-coba mendekat, Tuan Sanjaya, jika tidak ingin melihat menantu kesayanganmu ini terluka!” ancam Nathan.


Hadya terkejut menatap pria muda yang lama menghilang dari pandangannya.


“Oh, hai, Son! Lama tidak bertemu dan kau semakin liar.” Hadya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, lalu semakin mendekat. “Papa pikir dengan mengasingkan dirimu, kau akan sadar dan berubah menjadi lebih baik.” Hadya tersenyum penuh sesal. “Nyatanya kau masih Nathan yang sama, yang selalu menginginkan dan mengambil paksa apa yang manjadi milik kakakmu. Papa masih kecewa sama seperti dulu,” lanjut Hadya sambil menatap dalam putranya bersama Sania.


Nathan berdecih. “Aku bukan putramu dan aku tidak punya papa yang tidak berhati seperti Anda, Tuan Sanjaya. Selama ini aku hanya hidup sendiri dan tidak ada yang peduli denganku. Jadi jangan ucapkan penyesalanmu itu padaku, karena aku tidak akan peduli.” Dia menjeda lalu melirik sejenak ke bawah, ke arah Caitlyn. “Dan tentang dia, aku yang selama ini bersamanya sejak dia masih hidup di lingkungan kumuh itu. Kalian yang sudah merebutnya dariku, jadi tidak ada salahnya aku mengambilnya kembali!” imbuh Nathan dengan nada meninggi.


Caitlyn menggeleng dan tindakan itu sukses membuat lehernya tergores. Suara ringisannya mebuat Hadya mendadak panik.

__ADS_1


“Caitlyn!” panggil Hadya penuh khawatir. Pria paruh baya itu lalu menatap Nathan. “Nathan, papa mohon. Lepaskan pisau itu dan jangan menyakitinya! Kau boleh minta apapun yang kau inginkan, tapi papa mohon sama kamu buat lepasin Caitlyn.” Hadya menawarkan.


Nathan tergelak. “Sayangnya aku sudah tidak membutuhkan apapun lagi dari banyaknya harta kekayaanmu, Tuan Sanjaya. Aku hanya mau dia dan memiliki dia. Jika bukan aku yang memilikinya, siapapun tidak boleh memiliki dia. Putra kesayanganmu sekalipun.”


“Dia itu istri kakakmu, Nathan. Jika kau ingin, masih banyak wanita lain di luar sana, kau bisa memilih sesukamu. Bukannya mengambil istri kakakmu!” Hadya terpancing emosi karena melihat Caitlyn yang terluka.


“Tapi bagaimana, aku hanya inginkan Caitlyn seorang,” ucap Nathan tidak peduli dan semakin menekan pisau itu ke sisi leher Caitlyn yang lain.


Wanita cantik yang tampak kacau itu menatap ayah mertuanya dengan wajah memohon, membuat Hadya semakin tidak berdaya.


“Jangan coba-coba bergerak, Asisten bodoh. Sedikit saja kau berpindah, wanita ini akan tiada dan atasanmu pasti akan menghabisimu,” ancam Nathan pada Jerry kali ini.


Jerry pun tidak dapat melakukan apa-apa, bahkan Hadya memerintahkan beberapa anak buahnya yang masih berdiri di belakang untuk menuru senjata mereka, demi keselamatan Caitlyn.


“Apa yang kau inginkan? Jika hanya untuk mendapatkan Caitlyn, kau tidak perlu seperti ini tinggal menunggu perceraian mereka, bukan? Setelah itu kau bisa membawanya pergi jauh.” Hadya mengerti motif lain di balik itu.


Seketika Nathan terbahak. “Kau bukan papa yang baik tetapi peramal yang handal. Aku harus mengapresiasi ini, Tuan Sanjaya.” Masih tertawa. “Aku rasa aku tidak perlu mengatakannya karena Anda pasti tau yang aku inginkan. Dan keinginanku masih sama seperti dulu, Tuan Sanjaya.”


“Nathan, kau … jangan harap!” geram Hadya.


“Dan karena itu kau akan melihat menantu kesayanganmu ini tiada di tanganku ….”


...TBC...


...🍀🍀🍀...

__ADS_1


__ADS_2