Behind The Divorce

Behind The Divorce
Bab 36. Call from Papa


__ADS_3

Setelah pertengkaran itu, Nathan maupun Lean benar-benar pergi dari rumah Caitlyn. Namun, bagi Nathan itu bukan keinginannya melainkan atas paksaan dari Lean dan juga Caitlyn sendiri. Lean menarik paksa pria itu dan keduanya berjalan keluar dari tempat tinggal Caitlyn.


Meskipun sempat khawatir jika Lean akan menyakiti sahabatnya, tetapi Caitlyn sudah tidak sanggup untuk melerai dua pria itu. Dia memilih menutup pintu rumahnya lalu menguncinya dengan rapat. Dia yakin bahwa Nathan bisa menjaga dirinya dengan baik. Di samping itu, tadi dia juga bisa melihat dengan jelas emosi Lean yang masih cukup baik dan tidak meledak-ledak seperti biasanya.


Caitlyn baru saja hendak menutup mata, tetapi dering ponsel memaksanya untuk bangun kembali. Tadinya dia malas dan ragu untuk menjawab karena takut jika itu adalah Nathan ataupun Lean. Namun, begitu dia mengambil ponsel dan melihat nama yang tertera pada layar, Caitlyn pun bernapas lega dan segera menjawabnya.


📲 “Halo, pa. Selamat malam.”


📲 “Halo, nak. Kau tidak apa-apa?”


Ternyata itu adalah Hadya. Dapat Caitlyn dengar dengan jelas nada khawatir di ujung sana. Dia pun tersenyum karena perhatian luar biasa dari pria paruh baya itu.


📲 “Iya, pa. Caitlyn baik-baik saja.”


📲 “Kau sedang tidak membohongi papa? Katakan, apa yang dia lakukan padamu? Apa dia menyakitimu?”


Nada Hadya terdengar memaksa dan Caitlyn hanya bisa tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. Dalam hati dia mengandai-andaikan jika saja Lean sebaik dan seperhatian ayahnya, mungkin Caitlyn akan menjadi wanita yang paling bahagia dan paling beruntung di dunia ini.


📲 “Nak, kau masih di sana? Kau dengar papa?”


📲 “Iya, pa. Caitlyn dengar, Caitlyn baik-baik saja, pa. Sungguh. Lean tidak menyakiti Caitlyn. Ya, dia cuman marah-marah karena tadi ada Nathan juga di sini. Maafin Caitlyn karena mengizinkan pria lain selain Lean masuk ke sini. Caitlyn minta maaf, pa.”

__ADS_1


Mendengarnya, Hadya menarik napas lega. Pria paruh baya itu dapat tersenyum tenang. Dia tahu bahwa putranya tidak seburuk itu untuk dia khawatirkan.


📲 “Oh, jadi papa juga termasuk pria lain?”


Hadya bercanda.


📲 “Eh, gaklah, pa. Orang lain maksudnya itu selain anak papa.”


Caitlyn bisa mendengar suara tawa di seberang telepon.


📲 “Syukurlah kalau begitu. Kalau sampai dia menyakitimu atau berbuat kasar, papa akan ke sana sekarang juga dan menghukumnya.”


📲 “Ih, jangan, pa! Udah malem, bahaya loh. Orang Lean gak ngapa-ngapain cuman marah-marah gak jelas kok, pa.”


Panggilan telepon itu pun berakhir, tetapi Caitlyn kini sulit memejamkan matanya. Ada gelisa yang kini mengungkungnya. Parahnya lagi, pikiran dan hatinya justru selalu tertuju pada Lean. Di mana dia sekarang? Apa yang sedang dia lakukan? Itu yang terlintas dalam pikiran Caitlyn.


Balik ke kiri, balik lagi ke kanan, begitu terus yang dilakukan Caitlyn untuk bisa terpejam tetapi selalu gagal. Oh, lagi-lagi pria itu mengacaukan hari-hari tenangnya sebulan terakhir ini. Pengaruhnya terlalu besar dalam hidup Caitlyn. Hingga jarum jam menunjukkan angka 12.00 am, Caitlyn baru bisa tertidur pada waktu tengah malam itu.


...***...


Hari masih gelap dan sang fajar pun baru saja mengintip di ufuk barat, belum berani menampakkan diri seutuhnya. Ayam berkokok bersahut-sahutan, saling berbalas dengan kicauan burung yang menyerupai nyanyian setiap pagi untuk membangunkan Caitlyn.

__ADS_1


Wanita itu terbangun dan melihat pada jam dinding. Waktu baru menunjukkan pukul setengah enam pagi. Caitlyn masih bermalas-malasan di tempat tidur sambil mengotak-atik ponselnya. Setengah jam kemudian dia bangun dan langsung melangkah ke dapur.


Diambilnya segelas air hangat lalu meminumnya hingga tandas. Dia kemudian membuka kulkas dan melihat bahan-bahan yang tersedia di sana yang bisa dia gunakan untuk membuat sarapan.


“Ck, ini mulu tiap hari.” Menutup pintu kulkas dengan malas.


Dia bosan dengan menu yang hampir sama setiap hari. Tiba-tiba dia teringat dengan sebuah rumah makan di ujung jalan tempat tinggalnya. Rumah makan itu selalu dibuka pagi-pagi benar.


“Aha, cari sarapan aja di sana. Sekalian, ‘kan, jalan pagi hirup udara segar,” ucapnya dengan senyum. Dia lalu melangkah ke kamar berniat mengganti pakaiannya.


Setelah membasuh wajahnya, Caitlyn segera berganti baju menggunakan hoodie berwarna hitam dengan legging panjang warna senada. Bumil cantik itu mengikat rambutnya tinggi, lalu melangkah keluar sambil memegang sebuah pouch kecil yang hanya cukup memuat ponsel dan beberapa lembar uang. Sampai di depan pintu, tidak lupa dia berganti sandal rumah dengan sandal jepit yang biasanya dia gunakan jika ke pasar-pasar tradisional.


“Okay, let's go!” ucapnya dengan riang sambil menuruni beberapa undakan kecil di depan teras rumahnya.


Sepertinya hati wanita itu mulai membaik pagi ini pasca guncangan mental yang dihadirkan Lean dan juga Nathan semalam. Namun, langkah Caitlyn tiba-tiba berhenti dengan kening yang mengkerut begitu sampai di depan pagar rumahnya. Sebuah mobil yang tidak lagi asing terparkir tepat di depannya kini.


Caitlyn mendekat dan ingin memastikan apakah ada pemiliknya di dalam sana? Dan benar saja, seseorang dengan pakaian semalam yang dia lihat, sedang tertidur di dalam mobil. Perlahan dia membuka pintu pagar dan melangkah keluar lebih mendekat ke arah mobil itu terparkir.


“Sejak kapan dia ada di sini?”


...TBC...

__ADS_1


...🌻🌻🌻...


__ADS_2