Behind The Divorce

Behind The Divorce
Bab 6. Where is She?


__ADS_3

Tamara tiba di rumah besar keluarga Sanjaya. Wanita itu langsung disambut oleh ibunya Lean. Oh, rupanya sebelum tiba di sana, Tamara sudah memberitahukan Sania sebelumnya.


Berbanding terbalik dengan Caitlyn, kedua wanita itu terlihat begitu akur. Namun, keakraban mereka tidak mampu menyelami maksud dan tujuan masing-masing. Jauh dari yang tampak di mata semua orang, keduanya ternyata saling berlomba untuk memoroti harta milik keluarga Sanjaya.


“Halo, Cantik. Kenapa mukanya seperti itu?” tanya Sania saat menyambut Tamara.


“Gara-gara menantu Tante. Mana dia, Tan? Ara mau kasih pelajaran buat dia,” ucap Tamara dengan kekesalan yang sudah di ubun-ubun.


“Caitlyn? Dianya sudah pergi dari tadi. Telat kamu, Ra.” Sania lantas berjalan ke ruang tamu. Mau tidak mau, Tamara pun mengikutinya.


“Arrghh, sial. Padahal Ara udah gak tahan pengen bejek-bejek muka dia, Tan.” Tamara berjalan sambil menghentakkan kakinya bak anak kecil.


“Memangnya ada apa lagi sama itu anak? Sini duduk dulu,” ucap Sania setelah duduk. Dia pun menunjukkan sisi kosong di sebelahnya.


Tamara menghempaskan tubuhnya dengan wajah yang semakin memberengut kesal. Dia kemudian menceritakan apa yang telah terjadi di kantor tadi. Sania terkejut mendengar hal itu. Ya, dia pun tidak percaya dengan yang dilakukan oleh Lean.


Berbeda dengan Tamara yang berpikir bahwa Caitlyn yang sudah meracuni Lean, Sania justru menduga jika putranya itu mulai memiliki rasa cinta untuk Caitlyn. Wait, Lean jatuh cinta dengan istrinya? Sania dilema antara senang karena itu artinya Caitlyn tidak jadi menggugat cerai Lean, ataukah dia semakin takut karena jika begitu berarti dia tidak bisa lagi mendapatkan apa-apa dari pernikahan mereka.


Saat tidak ada cinta di antara keduanya saja Sania harus mengupayakan segala cara baru bisa mendapatkan uang, bagaimana dengan sekarang yang sudah ada cinta? Bukankah itu akan semakin sulit? Bukankah Caitlyn yang akan diuntungkan dengan semua ini? Bagaimana jika mereka memiliki anak?


“Tidaaaaakkkkk!” pekik Sania tiba-tiba.


“Tante, Tante kenapa?” tanya Tamara keheranan sekaligus panik.


“Ah, hah? Tidak, tidak apa-apa.” Sania tampak kalut. Bagaimana tidak? Alatnya untuk mendapatkan harta keluarga Sanjaya, kini semakin sulit dikendalikan. Gawat!


“Tante yakin?” Tamara memastikan.


“Sepertinya tante mau istirahat sebentar, Ra. Kita bicara lagi nanti, yah.” Sania memutuskan untuk mengakhiri pembicaraan mereka.


Wanita itu butuh waktu untuk memikirkan apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Tamara pun berpamitan pulang dan Sania mengantarkannya sampai ke pintu depan. Setelah Tamara menghilang, Sania langsung menuju ke kamarnya.


“Ah, sebentar. Dia kan sedang tidak ada di rumah.” Langkah yang awalnya menuju ke kamarnya, berbalik naik ke lantai 2 menuju kamar Caitlyn dan Lean.

__ADS_1


Sania berjalan dengan begitu terburu-buru. Sampai di sana, dia menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Sania mulai mencari sesuatu yang seharusnya sudah dia miliki sejak kemarin malam.


Tidak tanggung-tanggung Sania memporak-porandakan seisi kamar berukuran besar tersebut. Setiap laci meja di dalam sana tidak lolos dari penggeledahannya, bahkan wanita itu menerobos walk in closet milik pasangan suami-istri yang sedang tidak berada di tempat. Aktivitas gila Sania baru berhenti di saat matanya menemukan sebuah kotak di atas meja rias di dalam kamar tersebut.


Tidak menunggu lama, Sania langsung membukanya dan …. “Yes! I get it.”


...***...


Sore hari Lean telah kembali dari kantor. Tidak seperti biasanya dia selalu pulang malam, bahkan larut. Meskipun sedikit heran, Jerry tetap mengantarkan atasannya itu tanpa bantahan atau sepatah kata pun yang keluar seperti biasanya.


Setibanya pria itu di rumah, Sania maupun Hadya dibuat heran. Namun, berbanding dengan sang suami, Sania sudah bisa menebak jika putranya itu memang mulai berubah.


“Lean, kau ….” Hadya seolah tidak bisa meneruskan ucapannya.


“Iya, ini aku, Pa. Kenapa?” Datar seperti biasanya.


“Kamu … maksudnya tumben pulang jam segini. Kamu baik-baik saja, ‘kan, Nak?” tanya Hadya agak khawatir.


Lean mengernyit. “Yes, i‘m okay. Memangnya kenapa, Pa?”


“Oke, Pa, Ma. Aku ke atas dulu,” pamit Lean.


Sedingin-dinginnya Lean, pria itu masih memiliki sisi kebaikan dalam dirinya yaitu kesopanan. Dia selalu bersikap sopan pada siapapun kecuali terhadap Caitlyn dan Jerry. Entahlah, tapi respect Lean seolah terbatas untuk dua orang itu.


Lean membuka pintu kamar dan kesunyian yang menyambut dia di sana. Pria itu mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan tetapi tidak ada sosok cantik yang selalu menyambutnya. Meskipun sambutan itu berupa amarah, rayuan, dan tidak diinginkan Lean sekalipun, tetap saja dia merindukan rutinitas yang sudah berlangsung selama 3 ini. Lean sudah terlalu terbiasa dengan semuanya.


Jadi tidak heran apabila dia pulang dan tidak melihat keberadaan istrinya, bukan?


Tunggu sebentar, bukankah tadi Sania mengacak-acak isi kamar ini? Kenapa tidak terdengar komplain dari Lean? Be calm, wanita licik seperti Sania sudah mengantisipasi semuanya dengan aman sebelum Lean ataupun Caitlyn kembali.


“Ke mana dia?” gumamnya sambil berjalan ke arah kamar mandi.


Pria itu memeriksa di sana dan tidak jua menemukan Caitlyn. Langkahnya beralih ke area walk in closet, pun sama yang dia temui. Nihil.

__ADS_1


“Ke mana sih?” tanyanya mulai gusar.


Lean membuka dasi lalu melepaskan jas, kemudian dilemparkan ke sembarang arah. Pria itu menjatuhkan bobot tubuhnya di atas sofa besar yang terdapat di sana. Tangannya bergerak merogoh ponsel dan hendak mencari nomor sang istri untuk dihubungi, tetapi tiba-tiba dia berhenti.


“Ck, kenapa juga aku harus menghubunginya? Kenapa aku terlihat membutuhkan dia?” Lean membuang ponselnya ke atas kasur. “Aku, ‘kan hanya ingin bicara.” Pria itu menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa, lalu dia pun memejamkan matanya sejenak.


...***...


Di apartemen Saskia, suasana gelap mulai melingkupi kamar gadis itu. Namun, dia belum berani menyalakan lampu karena Caitlyn yang masih tertidur pulas seolah nyaman dengan keadaan gelap tersebut.


“Ly, Lily. Udah gelap loh. Lu gak balik? Dicariin suami lu n‘tar.” Saskia mencoba membangunkan sahabatnya dengan guncangan kecil.


“Ck, apa sih, Ki? Males ah. Gua, ‘kan dah bilang tadi bakal nginep malam ini. Seminggu kalo perlu,” Caitlyn berbicara dengan suara serak masih dilanda kantuk.


“Suami lu gimana?” Masih mengguncang tubuh Caitlyn.


“Biarin, gua gak mau ketemu dia sampe dia menyetujui perceraian kita. Dah ah, gua mau lanjut tidur lagi. Brisik lu,” jawab Caitlyn seraya mengeratkan pelukannya pada guling.


Saskia berdecak. “Tadi mertua lu telepon tapi gak gua angkat. Habis itu panggilan dari Dokter Vargas–”


“What? Mana ponsel gua? Mana? Dia bilang apa?” Caitlyn serta-merta bangkit dari tidurnya dan mencari ponsel ke mana-mana.


Kepala Saskia ikut bergerak ke sana-kemari seirama dengan pergerakan Caitlyn.


“Lu kenapa, sih? Siapa Dokter Vargas?” tanya Saskia penasaran.


Kedua tangan Caitlyn terangkat mere*mas rambutnya dengan kacau. “Dia itu dokter yang aku percayakan merawat–” Ucapannya mendadak terhenti dengan yang mata membola.


Detik berikutnya Caitlyn menarik Saskia untuk segera keluar dari kamar. “Gawat, Ki. Aku harus ke luxury landing sekarang juga. Jangan sampai iblis tua itu melakukan sesuatu yang membahayakan!” Caitlyn terus saja bicara tanpa penjelasan bagi Saskia.


Sampai di depan pintu apartemennya, Saskia menghempaskan tangan Caitlyn. “Luxury landing? Ngapain ke apartemen elite itu, hah? Lu gak lagi nyimpen sugar daddy, ‘kan? Dan jelaskan dulu soal siapa Dokter Vargas itu!” Saskia menahan gagang pintu yang hampir dibuka Caitlyn.


“Kita ke sana dan lu bakal dapat semua jawabannya. Trust me!” jawab Caitlyn dengan tegas.

__ADS_1


...TBC...


...🌻🌻🌻...


__ADS_2