Bukan Salahku Merebut Istrimu

Bukan Salahku Merebut Istrimu
BSMI 100


__ADS_3

“Pak Allan, maafkan semua perbuatan buruk Desta selama ini,” ucap Aluna dengan nada gemetar memegangi segelas jus.


Saat ini mereka sedang berada di sebuah kafe yang berada di dalam rumah sakit. Setelah Desta tertidur kembali, Aluna meminta bicara empat mata dengan Allan.


“Desta sebenarnya bukan orang jahat. Dia menyakiti Giany karena saya.”


“Tidak apa-apa, Aluna, bukan salah kamu. Lagi pula semua sudah berlalu.”


Aluna mengusap kedua sisi pipinya yang basah oleh air mata. Ia teringat kembali setahun lalu, ketika semuanya masih baik-baik saja. “Malam itu, beberapa hari sebelum pernikahan kami, Desta mabuk dan tidak sengaja bertemu Giany. Dia pikir Giany sengaja menjebaknya, makanya dia memperlakukannya dengan buruk. Desta memang salah ... Karena tidak mau kalah dari Dokter Allan, dia jadi terobsesi dengan Giany. Dan dia salah mengartikan itu sebagai cinta.”


Kamu benar Aluna, tapi saya juga harus berterima kasih kepada Desta karena sudah menyakiti Giany, jadi saya punya celah untuk merebutnya. Hehe, dasar jiwa pebinor! makinya dalam hati kepada diri sendiri.


“Saya tahu itu. Desta tidak pernah mencintai Giany, dia hanya terobsesi ingin memiliki. Kalau dia memang mencintai, jangankan memukul, membentak pun tidak akan tega.” Allan menyeruput secangkir teh hangat pesanannya. “Kamu jangan khawatir, saya akan bantu kamu sebisanya.”


“Membantu saya, Pak?” tanya Aluna bingung.


Allan mengangguk dengan senyum tipis di sudut bibirnya. Entah akan ada rencana apa setelah ini.


“Caranya?”


“Kamu ... saya pecat!” ucap Allan santai, membuat Aluna membulatkan kedua bola matanya.


🌻


🌻


Waktu menunjukkan pukul delapan malam ketika Allan tiba di rumah. Bu Dini dan Maysha sedang berada di ruang keluarga. Pandangannya menyapu seisi ruangan. Biasanya Giany akan menghabiskan waktu di ruang keluarga bersama Maysha dan Bu Dini. Namun, kali ini Giany tidak terlihat di sana.

__ADS_1


“Giany mana, Bu?” tanyanya.


“Tadi habis makan malam langsung ke kamar. Katanya mau istirahat. Kamu sudah makan?”


“Sudah, Bu.”


Setelah berbincang sebentar dengan Bu Dini dan bermain bersama Maysha, Allan beranjak menuju lantai atas. Giany sedang bersandar di pembaringan sambil memainkan ponselnya.


“Mas sudah pulang?” Ia menyalami sang suami dengan mencium punggung tangannya, dan disambut kecupan di kening oleh Allan.


“Iya, Sayang. Aku habis main sebentar dengan Maysha di bawah.”


Allan meneliti bagian kaki Giany yang membiru akibat benturan saat terjatuh dan memeriksa jengkal demi jengkal. “Kakinya bagaimana? Sudah enakan?”


“Iya Mas. Sudah tidak sesakit tadi.”


“Syukurlah.”


“Sudah, Sayang,” jawabnya sambil membelai wajah Giany, yang mana membuat Giany menyandarkan kepala di bahunya.


“Boleh aku tanya sesuatu?”


Giany menunduk setelahnya, membuat kening Allan berkerut. Seolah apa yang akan ia tanyakan akan membuat suaminya marah. “Kamu mau tanya apa?”


“Tapi jangan marah kalau aku tanya.”


“Iya, memang kapan aku pernah marah sama kamu sih?”

__ADS_1


Giany menggeleng. Memang benar bahwa sekali pun Allan tidak pernah marah kepadanya dan justru sangat memanjakan. Tetapi sebagai seorang istri, ia merasa wajib menjaga perasaan suaminya dan tidak membuat Allan cemburu dengan menanyakan laki-laki lain.


“Apa sih, tidak enak tahu digantung kayak anu.”


“Mas Desta bagaimana, Mas?” tanya Giany dengan ragu.


“Oh, mau tanya itu toh.” Allan terkekeh setelahnya, ia mengusap rambut Giany dengan lembut setelah menyadari Giany yang mungkin takut menanyakan keadaan mantan suaminya. “Desta baik-baik saja, kok. Tidak ada luka serius.”


Mendengar jawaban Allan, Giany pun akhirnya bernapas lega. Sejak tadi ia tidak dapat tenang dan merasa bersalah memikirkan nasib Desta.


"Kamu jangan pikirkan itu lagi. Lagi pula beberapa hari lagi kita akan pindah ke rumah baru dan memulai lembaran baru di sana. Jauh dari gosip dan tetangga julid."


"Iya, Mas." Giany lalu mengeratkan tangannya yang melingkar di pinggang suaminya, menghirup aroma tubuh Allan yang baginya menentramkan jiwanya. Dan hal sekecil apapun yang dilakukan Giany mampu menciptakan bahagia bagi Allan.


“Aku senang deh kalau kamu manja begini,” ucapnya sambil menghujani wajah Giany dengan kecupan. “Aku suka kalau kamu manja, cengeng, dan suka minta ini dan itu.”


“Kenapa, Mas?”


“Karena aku tidak mau kamu kehilangan fitrah kemanjaanmu sebagai istri. Banyak suami di luar sana yang senang istrinya jadi mandiri dan mereka malah bangga. Aku tidak mau seperti itu.”


“Kenapa, Mas? Bukannya bagus punya istri mandiri?”


“Karena kamu adalah tulang rusukku, bukan tulang punggung. Seperti halnya tulang rusuk yang melindungi hati, maka tugasmu adalah menjaga hati dan harta suamimu ... Kamu mengerti kan apa yang aku maksud dengan hati dan harta suami?”


“Mengerti, Mas?” jawabnya. “Cinta dan kehormatan suami.”


“Nah, itu mengerti.” Ia mengecup lagi dan lagi, memeluk dengan erat. Hangat dan lembut.

__ADS_1


Aku akan melindungi dan menjagamu dengan apapun yang aku miliki, karena kamu ... adalah tulang rusukku yang pernah dipinjam sama Desta.


🌻🌻🌻🌻


__ADS_2