Bukan Salahku Merebut Istrimu

Bukan Salahku Merebut Istrimu
BSMI 93


__ADS_3

Giany baru tiba di kantor pusat May-Day dengan diantar oleh Joko. Ia menatap bangunan megah itu dengan penuh kekaguman. Rasanya hampir tidak percaya bahwa gedung besar ini adalah milik suaminya.


Wah gedung kantornya besar sekali, aku mimpi apa sampai bisa menjadi istri Allan Hadikusuma. Dulu saja aku hanya SPG di toko sepatu.


Joko membuka pintu mobil, sehingga Giany segera turun. Siang ini ia datang untuk membawakan makan siang untuk suaminya. Sejak menikah, Allan jadi tidak suka makan di luar dan lebih menyukai makanan yang dimasak Giany.


Sesederhana itu, tetapi begitulah Allan.


“Bu Giany langsung ke ruangan bos saja ya. Mari, saya antar,” ucap Joko.


Laki-laki bertubuh tinggi itu membawa Giany memasuki lobby. Beberapa staf langsung menoleh saat melihat Joko masuk dengan membawa seorang wanita. Tentunya mereka sudah mengenal siapa Joko yang merupakan orang kepercayaan sang bos. Di antaranya sudah menerka bahwa wanita muda yang sedang bersama Joko adalah istri pemilik May-Day.


Joko mendekati meja resepsionis dan bertanya, “Bos ada di ruangannya, kan?”


“Ada, Pak Joko. Silakan ke atas,” jawab sang resepsionis dengan sopan.


Joko pun membawa Giany menuju sebuah lift khusus yang akan membawa mereka menuju lantai atas. Selama berada di dalam lift kaca itu, Giany tak henti-hentinya menatap kagum beberapa bangunan di sebelahnya.


“Pak Joko, kantornya Mas Allan besar sekali ya?”


Joko mengatupkan bibirnya mendengar pertanyaan polos Giany. “Iya, Bu. Kantornya besar dan mewah.”

__ADS_1


“Pak Joko sudah lama kerja sama Mas Allan ya?”


“Sudah tujuh tahun lebih, Bu.”


“Berarti sebelum May-Day didirikan?”


“Iya. Kalau kenal sama bos sih, sudah lama. Waktu saya belajar bela diri dan bos jadi instruktur. Terus saya sama Amir diajak kerja di rumahnya bos.”


“Mas Allan pernah jadi pelatih bela diri juga?” tanya Giany dengan nada terkejut.


“Iya, Bu. Waktu jaman bos masih kuliah.”


Tiba-tiba wajah Giany berubah saat mengingat Desta yang juga bekerja di perusahaan itu. Walau bagaimana pun ia masih takut jika harus bertemu dengan Desta.


“Pak Joko apa ruangan Mas Allan dekat dengan ruangan ...”


Walaupun Giany tidak menyebut nama Desta, tetapi Joko sudah paham siapa yang dimaksud Giany. “Tenang saja, Bu. Ruangan Pak Desta ada di lantai delapan, sedangkan ruangan bos di lantai sebelas, jadi agak jauh. Tapi Bu Giany kan tidak perlu takut. Mana mungkin dia masih berani ganggu istri bosnya.”


“Iya, Pak.”


Obrolan singkat berlangsung seru. Giany menanyakan beberapa hal tentang Allan. Sungguh, bagi Giany suaminya itu memiliki banyak hal mengejutkan.

__ADS_1


Hingga tanpa terasa mereka tiba di lantai teratas. Joko membawa Giany menuju ruangan Allan. Begitu pintu ruangan itu terbuka, Allan menyambutnya dengan senyum lebar.


“Joko, kamu pulang saja. Nanti Giany pulang sama saya.”


“Baik, Bos.”


Joko menutup pintu ruangan itu, kemudian berlalu dari sana. Sementara Allan sedang berbunga-bunga layaknya bunga bank, karena mendapat perhatian dari istrinya. Ia membawa Giany duduk di sofa.


“Aku bawa makan siang untuk Mas,” ucap Giany sambil meletakkan paper bag di atas meja.


“Makasih, Sayang. Kamu masak apa hari ini?” tanya Allan antusias. Ia selalu menanti menu masakan istrinya. Baginya, Giany adalah koki terhebat di dunia.


“Aku masak rendang. Aku bawa menu lain juga, sama sambel teri medan.”


“Jadi langsung lapar. Tapi aku mau makannya disuapi kamu ya ...” pintanya dengan nada manja.


Giany terkekeh. “Tapi lengan Mas tidak lagi sakit seperti waktu itu kan?”


“Hmm ... Kamu sengaja menyindir ya?” ucapnya sambil mengerucutkan bibir. Mengingat betapa malunya saat modus pura-pura sakit ketahuan seluruh penghuni rumah hanya demi mendapat perhatian Giany.


🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2