
"Kenapa lagi si Ayra itu, Allan?" tanya Bu Dini saat Allan baru saja naik ke mobil.
"Biasa lah, Bu. Kayak tidak kenal Ayra saja. Memang dia bisanya apa selain memperkeruh suasana?"
Allan mulai menyalakan mesin mobil, kemudian menoleh sejenak kepada Maysha dan Giany yang duduk di kursi belakang. "Kamu tidak apa-apa kan, Giany?"
"Tidak apa-apa, Dokter," jawab Giany dengan helaan napas lega. Yang ditakutkannya ternyata tidak terjadi. Padahal ia sudah menyiapkan mental jika Allan memarahi atau memecatnya karena kecelakaan yang menimpa Maysha.
"Lain kali kalau Ayra berbuat semena-mena sama kamu, lawan saja. Tidak udah memikirkan status dia sebagai ibu kandungnya Maysha. Terutama kalau kejadiannya seperti di sekolah tadi."
Bu Dini reflek menoleh kepada Allan dengan raut wajah kesal. "Tapi kamu tadi tegur dia kan?"
"Iya Bu. Untung Maysha tadi ngasih tahu, katanya Ayra ke sekolah dan marah-marah sama Giany. Iya kan, Maysha?" tanya nya seraya mulai melajukan mobil.
Maysha mengangguk sambil mengeratkan pelukannya di lengan Giany. Tadi saat di ruang IGD, ia sempat mengadukan kepada Allan tentang Ayra yang bersikap kasar terhadap Giany dan tentu saja baik Maysha maupun Allan tidak terima dengan perbuatan Ayra. Mereka akan berada di garda terdepan jika seseorang menyakiti Giany.
"Aneh mantan istri kamu itu. Apa otaknya geser, ya? Dia sendiri yang pergi dari rumah, menuntut cerai segala, dan sekarang mati-matian mau kembali. Kan lucu!" ujar Bu Dini sambil berdecak kesal.
"Mau bagaimana lagi, Bu?"
"Ya kamu menikah lagi secepatnya! Biar Ayra tidak mengusik kehidupan kita lagi," ucap Bu Dini membuat Allan mencuri pandang ke belakang melalui kaca spion. Ia ingin melihat reaksi Giany ketika Bu Dini memintanya menikah lagi. Tetapi yang ada hanyalah ekspresi datar seperti biasanya.
Allan menghela napas panjang. "Menikah dengan siapa, Bu?"
"Dengan Babylicious kesayangan kamu lah ... Dengan siapa lagi coba!"
Mendengar nama Babylicious disebut membuat raut wajah Giany mendadak sedih. Ia tiba-tiba teringat dengan seorang wanita yang tadi bersama Allan di sebuah kafe. Tetapi ia segera menepis perasaan aneh itu dan mengingatkan posisinya yang hanya seorang pengasuh.
"Oh ya Allan ... Kamu tadi dari mana, kenapa tidak ada di rumah sakit saat kami baru tiba?" tanya Bu Dini.
__ADS_1
"Oh itu tadi habis ketemu seseorang. Di mall tempat Maysha jatuh juga kok. Makanya tadi kaget waktu dapat info Maysha jatuh di sana."
"Ketemu sama siapa kamu? Laki apa perempuan."
"Perempuan."
"Siapa?" Mata Bu Dini melolot penuh selidik.
"Ah ibu, kayak tidak tahu saja. Kalau aku ketemu wanita di luar sana, ya sama siapa lagi, Bu ..."
"Oh ... Kirain sama siapa."
"Curigation lagi?" Sambil melirik sang ibu.
"Iya lah ... Awas kamu kalau macam-macam di luar, Babylicious mau dikemanakan?"
🌻
🌻
🌻
Sepertinya benar wanita tadi yang namanya Babilicious. Kenapa aku jadi sedih begini ya ... Seharusnya aku kan ikut senang untuk Maysha kalau dia akan punya seorang ibu sambung.
Giany bangkit. Ia segera keluar kamar menuju dapur untuk mengambil air mineral dingin di kulkas. Saat melewati ruang tengah, bersamaan denggan Allan yang juga baru keluar dari sebuah ruangan.
"Giany ... Kamu belum tidur?"
"Belum, Dokter."
__ADS_1
Allan melirik arah jarum jam di dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. "Ini sudah hampir larut malam. Tidak baik begadang."
"Saya belum bisa tidur, Dokter ..."
"Kenapa?"
"Tidak tahu. Sepertinya saya kena insomnia." Giany menarik napas dalam-dalam. "Em, Dokter ... Sebenarnya tadi saya dan Maysha melihat Dokter keluar dari kafe di mall. Apa wanita yang bersama Dokter itu Babylicious ya?"
Allan terperanjat. Ia sama sekali tidak menyangka jika Maysha dan Giany sempat melihatnya. "Jadi kamu tidak bisa tidur karena memikirkan itu ya?" Seringai misterius terbit di sudut bibirnya setelah merasa berhasil memancing kecemburuan Giany.
"Bu-bukan begitu Dokter ... Saya hanya ...."
"Apa?"
Giany menunduk, ia tidak tahu harus menjawab apa. Sementara Allan tersenyum puas. Mungkin malam ini adalah waktu yang tepat untuk menyatakan perasaan yang ia miliki kepada Giany.
Ayo Allan, ini kesempatan emas. Kasih tahu Giany seberapa berartinya dia bagi kamu ...
Allan menarik napas dalam sambil berusaha mengumpulkan keberanian. "Sebenarnya wanita yang tadi adalah teman lama saya... Dan Babylicious itu sebenarnya adalah ..."
"Permisi Bos! Saya mau lapor ..." Tiba-tiba Amir datang dari arah depan. Suaranya beratnya seolah bagaikan sambaran petir bagi Allan.
Allan menoleh dengan kesal, membuat Amir merasa merinding oleh tatapan tak bersahabat itu. Laki-laki itu telah merobohkan benteng keberanian yang dibangun Allan dengan susah payah.
"Kenapa sih kamu itu seperti burung gagak yang saat datang selalu membawa pertanda buruk?"
Amir garuk-garuk kepala pertanda bingung. "Loh, apa salah saya, Bos?"
Pakai tanya lagi ...
__ADS_1
🌻