Bukan Salahku Merebut Istrimu

Bukan Salahku Merebut Istrimu
BSMI 81


__ADS_3

Sesi maaf memaafkan selesai dengan baik. Para tetangga julidly sudah pulang ke rumah masing-masing dengan mengantongi sebuah PR dari Dokter Allan, yaitu menjelaskan kepada seluruh warga kompleks bahwa apa yang mereka tuduhkan kepada Giany selama ini tidak benar.


Giany sudah kembali ke kamar. Sambil membawa secangkir teh hangat, Bu Dini menghampiri Allan yang sedang berada di sebuah ruangan pribadinya.


“Allan, kamu kok semudah itu memaafkan para tetangga,” ucap Bu Dini sambil meletakkan secangkir teh.


“Saling dendam itu tidak baik, Bu. Biar sajalah, lagi pula kasihan, anak mereka ada yang masih kecil.” Allan meraih cangkir teh, menyeruputnya dengan nikmat. “Lagi pula berkat fitnah mereka aku dan Giany bisa menikah. Coba tidak ada fitnah itu, anak ibu ini pasti masih berjuang dengan mengandalkan modus yang gagal terus,” ucap Allan membuat Bu Dini terkekeh.


“Iya juga sih.”


“Segala sesuatu pasti ada hikmahnya, Bu. Tidak hanya kebahagiaan yang mendatangkan hikmah, setiap ujian juga membawa hikmah.”


“Kamu benar. Ya sudah, ibu mau ke dapur dulu.”


“Iya, Bu."


🌻


🌻


Keesokan harinya Allan sengaja pulang lebih awal untuk memenuhi janjinya kepada Giany. Mereka sedang dalam perjalanan menuju ke suatu tempat.


“Mas kita mau ke mana sih?” Pertanyaan itu sudah beberapa kali diucapkan Giany. Ia sangat penasaran dengan sebuah kejutan yang tadi dibisikkan suaminya.


Allan tersenyum, sambil melirik Giany sekilas. Meraih jemari wanita itu dan mengecup punggung tangannya. “Ada deh. Nanti kamu juga tahu kalau sudah sampai.”


Tak lama berselang, mereka tiba di sebuah rumah dengan gerbang besar. Giany menatap rumah itu dengan kagum.



“Ini rumah siapa, Mas?”


“Nanti kamu juga tahu.”


Mobil yang dikendarai Allan memasuki gerbang setelah seorang pria membukanya. Giany kembali merasa terheran menatap pria yang baru saja membuka gerbang megah itu. “Itu kan Pak Amir. Kenapa Pak Amir ada di rumah orang, Mas?”


“Aku yang minta dia ke sini.”

__ADS_1


Mobil berhenti di halaman rumah. Giany dan Allan segera turun. Amir datang menghampiri sang bos. "Bagaimana, Bos?"


“Lumayan. Saya suka,” ucap Allan sambil meneliti bagian luar rumah itu.


“Iya, Bos. Rumahnya jauh lebih bagus dari rumah yang sekarang.” Amir kemudian membuka pintu utama rumah. “Silakan, Bos. Kali mau lihat-lihat interiornya.”


Mendengar obrolan Allan dan Amir, Giany pun menjadi semakin penasaran. “Ini rumah siapa sih, Mas?”


“Ini rumah kamu,” jawabnya membuat sepasang mata Giany membola. “Rumah baru kita. Kamu, aku, ibu dan Maysha akan memulai hidup baru di rumah ini.”


Antara percaya dan tidak, Giany menatap rumah itu dengan kekaguman. Ini adalah rumah yang terlampau bagus baginya dan tidak pernah terbayangkan sebelumnya akan memiliki rumah seindah ini. “Ini rumah kita?”


“Iya. Sebelum masuk, kita berdoa dulu, yuk. Supaya rumah ini membawa berkah untuk kita.”


Allan kemudian membawa Giany masuk ke rumah itu dan berkeliling. Di lantai bawah ada ruang tamu dan ruang keluarga yang cukup luas dan sangat nyaman. Di lantai dua ada kamar untuk Bu Dini, Bibi Misa dan Maysha. Juga sebuah musholla untuk ibadah berjamaah.


“Kamar kita di lantai tiga. Mau lihat?”


“Mau, Mas?” jawab Giany antusias.


Melewati tangga menuju lantai atas, Giany masih menatap kagum. Bahkan rumah itu telah lengkap dengan segala perabotannya. Sehingga barang dari rumah lama tidak perlu diangkut ke rumah baru.



“Mas serius kita akan tinggal di sini?”


Allan hanya tersenyum mendengar pertanyaan polos itu. “Iya, Sayang. Ayo ikut aku ke kamar kita!”


Ia menggandeng tangan Giany menuju sebuah kamar yang ada di ujung. Giany begitu terpukau. Kamar itu bukanlah kamar sebuah kamar supermewah dengan berbagai fasilitas di dalamnya. Hanya sebuah kamar dengan jendela kaca besar dan beberapa lemari di dalamnya. Ia tahu Allan tidak suka segala sesuatu yang berbau kemewahan berlebih.



Allan memeluknya dari belakang, melingkarkan tangannya di perut Giany, kemudian berbisik, “Kamu suka?”


“Suka, Mas. Suka sekali.” Pandangan Giany menyapu seisi kamar. “Tapi, Mas, kenapa kamar kita di ujung sekali? Sedangkan kamar Maysha dan ibu ada di bawah?”


“Aku sengaja, biar jauh dari jangkauan si Amir.” Allan melepas pelukan, lalu menuju sudut kamar dan menyalakan lampu.

__ADS_1


Alis Giany pun berkerut tanda bingung. Ada hubungan apa antara Amir dan kamar dibuat di ujung? “Memang Pak Amir kenapa, Mas?”


“Kamu serius tanya?”


“Hah?” Giany semakin bingung.


“Aku buat kamar diujung sengaja, soalnya si Amir lebih menyebalkan dari tetangga yang suka ghibah.”


“Menyebalkan kenapa, Mas?”


“Apa perlu aku jelaskan satu-satu alasan kenapa Amir itu menyebalkan?" Giany membeku. Ia tidak tahu kenapa suaminya itu sangat julidly jika itu berhubungan dengan Amir. "Sudah ah, jangan bahas si Amir dulu.” Allan menangkup wajah giany, mengecup keningnya dengan sayang. Suasana romantis pun kembali tercipta.


“Rumah ini aku buat sejak awal mengenal kamu. Aku akui aku berdosa, karena sudah berencana merebut istri orang. Tapi, aku tidak tahan melihat kamu selalu datang periksa kandungan dengan wajah lebam. Jadi aku putuskan merebutmu dari laki-laki jahat itu. Aku ingin memulai hidup yang baru bersama kamu di rumah ini. Rumah yang sekarang terlalu banyak kenangan buruk tentang masa lalu. Kamu juga tahu sampai sekarang Maysha masih trauma dan takut masuk ke kamar atas.”


“Iya, Mas.”


“Karena itulah, aku mau kita membuat kenangan baru di rumah ini,” ucap Allan membuat Giany menatapnya penuh cinta. Entah siapa yang memulai, keduanya telah larut dalam ciuman mesra.


Allan menggendong dan merebahkannya di tempat tidur, membuat wanita itu gelagapan. “Mas mau apa?”


“Sekali saja, biar imunku meningkat.”


“Pintunya?”


“Jangan khawatir, tidak ada yang lihat kok, kamar ini kan jauh dari jangkauan si Amir.”


Allan mengunci tubuh Giany sehingga sulit bergerak, memberi ciuman di beberapa tempat yang membuatnya melupakan sejenak urusan dunia.


Tiba-tiba ...


“Bos, mau la—” Amir membeku di ambang pintu, lalu menutup kedua matanya dengan telapak tangan. “Maaf, Bos! Saya tidak tahu kalau anu—”


Allan mendengus, lalu menatap Giany. Baru saja ia berkata membuat kamar ujung agar jauh dari jangkauan Amir, namun laki-laki itu sudah ada di ambang pintu.


“Ini salah satu alasan kenapa aku mau kamar kita ada di bagian paling ujung di rumah ini.”


🌻

__ADS_1


Ku kasih foto biar kalian halulicious nya bebas hambatan


__ADS_2