
Giany meneliti wajah Allan seolah mencari sesuatu di sana. Pikirannya menebak, jika Allan dan Desta bertemu di hotel, sudah pasti ia akan kesal setengah mati. Tetapi saat ini Allan sama sekali tidak terlihat sedang kesal ataupun marah, sehingga membuat Giany penasaran.
Kening Allan mengerut menatap Giany dengan heran. “Kamu kenapa sih?”
“Ti-dak, Mas ...”
“Terus kenapa menatap begitu?”
“Tidak apa-apa.”
“Aku kalau diliatin begitu jadi merasa ganteng loh.” Ia mulai menggoda Giany lagi. Seolah benar-benar puas membuat wajah istrinya memerah karena malu.
Giany menghela napas, jika suaminya sudah mulai menggodanya lagi, ia harus bersiap untuk segala kemungkinan.
Giany kemudian membantu melepas jas, dasi dan kemeja, lalu mengambilkan setelah piyama di lemari. Sedangkan Allan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Ia harus memanfaatkan malam ini dengan sebaik-baiknya jika ingin serabi hangat, dorayaki, serta squishy yang kenyal.
Modus rupanya tidak pernah hilang.
🌻
🌻
“Apa Mas Allan bertemu Mas Desta di hotel?” tanya Giany seraya menyandarkan kepala di lengan sang suami, sambil menatap langit-langit kamarnya.
“Ketemu.” Allan menjawab santai.
“Apa Mas Desta membuat masalah lagi?”
"Tidak."
__ADS_1
"Terus?"
"Memang kenapa sih. Kamu kok kepo soal dia? Kamu sengaja mau buat aku cemburu, ya?" Ia membuang muka setelah mengucapkan kalimat itu.
Giany gelagapan. Tidak ingin Allan salah paham, ia pun segera memeluknya dengan erat, lalu memberinya kecupan bertubi-tubi di seluruh bagian wajahnya.
Hmm ... Dasar Giany. Giliran pura-pura ngambek baru mau elus-elus.
"Bukan begitu, Mas. Aku takut dia membuat masalah dengan Mas di hotel."
Allan tersenyum, membelai wajah Giany dengan lembut. "Tidak, Sayang. Untung kamu memberi tahu sebelumnya kalau Desta kerja di May-Day. Jadi aku tidak jantungan di acara itu."
"Yang seharusnya jantungan kan dia, bukan Mas Allan. Terus, apa Mas memecatnya?"
Allan menjawab dengan gelengan kepala, yang mana membuat kening Giany berkerut. "Aku pikir Mas akan langsung pecat. Kan dia sering buat masalah sama Mas."
"Dendam itu tidak baik, Sayang. Kalau aku balas dia dengan cara yang sama, apa bedanya aku sama dia." Ia menjeda ucapannya dengan tarikan napas. "Untuk bisa bahagia, jangan racuni hatimu dengan kebencian," ucapnya sambil menunjuk dada Giany.
"Tapi kan, Mas ..."
"Giany Sayang... Kita sudah bahagia. Kita juga tidak kekurangan apapun. Jadi, terlalu jahat kalau hati kita masih bisa membenci. Aku memang tidak suka kelakuan Desta, tapi aku tidak membencinya. Dan aku akan berdosa kalau mengajarkanmu membenci seseorang."
Mendengar ucapan Allan, Giany menatapnya sendu. Ya, Allan memang seseorang yang berbeda. Terlalu berbeda. Entah harus seperti apa Giany mewujudkan rasa syukurnya memiliki Allan dalam hidupnya.
"Terus aku mau dihukum apa? Tadi Mas bilang mau menghukum aku."
Allan terkekeh. Giany yang polos memang sangat menggemaskan baginya. Wanita itu bahkan tidak bisa diajak berkomunikasi dengan bahasa kode-kodean.
"Memangnya kamu bersedia dihukum?" Ia menatap Giany dengan ekor matanya.
__ADS_1
"Dihukum apa dulu?"
"Sini aku ajari menghukum istri seperti di novel-novel."
Allan duduk menyelonjorkan kaki panjangnya. "Hukuman yang pertama pijat kaki."
Giany tersenyum. Kalau hanya hanya pijat kaki itu mudah saja baginya. Ia mulai melakukan pijatan lembut di kaki Allan. "Begini sudah pas ya, Mas?"
"Iya, Sayang. Tapi pijat ke atas sedikit juga boleh."
Wanita itu pun menggerakkan jemarinya ke atas, mulai dari betis hingga ke bagian paha. Allan bersandar sambil memejamkan mata, menikmati pijatan demi pijatan yang diberikan Giany. Jika sudah seperti ini, nikmat Tuhan mana lagi yang dapat ia dustakan.
"Terus, Sayang ... Ke atas lagi. Nah iya, ke atas terus."
Mengikuti perintah suaminya, Giany terus memijat ke atas. Hingga sampai pada pangkal paha, ia memijat sebentar hingga Allan meraih jemarinya.
"Kamu sengaja pijat bagian situ ya, biar aku tegang?"
Alis Giany saling bertaut. Bingung dengan tingkah suaminya. "Loh, kan Mas Allan sendiri yang suruh pijat ke atas terus."
"Kan aku bilang ke atas terus, kamu malah berhenti di situ. Jujur saja, kamu sengaja merayu aku, kan?" Jari-jari Allan mulai bermain di wajah, turun ke bahu. Menjatuhkan tali pakaian tipis Giany ke lengan.
"Ti-tidak, Mas."
"Tidak usah malu, Sayang. Aku tahu kamu mau apa." Ia mengecup bahu putih mulus itu. Menuduh Giany yang menginginkan, padahal sebenarnya dirinyalah yang sedang menggebu. "Aku rela memberikan apapun yang kamu mau. Tidak usah merayu seperti itu."
Allan membuka kancing piyamanya sehingga menampilkan bentuk tubuhnya yang kokoh. "Aku sudah siap, silakan nikmati aku sesukamu."
Wajah Giany semakin merona merah. Allan benar-benar berhasil menjebaknya.
__ADS_1
🌻