Bukan Salahku Merebut Istrimu

Bukan Salahku Merebut Istrimu
BSMI 91


__ADS_3

Hari ini pertama kalinya Allan menginjakkan kaki di kantor pusat May-Day sejak beberapa tahun belakangan.


Semua staf dan karyawan yang berada di lobby sontak menoleh ketika sang bos memasuki gedung. Beberapa di antaranya langsung menyapa dan memberi hormat, ada pula yang hanya berani menatap dengan penuh kekaguman dari jarak jauh. Ia berbincang sebentar dengan beberapa staf.


“Pak, sudah mau jam sepuluh. Sebentar lagi rapat dimulai,” ucap Pak Ardan yang berdiri di belakang Allan.


Tidak ingin berlama-lama, ia segera memasuki lift yang akan membawanya ke lantai paling atas. Pagi ini akan ada rapat seputar teknik marketing yang akan dipimpin langsung oleh Allan.


Beberapa jajaran petinggi perusahaan dan juga staf marketing, termasuk Desta sudah menunggu di ruang rapat. Mereka langsung berdiri begitu Allan memasuki ruangan. Desta seketika memucat, tetapi berusaha menyembunyikan kecanggungan nya.


“Selamat pagi semua,” sapa Allan dengan ramah diiringi senyum tipis.


“Selamat pagi, Pak,” jawab mereka bersamaan.


Rapat pun dimulai, Pak Ardan membuka rapat dengan sambutan dan menerangkan beberapa hal seputar produk terbaru perusahaan.


Sebagai pemimpin tim marketing, Desta pun tampil membuka presentasi dengan baik dan memukau, meskipun dalam hati benar-benar gugup dan khawatir.


Allan menyadari gelagat Desta, tetapi ia cukup terkesan. Benar kata Pak Ardan bahwa Desta memiliki loyalitas yang tinggi terhadap perusahaan dan kinerjanya tidak perlu diragukan lagi, terlepas dari kepribadiannya yang dinilai Allan kurang baik.

__ADS_1


Allan membuka suara setelahnya.


“Tujuan kita menghadirkan May-mil Premature adalah sebagai solusi. Ketika permasalahan utama beberapa orang tua yang kurang mampu adalah tingginya harga produk susu formula bagi bayi lahir prematur, maka May-Mil Premature hadir sebagai solusi, menghadirkan produk terbaik dengan harga terjangkau,” jelas Allan.


“Tapi, Pak ... Apa harga May-Mil ini tidak terlalu rendah? Biaya produksi tidak sebanding dengan harga penjualan,” ucap seorang direktur.


Allan tersenyum. “Pak Iksan, kembali kepada visi dan misi May-Day. Perusahaan ini tidak saya dirikan hanya untuk sekedar meraup keuntungan sebanyak-banyaknya. Tapi sebagai bentuk kepedulian terhadap dunia kesehatan, terutama bagi anak-anak. Menekan harga bukan berarti rugi, kita tetap untung tanpa harus mencekik konsumen.”


Pak Iksan mengangguk tanda mengerti, begitupun dengan beberapa orang lainnya.


"Semoga May-Day membawa manfaat bagi orang banyak," tuturnya kemudian.


Rapat selesai! Allan beranjak menuju sebuah ruangan diikuti Pak Ardan yang berjalan di belakangnya. Setibanya di ruangan, ia duduk di kursi kebesarannya.


“Silakan, Pak.”


Pak Ardan tampak ragu, terlihat dari bahasa tubuhnya. Ia menunggu beberapa saat, seolah mengumpulkan keberanian.


“Desta sudah memberitahu saya semuanya. Maaf Pak, karena saya baru tahu tentang masalah Pak Allan dengan Desta. Saya mempromosikan Desta sebagai manager marketing karena kinerjanya sangat bagus menurut saya. Tapi kalau Pak Allan tidak setuju Desta bekerja di perusahaan kita, saya bisa memberhentikannya sekarang juga.”

__ADS_1


Mendengar ucapan Pak Ardan, Allan hanya tertawa kecil. “Kalau kinerjanya baik, kenapa tidak dipertahankan? Pak Ardan, masalah saya dengan Desta adalah masalah pribadi. Tidak ada sangkut pautnya dengan urusan pekerjaan.”


“Tapi, Pak—”


“Lagi pula tidak etis kalau saya memecat tanpa alasan. Kita tidak bisa mengedepankan ego saja. Desta sudah bekerja dengan baik dan dia layak menduduki jabatan manager marketing."


“Pak Allan yakin?” tanya Pak Ardan seakan ragu.


“Loh, malah tanya saya. Gimana sih, Pak Ardan ini? Kan Pak Ardan sendiri yang bilang Desta punya loyalitas tinggi terhadap perusahaan. Kalau kompeten, kenapa tidak?”


“Hehe ... Iya sih, Pak.” Ia menggaruk kepala tidak jelas.


“Ya sudah, beritahu dia supaya siap-siap untuk pelantikan manager baru.”


“Baik, Pak.”


Allan melirik arah jarum jam di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah satu siang. Artinya sudah jam istirahat.


“Saya ke musholla dulu, ya.”

__ADS_1


“Silakan, Pak Allan.”


🌻🌻🌻


__ADS_2