
Mobil memasuki halaman rumah setelah Amir membuka gerbang. Giany masih betah dengan wajah merengut. Ia bahkan enggan menatap Allan saking kesalnya.
“Yakin tidak mau ikut?” Allan membantu melepas safety belt, sementara yang di tanya terus diam. Tangan Allan pun terulur mengusap rambut. Biasanya Giany akan terbuai dan luluh saat Allan mengusap kepalanya dengan lembut. “Sayang ...” panggilnya lagi saat Giany masih diam.
Wanita itu menoleh dan menatap wajah Allan, tetapi bibirnya masih mengerucut. Allan tidak tahan lagi dengan tingkah menggemaskan Giany, sehingga mendaratkan ciuman di bibir dengan gerakan cepat yang bahkan tidak terduga. Giany bahkan diam saja ketika Allan menggigitnya dengan gemas.
“Bibirnya tolong kondisikan. Kalau begini mirip ujung sedotan yang minta disedot terus.” Sambil tersenyum puas, ia bercermin melalui kaca spion. Ada bekas lipstik Giany di sana. Allan meraih selembar tissue dan mengusap bibirnya.
“Kamu benar tidak mau ikut? Aku mau ketemu Ayra loh ini.” Ia menatap lekat wajah Giany, mencari raut kecemburuan di sana, akan tetapi sama sekali tidak nampak. Yang ada hanya wajah cemberut yang lucu.
“Tidak mau, Mas. Lebih baik aku temani Maysha di rumah.”
“Ya sudah tidak apa-apa, aku berangkat ya ...” Mencium kening dan bibir sekali lagi.
Giany mengulurkan tangan dan mencium punggung tangan Allan, lalu membuka pintu mobil dan turun. Sementara Allan menatapnya hingga menghilang di balik pintu. “Bu Allan ... Bu Allan ... Kok kamu makin imut sih.”
Allan baru akan melajukan mobil ketika menyadari Amir berdiri tidak jauh dari mobil dengan menutup mata. Senyum yang menghiasi wajahnya mendadak meredup. “Kamu ngapain di situ, Mir?” tanya Allan ketus.
Amir membuka matanya. “Maaf, Bos! Saya beneran tidak lihat Bos cium Bu Giany kok. Sumpah! Saya kan langsung tutup mata.”
Allan mendengus. “Kamu tidak ada rencana cuti panjang, Mir? Saya mulai malas sama kamu karena terus ganggu kenikmatan saya loh.”
“Hehe ...” Bukannya menjawab, Amir malah cengar-cengir, yang mana membuat Allan segera melajukan mobil meninggalkan rumah.
__ADS_1
*****
Ayra berjalan maju mundur dengan gelisah menunggu kedatangan Allan, ia melirik arah jarum jam di dinding. Hari sudah beranjak siang, namun Allan belum juga tiba.
Tak dapat dipungkiri bahwa keputusan Allan membantunya untuk bebas dari jeratan hukum membuatnya besar kepala. Ia menaruh harapan besar bahwa Allan sudah mau memaafkan kesalahannya di masa lalu.
Sementara Freddie hanya menatap Ayra tanpa ekspresi, sambil sesekali memainkan ponselnya. Tak lama berselang ...
Ceklek!
Pintu terbuka, dalam hitungan detik Allan muncul dari balik pintu. Ayra yang tak dapat membendung perasaan bahagia yang membuncah, berlari mendekati Allan dan ingin memeluk.
“Stop! Jangan sentuh aku!” Belum sempat Ayra menyentuhnya, Allan sudah memberi reaksi yang tak terduga.
“Aku kemari untuk membuat kesepakatan dengan kamu, bukan untuk peluk-pelukan," ucap Allan membuat Ayra mundur selangkah.
Harapannya untuk dapat menjalin hubungan lagi seketika luntur menyadari sikap dingin Allan. Wanita itu mengusap air mata yang sudah berada di ujung mata dan hampir saja tumpah.
“Membuat kesepakatan?”
“Iya ...” jawabnya singkat. “Fred ... Kamu belum jelaskan ke dia isi perjanjiannya?”
"Belum. Akan lebih baik kalau kedua belah pihak ada."
__ADS_1
Freddie kemudian meminta Ayra duduk dengan tenang. Begitu pun Allan yang memilih duduk di samping kuasa hukumnya itu.
Mata Ayra kembali basah setelah membaca poin-poin persyaratan dari Allan yang tertulis pada selembar kertas. Salah satunya adalah, tidak lagi mengusik rumah tangganya dengan Giany dan bersedia menjamin tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
“Apa-apaan ini, Al? Aku tidak mau tanda tangan!” Ia menggeser map ke hadapan Freddie dengan kasar.
“Terserah! Kamu tanda tangan, maka kamu akan bebas. Tapi kalau tidak mau juga tidak apa-apa, itu hakmu. Lagi pula kesepakatan itu akan menguntungkanmu juga. Kamu masih boleh menemui Maysha kapan saja, dengan syarat selama Maysha tidak menolak.”
Freddie meletakkan kembali map ke hadapan Ayra.
“Pasti Giany kan yang minta ini semua? Dia mau menjauhkan kamu dari aku.”
Allan terkekeh. "Kamu sadar Ayra. Giany berhak menjauhkan aku dari kamu, karena aku suaminya."
"Lalu bagaimana dengan Maysha? Dia juga mau merebut Maysha dari aku!"
Allan pun berdecak. “Kamu tidak pernah berubah Ayra. Kamu masih saja berpikiran buruk tentang orang lain. Kamu dengar baik-baik, aku mau membantu membebaskanmu hanya karena Giany yang memohon. Dan itu semua demi kebaikan Maysha yang mendapat tekanan karena kelakuan buruk ibunya. Kalau bukan Giany yang memohon, aku sama sekali tidak akan peduli seberapa lama pun kamu mendekam di penjara.”
Ayra seketika membungkam.
"Dan untuk semua kebaikan istriku, kamu masih bisa berpikiran buruk tentangnya? Kamu benar-benar sudah tidak waras."
🌻
__ADS_1