
Giany duduk dengan gelisah di depan ruang Instalasi Gawat Darurat. Sudah hampir satu jam berlalu namun belum ada tanda-tanda Maysha akan keluar dari ruangan itu. Hanya beberapa perawat yang tampak saling bergantian masuk dan keluar.
Giany menghela napas frustasi. Seluruh tubuhnya masih gemetar karena khawatir. Air mata yang sejak tadi berusaha ia tahan perlahan mulai mengalir di sudut matanya. Apalagi jika teringat tangisan histeris Maysha yang kesakitan sepanjang perjalanan menuju rumah sakit.
Kini ia pikirkan hanya keadaan Maysha dan berharap semua akan baik-baik saja. Ia sudah pasrah jika nanti Allan akan memarahinya atau bahkan memecat dan memintanya pergi dari rumah.
Bu Dini datang setelah mengurus administrasi Maysha. Ia segera menghampiri Giany dan mengusap bahu wanita muda itu untuk menenangkannya. "Tenanglah Giany. Maysha pasti baik-baik saja. Dia sudah ditangani dokter."
Mengusap air mata yang mengalir di pipi, Giany menatap Bu Dini. "Ini salah saya, Bu. Seharusnya saya tidak membiarkan Maysha bermain sendirian di sana sampai jatuh dan terluka seperti ini."
Wanita paruh baya itu duduk di sisi Giany dan menyandarkan di bahu. Membuat air mata yang mengalir semakin deras. "Musibah siapa yang tahu akan terjadi, Giany. Jangan menyalahkan diri sendiri. Kamu tenang saja, Maysha itu anak yang kuat."
__ADS_1
"Tapi, Bu ..." ucapan Giany menggantung. Tubuhnya semakin gemetar saat melihat Allan berjalan dengan tergesa-gesa dari kejauhan. Melihat raut kekhawatiran di wajah Allan saja sudah membuatnya merasa merinding. Ia sudah menebak, bahwa kali ini Allan pasti sangat marah padanya karena tidak becus menjaga putrinya. Giany pun menunduk. Sementara Bu Dini langsung berdiri menyambut Allan.
"Maysha kenapa, Bu?" Pertanyaan Allan terdengar menuntut untuk segera dijawab.
Bu Dini mengusap bahu putranya. "Tenang dulu, Allan." Ia menjeda ucapannya seperti sedang memilih kalimat yang tepat untuk menjelaskan kepada Allan agar tidak ada kesalahpahaman. "Kejadiannya begitu cepat dan tidak terduga. Maysha naik ke perosotan yang tinggi dan entah bagaimana bisa terjatuh dan kepala nya terluka. Tapi Maysha sudah ditangani para dokter di dalam. Dia pasti akan baik-baik saja."
Allan mengusap wajahnya seraya menarik napas beberapa kali untuk mengurai rasa frustrasi yang kini ia rasakan. Lalu melirik Giany yang sudah tidak berani lagi mengangkat kepala menatapnya.
_
"Kenapa mereka lama di dalam, Bu?" tanya Giany tanpa melepaskan pandangannya dari pintu kaca itu.
__ADS_1
"Sabar, Giany. Mungkin Maysha masih ditangani ..." Bu Dini menyodorkan sebotol air mineral. "Kamu minum dulu ya ... Lihat wajah kamu pucat."
Giany hanya menyahut dengan gelengan kepala. Selama belum mendengar kabar dari Maysha, ia tidak akan bisa tenang.
Tak lama berselang, Ayra pun tiba. Tadi ia ingin menemui Maysha di rumah, tetapi mendengar kabar dari Bibi Misa bahwa Maysha dilarikan ke rumah sakit, sehingga segera menyusul.
"Ada apa dengan Maysha, kenapa bisa sampai kecelakaan?" tanya Ayra yang kini berdiri di hadapan Bu Dini dan Giany.
"Pasti ini semua karena kamu, yang tidak becus menjaga Maysha kan?" ucapnya lagi, ketika Giany dan Bu Dini hanya diam dan tidak menjawab pertanyaannya.
Giany menunduk menahan air mata sedangkan Bu Dini menatap Ayra dengan kesal.
__ADS_1
🌻