
“Aku mau mampir ke toko kosmetik dulu ya, Mas?” ucap Giany saat melewati sebuah toko kosmetik ternama.
“Boleh.”
Allan mengikuti di belakang, sesekali memperhatikan Giany yang tengah memilih beberapa paket kosmetik. Meskipun ada tanda tanya di benaknya, sebab selama ini Giany tidak begitu suka bersolek yang berlebihan?
“Yakin mau beli itu?” tanya Allan menatap heran paket lengkap yang telah dipilih Giany.
“Memang kenapa? Mahal ya?”
“Bukan, Sayang ... Maksud aku, sejak kapan kamu suka begituan? Biasanya kan kamu tidak suka dandan yang berlebihan.”
“Aku kan juga mau kelihatan cantik!” Giany bergumam, tetapi masih dapat dibaca oleh Allan melalui gerakan bibirnya.
Wanita itu lantas membalikkan tubuhnya, lalu mengikuti seorang karyawan wanita menuju kasir. Allan terkekeh melihat tingkah lucu istrinya. Ia sudah menebak bahwa Giany hanya tidak mau kalah cantik dari mantan-mantannya.
Tiba di rumah rupanya efek bertemu mantan masih terasa. Duduk manis di hadapan meja rias, Giany sedang memoles wajahnya agar terlihat cantik. Sebelum tidur ia mencoba alat-alat kosmetik yang tadi dibelinya. Sementara Allan duduk menyandar di tempat tidur, sesekali meliriknya dengan senyuman.
__ADS_1
“Kamu cantik walaupun tanpa itu, Sayang ... Sudah yuk, sini!” Ia menepuk tempat di sebelahnya dan meminta Giany mendekat.
“Sebentar, Mas. Aku rasa masih ada yang kurang. Tapi apa, ya ...” Giany menatap pantulan dirinya di cermin. Walaupun sudah terlihat cantik, ia tetap merasa ada yang kurang.
Allan tersenyum menyadari betapa inginnya Giany terlihat cantik di hadapannya. Laki-laki itu lantas beranjak dari tempat tidur, berjalan di belakang Giany menuju lemari. Ia terdiam sebentar melihat-lihat isi lemari milik istrinya. Hingga akhirnya mengeluarkan sesuatu dari sana.
“Geser sedikit.”
Giany menggeser posisi duduknya, sehingga Allan dapat ikut duduk di sana, lalu saling menatap satu sama lain melalui pantulan cermin.
“Kamu mau tahu arti cantik yang sebenarnya?” tanya Allan masih menatap mata Giany dalam pantulan cermin.
Allan meraih kuas brush on dari tangan Giany dan meletakkan ke dalam beauty case, lalu membantu merapikan semua peralatan make up yang tadi di gunakan istrinya—yang berserakan di atas meja.
“Tapi aku belum selesai, Mas.”
“Tidak ada kata selesai dan puas kalau yang kamu cari adalah kecantikan fisik.”
__ADS_1
Giany seketika mematung mendengar ucapan Allan. Ia menggeser sedikit posisi duduknya sehingga wajah mereka saling berhadapan. Meraih selembar tissue basah, Allan mengusap wajah giany dengan lembut, hingga membuat make up yang tadi membalut wajahnya terhapus.
“Mas, kenapa di hapus?”
Allan belum menjawab dan terus mengusap wajah giany dengan tissue basah hingga menghabiskan beberapa lembar. Kini wajah Giany terlihat polos tanpa make up. Allan lantas meraih selembar kerudung milik Giany yang tadi dikeluarkan dari lemari. Ia pasangkan di kepala dan dijadikan hijab.
“Kesempurnaan fisik bukan tolak ukur cantik. Tapi dari perilaku, pola pikir dan sikap. Paham?”
Giany menjawab dengan gelengan kepala, sehingga Allan menangkup wajah dan mengecup keningnya.
“Laki-laki diberi fitrah untuk menyukai atau mencintai wanita, sedangkan wanita diberi fitrah untuk menjadi sosok lemah lembut dan indah yang disukai atau dicintai kaum laki-laki. Tapi ... cantik yang hakiki itu bukan tentang fisik yang sempurna. Melainkan dari kecantikan hati dan akhlak yang mulia. Giany Sayang ... Wanita dijadikan indah pada pandangan manusia, karena wanita adalah perhiasan dunia dan sebaik-baiknya perhiasan adalah wanita yang salehah.”
Giany membeku, ia menatap lekat wajah sang suami. Senyum teduh itu membuat sukmanya begitu tentram.
Allan pun melingkarkan tangannya ke tubuh Giany dengan dagunya yang bersandar di bahu sang istri, lalu saling menatap melalui pantulan cermin.
Allan tersenyum. “Lihat kan, sekarang cantikmu terlihat sempurna.”
__ADS_1
***
bersambung