Bukan Salahku Merebut Istrimu

Bukan Salahku Merebut Istrimu
Ancaman Bagi Dokter!


__ADS_3

“Arghh!!”


Terdengar suara teriakan menggema di sebuah kamar. Pecahan kaca telah berhamburan di lantai. Desta menghancurkan benda apapun yang ada di dalam kamar untuk menyalurkan kemarahan yang merasuki jiwanya. Ia baru saja menerima surat panggilan sidang dari pengadilan.


“Giany!” teriaknya menggelegar sambil melempar bingkai foto yang tertata rapi di atas meja buffet berbahan kayu jati—hingga berhambur di lantai dan menimbulkan suara gaduh.


Bibi Sum yang tengah berada di dapur menyiapkan sarapan menjadi terkejut mendengar suara pecahan kaca dari kamar tuannya. Semalam ia agak ragu menyerahkan surat itu kepada Desta, sehingga menunggu pagi hari barulah memberanikan diri memberikan surat panggilan sidang perceraiannya.


Tak lama berselang, Desta turun dari tangga dengan terburu-buru. Biasanya ia akan langsung ke meja makan dan menyantap sarapannya, tetapi kali ini langsung berjalan keluar rumah. Melihat itu, Bibi Sum langsung mengekor di belakang.


“Den Desta tidak sarapan dulu? Bibi sudah siapkan sarapan kesukaan Den Desta.”


Desta menghentikan langkah kakinya, kemudian berbalik menatap Bibi Sum. “Tidak, Bibi. Aku sedang buru-buru mau ke kantor.”


Bibi Sum diam. Lebih baik cari aman jika keadaan emosi Desta sedang tidak stabil seperti sekarang. Salah sedikit saja bisa membuat emosinya meledak.


*********


Setibanya di kantor, Desta langsung menuju ruangannya tanpa mempedulikan panggilan seorang teman sekaligus rekan kerjanya. Ia menjatuhkan tubuhnya di kursi dengan frustrasi. Setiap kata yang tertera di dalam surat yang tadi diterimanya terus saja membekas di benaknya.


Desta menyandarkan kepala, di pikirannya kini hanya ada Giany dan bagaimana cara mengembalikan wanita itu ke dalam hidupnya. Sampai kapan pun ia tidak akan rela jika Giany dimiliki laki-laki lain, apalagi oleh Alan.


Suara decitan pintu membuyarkan lamunannya. Desta menoleh dan mendapati Rendy berdiri di ambang pintu dengan senyum penuh semangat, namun tiba-tiba meredup kala menyadari raut wajah sahabatnya yang muram.


“Ada apa sih, pagi-pagi sudah suram begitu wajahmu?” tanya Rendy sambil menarik sebuah kursi untuk duduk di hadapan Desta.


“Aku sedang kesal, Ren. Tolong jangan ganggu aku sepagi ini.”


Rendy terkekeh, “Yakin tidak mau aku ganggu? Aku ada berita penting yang akan membuat rasa kesalmu hilang.”


Desta menatap Rendy dengan malas sambil mendesahkan napasnya. “Tentang Aluna? Lupakan saja.”


Kening Rendy mengerut pertanda adanya tanda tanya di benaknya. Ya, sejak Giany pergi dari rumah, temannya itu terkesan mengabaikan Aluna yang selama ini ia kejar mati-matian. Bahkan, ia tak ada usaha apapaun untuk mencegah Aluna yang berencana resign dan pindah ke kota lain. Seolah Aluna tidak ada lagi di hatinya.

__ADS_1


“Bukan tentang Aluna.”


“Lalu? Kalau tidak begitu penting tidak usah dikatakan, aku tidak tertarik.”


“Aku kan sudah bilang, berita ini akan membuatmu senang.”


Manik hitam Desta menatap penuh tanya kepada Rendy. “Memang apa?”


“Desta, kamu dapat promosi naik jabatan! Manager, selamat ya.”


Sontak raut wajah datar Desta berubah terkejut saat mendengar ucapan Rendy. Jabatan manager di sebuah perusahaan ternama seperti tempatnya bekerja sekarang bukan lah jabatan sembarangan. Untuk menduduki posisi supervisior saja butuh perjuangan dan kerja keras yang tidak mudah, dan tentunya harus ada koneksi juga.


“Kamu serius?”


“Duarius malah.” Rendy menepuk pundak Desta mewakili perasaan turut senang dengan peluang besar yang didapat temannya itu. “Aku juga terkejut kamu dipromosikan Pak Ardan untuk posisi itu, padahal kan banyak supervisior senior.”


Desta tersenyum senang, tetapi mendadak senyuman itu meredup lagi saat teringat Giany menggugat cerai dirinya. Menyadari itu, Rendy pun dibuat bingung dan bertanya-tanya, tentang masalah apa yang membuat Desta terlihat demikian frustrasinya.


“Ada apa sih? Kamu harusnya senang, kan. Posisi manager itu bukan posisi se,mbarangan loh …”


“Apa? Giany menggugat cerai kamu?” Rendy terlihat terkejut. “Serius?”


“Tadi pagi aku terima surat panggilan sidang perceraian dari pengadilan.”


Masih dalam keadaan tidak percaya, Rendy menatap Desta lekat. “Bukannya kamu memang berencana menceraikan Giany, ya? Kan malah bagus kalau dia yang menggugat kamu? Tidak ada lagi penghalang antara kamu dan Aluna. Apalagi kalau posisi manager itu benar-benar jatuh ke tangan kamu, Aluna tidak akan menolak balikan.”


“Aku tidak mau kehilangan Giany, Ren …” sahut Desta dengan suara lemas.


Kerutan di dahi Rendy pun semakin dalam saat mendengar ucapan Desta. “Maksudnya, kamu …”


“Iya, aku menginginkan Giany. Aku tidak mau bercerai darinya.”


“Lalu Aluna?”

__ADS_1


“Aku tidak peduli lagi dengan Aluna.”


Rendy berdecak heran. Padahal selama menikah, Desta sengaja menyakiti Giany hanya karena merasa Giany adalah penghalang antara dirinya dengan Aluna. Kini, kesempatan untuk kembali dengan Aluna terbuka lebar, tetapi Desta malah tidak peduli.


“Cinta memang rumit, Des! Ya sudah, kamu minta saja mediasi dari pengadilan. Aku yakin Giany mau balikan sama kamu.”


“Itu dia masalahnya, Ren.”


“Kenapa?”


Desta mendengus kesal saat mengingat ancaman mematikan Alan yang memintanya untuk menerima gugatan cerai, juga agar tidak meminta mediasi dari pengadilan. “Dokter sialan itu sudah mengancamku. Kalau aku tidak mau melepas Giany, dia akan melaporkan aku ke polisi. Dia mau merebut Giany dari aku.”


“Hah?” Sepasang netra Rendy membulat penuh. “Maksudnya dokter kandungan yang pernah kamu sebut membawa Giany pergi?” tanya Rendy membuat Desta mengangguk.


“Iya.”


“Dia dokter di rumah sakit mana memangnya?”


“RSCH!” jawab Desta singkat.


Mata Rendy memicing, seperti mengingat sesuatu, kemudian kembali membulat setelahnya terbesit sebuah ide di benaknya. “RSCH itu rumah sakit milik Darmawan group, kan?”


“Hemm …”


“Des, gampang kalau kamu mau menyingkirkan dokter itu kok,” ucap Rendy dengan senyum penuh makna di wajahnya.


“Maksudnya?”


“Perusahaan kita punya kerja sama yang erat dengan Darmawan Group. Kalau kamu naik manager nanti, kamu akan sering ketemu dengan Pak Rayhan, CEO nya Darmawan Group. Kamu dan Pak Rey kan sudah saling kenal. Kamu bisa dekati dia dan meminta Pak Rey membantumu. Termasuk memecat dokter itu.”


Seolah menemukan berlian, Desta tersenyum mendengar ucapan Rendy. “Kamu benar juga. Aku bisa manfaatkan Pak Rey untuk mengancam si Alan itu.”


“Lagi pula dia hanya dokter biasa. Tidak ada apa-apanya dia dibanding kamu kalau berhasil jadi manager nanti.”

__ADS_1


************


__ADS_2