Bukan Salahku Merebut Istrimu

Bukan Salahku Merebut Istrimu
BSMI 46


__ADS_3

Desta menatap pantulan dirinya di cermin dengan penuh kemarahan. Untuk kesekian kali, wajahnya harus lebam karena hasil perbuatan Allan. Dalam hati ia bersumpah akan membalas semua perbuatan Allan suatu hari nanti dan akan menghancurkan laki-laki itu.


"Lihat saja nanti, aku pasti akan menghancurkanmu!" gerutunya sambil mengusap wajah.


Hingga beberapa saat berlalu ....


Tok Tok Tok!! Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Desta yang masih duduk di hadapan cermin.


“Masuk!”


Bibi Sum membuka pintu. Desta menoleh dan menatap wajah wanita paruh baya itu. Keningnya mengerut pertanda bingung, sebab Bibi Sum terlihat memucat.


“Den …” ucapnya dengan suara gemetar sambil melangkah masuk ke dalam kamar.


“Ada apa, Bibi?”


“Di depan ada …” Ucapan Bibi Sum menggantung. Ia menunduk dan seperti takut untuk berbicara, terlihat dari jemarinya yang saling meremas.


“Ada siapa?” tanya Desta penasaran.


“Ada ... polisi, Den.”


Sontak Desta terkejut. Kedua bola matanya membeliak. Handuk kecil yang ia gunakan untuk mengompres wajah lebamnya terjatuh ke lantai begitu saja. “Apa, polisi?”


“Iya, Den. Katanya mau bertemu dengan Den Desta.”


"Mau apa mereka kemari?"


"Kurang tahu, Den. Mereka hanya bilang sedang mencari Den Desta."


Desta menghela napas frustrasi. Otaknya sedang menebak, bahwa kedatangan polisi ke rumahnya ada kaitannya dengan Allan. Mengingat itu saja, kemarahan terasa kembali memuncak menembus ubun-ubun.

__ADS_1


"Tapi Bibi tidak bilang kalau saya ada di rumah, kan?"


Bibi Sum semakin memucat. "Aduh bagaimana ini? Bibi sudah bilang kalau Den Desta ada di kamar."


Mendengar ucapan Bibi Sum, Desta pun semakin frustrasi. Tetapi mau mau bagaimana lagi, ia tidak mungkin melarikan diri, sebab melawan hukum sama saja dengan bunuh diri.


"Ya sudah, Bibi keluar duluan, saya mau ganti baju dulu," ucapnya pasrah.


"Baik, Den."


Bibi Sum kemudian keluar dari kamar itu, sementara Desta segera mengganti pakaiannya.


Tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa ia akan berhadapan dengan hukum. Apalagi sekarang ia sedang meningkatkan kualitas kerja mengingat promosi naik jabatan di kantor.


Selepas berganti pakaian, Desta beranjak menuju lantai bawah. Tampak beberapa polisi tengah menunggu di ambang pintu.


Desta menarik napas dalam sebelum menemui para petugas kepolisian itu.


“Dengan Pak Desta?”


Ia mengangguk. “Iya, saya sendiri.”


“Kami mendapat laporan dari Pak Allan Hadikusuma terkait penganiayaan yang Pak Desta lakukan terhadap Bu Giany Namira,” ucap salah seorang anggota kepolisian sambil menyerahkan sebuah amplop. Desta menyambar amplop tersebut, kemudian membaca kata demi kata yang tertera di dalam secarik kertas yang ia keluarkan dari dalam amplop.


“Tapi, Pak … Saya tidak melakukan penganiayaan. Ini semua salah paham. Giany Namira adalah istri saya dan Allan Hadikusuma sudah membawanya pergi tanpa seizin saya.” Desta berusaha membela diri.


“Soal itu Pak Desta bisa jelaskan di kantor. Sekarang, silakan ikut kami untuk menjalani pemeriksaan.”


"Tapi ini semua hanya salah paham, Pak!"


"Mohon kerjasama nya, Pak! Kita harus mengikuti prosedur hukum. Silakan ikut ke kantor."

__ADS_1


Desta mendengus. Malam itu ia harus rela digelandang ke kantor polisi dengan pasrah dan tidak melakukan perlawanan sedikitpun.


Bibi Sum menatap kepergian tuannya dengan raut muka khawatir, meskipun ia menyadari tindakan Desta terhadap Giany memang salah. Wanita paruh baya itu pun segera menghubungi kedua orang tua Desta yang tinggal di luar kota untuk mengabarkan apa yang terjadi.


🌻🌻🌻


"Bos!" panggil Amir yang baru saja masuk ke sebuah ruangan pribadi milik Allan.


"Mau apa Kamu kemari? Kamu tahu kan saya sedang tidak mau terima laporan tidak penting!"


"Ini penting, Bos!"


"Ya sudah, cepat katakan!"


"Suaminya Bu Giany sudah ditangkap polisi!" ucap Amir penuh semangat. Ia pikir sang bos pasti senang dengan laporan itu. Tetapi, bukannya senang, Allan malah terlihat sangat marah. Membuat laki-laki bertubuh bongsor itu merinding.


"Siapa yang suruh kamu menyebut dia suaminya Giany!"


Amir gelagapan dan tampak bingung. "Tapi dia memang masih suaminya Bu Giany kan?"


Mata Allan seolah menyala memancarkan api kecemburuan. Namun, rupanya Amir belum menangkap dengan baik arah pembicaraan bosnya itu.


"Sekali lagi kamu sebut dia suaminya Giany, saya pecat kamu tanpa pesangon!"


"Yah, jangan lah Bos! Masa dipecat. Kan setahu saya Bu Giany memang belum resmi bercerai dari suaminya." Masih berani mengulang kata yang sama, padahal sang bos sudah memberi peringatan keras.


"Kamu benar-benar minta dipecat ya!!!" ucap Allan dengan tatapan tak bersahabat kepada Amir, sehingga laki-laki dihadapannya tersenyum getir.


"Hehe, Bos ... Se-sepertinya, saya harus cek taman belakang, takut ada maling! Permisi!" Lalu tanpa menunggu jawaban dari Allan segera mengambil langkah seribu. Menghindari murka nya sang bos adalah jalan yang terbaik baginya.


Apa salahnya coba, menyebut Pak Desta sebagai suami Bu Giany? Kan memang Pak Desta itu masih suaminya Bu Giany ... batin Amir.

__ADS_1


🌻


__ADS_2