
Setelah liburan selama dua hari di dalam hutan belantara, akhirnya Allan dan Giany kembali. Liburan kali ini cukup membahagiakan bagi Giany karena Allan melakukan apapun keinginannya tanpa penolakan sama sekali.
Saat ini mereka sedang dalam perjalanan pulang, baru saja melewati kawasan hutan belantara milik Zildjian Maliq Azkara.
"Mas kita beli sesuatu dulu buat Maysha dan ibu ya ..." ucap Giany sambil memperhatikan sisi jalan yang mereka lalui. Ia tidak ingin kembali dengan tangan kosong. Setidaknya, harus membeli sesuatu untuk Maysha dan Bu Dini.
"Mau beli apa, Sayang?" tanya Allan tanpa menoleh.
"Apa saja untuk Maysha dan ibu."
Allan mengurangi kecepatan berkendara. Ia membiarkan Giany meneliti dan mencari sesuatu untuk dijadikan buah tangan.
Tiba di sebuah jalan yang sudah mulai padat, mata Giany pun berbinar. Di sisi jalan ada banyak pedagang tanaman hias. Kebetulan sang mertua sangat menyukai tanaman hias.
"Mas, beli tanaman aja buat ibu ya?"
"Boleh."
Allan menepikan mobil. Giany segera turun. Wanita itu memperhatikan beberapa pedagang tanaman hias. Bingung harus memilih kios yang mana.
"Kenapa sih?" tanya Allan yang bingung melihat Giany mematung.
"Mampir ke kios yang mana ya, Mas. Bagus-bagus tanamannya."
__ADS_1
"Baru juga di luar sudah bingung. Belum masuk ke dalam. Lihat yang bagus-bagus makin bingung kamu nanti."
"Hehe ..." Giany tertawa kecil, kemudian melirik seorang pria paruh baya yang sedang merawat tanaman hiasnya. "Ke sini aja ya, Mas."
"Terserah kamu, Sayang."
Giany segera masuk ke dalam salah satu kios. Bapak pemilik menyambutnya dengan ramah dan terlihat sangat senang. Dua orang yang sedang berkunjung ke kios tanaman hiasnya berpenampilan menarik seperti orang kaya. Mungkin merayu sedikit saja, beberapa tanaman hias pasti akan terjual.
"Selamat datang, Bapak dan Ibu. Cari tanaman hias apa? Silakan di pilih, di sini ada banyak tanaman hias langka."
"Terima kasih, Pak. Saya lihat-lihat dulu ya ..." balas Giany dengan ramah.
Wanita itu menyisir kios berukuran tidak terlalu besar itu. Mencari tanaman unik yang belum dijumpai di antara koleksi sang mertua. Hingga perhatiannya tertuju pada sebuah tanaman yang aneh baginya.
"Oh, itu lubang-lubang bukan karena habis digigit ulat, Bu," jawabnya sambil menahan tawa. "Itu memang dari Sono nya seperti itu." Ini lagi viral di kalangan ibu-ibu pecinta tanaman hias, loh."
"Oh, gitu ya?" Giany mengusap daun tanaman itu dan melirik Allan sambil tersenyum. "Lucu dan unik ya, Mas. Hehe, ada lubang-lubangnya gitu."
"Kalau suka beli saja, Giany."
"Iya, Mas. Aku mau beli ini buat ibu ah ..." Dengan raut wajah bahagia, Giany melirik Bapak pemilik kios. "Pak, beli ini aja. Ini namanya tanaman apa ya?"
"Namanya janda bolong, Bu."
__ADS_1
Seketika senyum yang menghiasi wajah Giany memudar, kelopak matanya mengerjap beberapa kali. Sedangkan Allan langsung terbatuk saat mendengar nama tanaman yang baginya cukup aneh dan ekstrim itu.
"Ja-janda bolong?" tanya Giany hendak memastikan.
"Iya, Bu. Soalnya lubang-lubang. Makanya kalangan pecinta tanaman hias ngasih nama janda bolong."
"Pantas ibu tidak punya tanaman beginian. Namanya janda bolong." Allan berbisik ke telinga Giany. "Sayang, jangan yang itu belinya. Kamu mau kita dikutuk sama ibu kalau beliin janda bolong?"
Giany meraba tengkuknya yang terasa meremang. "Namanya serem ya, Pak. Harganya berapa sih?"
"Kalau yang ini saya kasih harga spesial deh buat Ibu. Empat puluh juta aja Bu."
Mata Giany membulat penuh karena terkejutnya. Ternyata semahal ini harga tanaman hias. Ia sama sekali tidak menyangka hobi ibu mertuanya menelan harga yang cukup fantastis.
Sedangkan Allan yang sejak tadi berdiri di belakang Giany menarik napas dalam.
Janda bolong aja sampai semahal itu ya. batin Allan.
Ia melirik sang pemilik toko.
"Kalau janda bolong aja harganya segitu, apalagi janda rapet ya, Pak?" tanya Allan membuat Giany mendelik.
🌻
__ADS_1