
Ini adalah hari pertama Allan bekerja setelah cuti selama beberapa hari. Giany sedang membantunya berpakaian, mengancingkan ujung lengan kemejanya. Allan menatapnya dengan penuh bahagia. Dulu Ayra tidak pernah melayaninya seperti Giany sekarang.
Enak juga ternyata diperhatikan begini sama istri. Pagi diurus, malam dielus. batin Allan.
“Makasih, Sayang!” Ia mengecup kening dan memeluk singkat. “Kamu sudah merasa lebih baik, kan?”
"Iya, Mas. Tidak sesedih semalam lagi."
“Tenang saja. Aku akan membereskan masalah ini secepatnya.”
"Caranya?"
"Ada deh. Pokoknya setelah ini Bu Burhan sama Bu Hery atau tetangga manapun tidak akan berani macam-macam sama Bu Allan lagi." Ia mengusap puncak kepala Giany dengan sayang. "Aku juga punya kejutan buat kamu."
"Kejutan apa, Mas?"
"Rahasia! Kalau dikasih tahu namanya bukan kejutan dong."
Kemudian mereka turun bersama ke lantai bawah. Maysha duduk manis menunggu dan sudah rapi dengan seragam sekolahnya.
__ADS_1
🌻
🌻
Sementara di depan gerbang rumah, Bu Dini sedang berbelanja sayuran dengan beberapa tetangga. Tampak Bu Hery dan Bu Burhan bersama anaknya, Keyshia, yang juga berada di sana. Dua ibu-ibu kurang kerjaan inilah yang membuat menantunya sedih.
Melihat Allan dan Giany baru saja keluar dari pintu, para tetangga pun saling berbisik satu sama lain. Rupanya gosip miring belum juga mereda. Bu Dini sudah sangat gerah dengan kelakuan para tetangga yang tak henti-hentinya mengusik kehidupan anaknya.
“Bu Dini, bagaimana menantu barunya?” tanya Bu Burhan dengan nada menyindir sambil melirik Giany.
“Alhamdulillah, Allan tidak salah menikahi wanita sebaik Giany,” jawabnya dengan santai sambil memilih beberapa sayuran.
“Tapi Bu, saya heran loh. Kok Ibu mau sih anaknya menikah dengan seorang pengasuh. Kan banyak yang lebih layak. Keyshia misalnya. Iya kan ibu-ibu?” ucap Bu Hery membuat wajah Keyshia merona.
“Tapi Keyshia kurang apa coba, sudah cantik, berpendidikan lagi.”
Bu Dini tersenyum menatap Bu Hery. “Cantik dan berpendidikan belum tentu menjamin akhlaknya. Coba perhatikan menantu saya.” Ia melirik Giany yang berada di dalam sana. “Dia baik hatinya, sopan, lembut, dan pakaiannya tidak mengumbar aurat. Tidak seperti—” ucapnya seraya melirik Keyshia yang pagi itu berpakaian sedikit terbuka. Bu Burhan pun membalas dengan tatapan kesal bercampur malu.
“Oh ya, sepertinya saya harus berterima kasih sama orang-orang yang sudah memfitnah Allan dan Giany. Karena fitnah itu, mereka akhirnya menikah.”
__ADS_1
Ucapan Bu Dini sontak membuat Bu Burhan dan Bu Hery terbatuk-batuk. Sindiran Bu Dini sangat tepat mengenai sasaran.
Tak lama berselang, Allan datang untuk berpamitan kepada Bu Dini. Ia mencium punggung tangan sang ibu, begitu pun dengan Maysha yang akan berangkat ke sekolah.
“Oma, Maysha mau sekolah dulu, ya ...”
“Iya sayang, jangan bandel ya di sekolah.”
"Iya."
Keyshia menatap Allan dengan penuh kekaguman. Ia sudah lama memendam rasa untuk ayah satu anak itu. Tetapi Bu Dini tidak pernah memberinya celah. Apalagi Allan tidak pernah meliriknya.
"Selamat pagi, Dokter."
"Hem ..." jawab Allan singkat tanpa menoleh pada gadis itu, membuat Bu Dini tertawa dalam hati setelah mendapati raut kekecewaan di wajah Keysha.
“Allan, kamu makan siangnya di rumah kan? Ibu mau buat otak-otak. Kamu suka, kan?”
"Suka, Bu. Apalagi kalau otak-otak nya masih punya pikiran sehat," jawab Allan membuat beberapa tetangga julid itu merasa tersindir.
__ADS_1
🌻
🌻