
“Ya sudah, sekarang Maysha main dulu ya. Ingat pesan ayah tadi.”
“Iya, Ayah ....”
Maysha keluar dari kamar dengan penuh semangat setelah mendapat bisikan gaib dari Allan. Tak lama berselang, Giany pun datang dengan teh hangat dan camilan di piring.
“Maaf, Mas. Agak lama. Aku habis buat sesuatu untuk Mas?”
Allan melirik nampan yang dibawa Giany. Wajahnya berbinar bahagia. “Itu apa?”
“Pisang bakar madu.” Giany duduk di sisi pembaringan, mengambil piring dan garpu. “Ini, Mas!”
Allan hanya melirik sepiring pisang bakar madu di tangan Giany, tetapi tidak berniat meraihnya. “Tangan aku kayak mati rasa. Mungkin efek kejatuhan balok tadi ya?”
“Masa sih, Mas? Aku pijat ya ...” Giany mulai memperlihatkan wajah khawatirnya. Jika ia seperti ini, maka Allan yang senang. Kapan lagi bisa membuat Giany seposesif ini terhadapnya?
“Tidak usah, nanti juga sembuh sendiri.” Pura-pura menolak, padahal dalam hati menggebu.
“Ya sudah, aku suapi saja pisang bakar madunya, mau?”
Wajah Allan pun berbinar bahagia, tetapi tetap berusaha menyembunyikannya. “Boleh deh. Pisang bakar madunya sepertinya sangat enak.”
Giany pun memotong pisang dengan garpu dan mulai menyuapi Allan. Sungguh bentuk perhatian sepeti ini benar-benar membuat Allan bahagia. Ia menatap Giany dengan penuh cinta.
Istriku memang cantik, masih muda lagi. Allan, nikmat Tuhan yang mana lagi yang kau dusta kan? batin Allan.
“Mas ...”
“Hmm ...”
“Maaf ya, hape sama kartu ATM yang mas kasih ke aku tertinggal di restoran,” ucapnya dengan raut wajah sedih.
“Tidak apa-apa. ATM kan gampang diurus. Kalau hape bisa beli lagi. Kalau mau aku minta Amir belikan sekarang.”
“Tidak usah, Mas. Nanti saja.” Ia menyuapkan potongan demi potongan hingga tidak terasa habis. “Mau lagi? Di bawah masih ada.”
Allan menggeleng, kemudian Giany memberikan secangkir teh hangat.
Meraih selembar tissue di atas meja, Giany mengusap bibir Allan dari sisa madu yang melekat di sudut bibirnya. Sepertinya ini adalah moment langka dalam hidup Allan. Padahal ini bukanlah pertama kalinya ia jatuh cinta. Dulu dengan ayra, semua berjalan biasa saja. Mungkin karena Allan tidak membutuhkan kerja keras untuk mendapatkannya, tidak seperti saat dengan Giany, dimana ia harus menjadi seorang perusak rumah tangga orang.
__ADS_1
Wahay penduduk bumi, mohon agar tidak menjadikan Allan sebagai contoh. Merebut istri orang adalah sebuah dosa besar. Allan sadar itu, tetapi cinta untuk Giany memberinya kekuatan untuk melewati semuanya. Kini Giany sudah menjadi yang halal baginya, dan tidak akan pernah ia beri celah kepada siapapun untuk merebutnya.
“Mas, boleh aku tanya sesuatu?” Suara Giany membuyarkan lamunan Allan.
“Boleh.”
“Tadi aku lihat Mas di food court bersama seorang wanita. Itu siapa, Mas?”
sontak Allan tersendak udara mendengar pertanyaan itu. Tidak menyangka bahwa Giany akan melihatnya di sana. Ia meneliti wajah Giany, mencoba mencari raut kecemburuan di sana.
“Oh itu ... Istri orang ...”
Mata Giany membulat mendengar ucapan suaminya. Istri orang? Apakah dia memang tipe lelaki yang suka bermain dengan istri orang? Pertanyaan itu tiba-tiba muncul di benak Giany. “I-istri orang?”
“Iya. Istrinya temanku, Beni.”
“Mas ada urusan apa bertemu wanita itu?”
“Tidak apa-apa. Dia cuma mau konsultasi.
“Cuma konsultasi?”
“Oh ...” sahut Giany sambil meletakkan piring di meja.
Ia tidak melanjutkan lagi bertanya. Tidak juga memberitahu tentang penemuan besarnya bahwa Babylicious ternyata adalah dirinya. Mungkin segalanya akan terasa indah jika Allan sendiri yang mengakui perasaannya di hadapan Giany. Dan Giany akan menunggu hari itu tiba.
Mungkin mereka akan menjadi pasangan paling 'unyu' di muka bumi.
🌻
🌻
“Mas mau lauk yang mana?”
Allan memperhatikan beberapa hidangan di atas meja. Apapun menunya jika Giany yang memasak pasti akan nikmat melewati kerongkongan. “Ikan goreng tepung sama tumis kangkung, sepertinya enak.”
Giany mengambilkan beberapa lauk. Allan boleh bahagia, karena Giany benar-benar melayaninya dengan baik. Bahkan sekarang sedang menyuapinya makan, padahal ia sama sekali tidak merasa sakit. Semua hanya demi perhatian sang istri.
Bu Dini dan Bibi Misa yang melihat tingkah Allan hanya senyum-senyum sendiri sambil saling melempar lirikan. Sudah pasti mereka tahu bahwa Allan hanya menjalankan modus seperti biasa. Mungkin menggoda Allan akan menyenangkan malam ini.
__ADS_1
“Allan ...” panggil Bu Dini.
“Iya, Bu.”
“Perasaan yang kena balok jatuh punggung kamu, bukan tangan. Kok sampai tidak bisa makan sendiri?”
Allan menarik napas dalam. Melirik sang ibu sambil memberi kode rahasia. “Tangannya kram, Bu. Susah gerak,” ucapnya seraya mengeluhkan sakit di lengan kanannya.
“Oh ...” Wanita paruh baya itu menyembunyikan senyumnya.
"Nanti ibu minta tolong Amir pijat kamu!"
Mata Allan membulat. Ia ingat pernah keseleo dan dipijat Amir sampai harus menjerit-jerit kesakitan. Sungguh Allan tidak ingin kenangan pahit itu terulang.
"Tidak usah, Bu." Menyela dengan cepat sebagai bentuk penolakan. "Nanti juga sembuh sendiri." Ia membuka mulut lebar-lebar ketika Giany menyodorkan sesendok makanan. Mengunyah dengan penuh semangat.
“Bunda ...” panggil Maysha di sela-sela makan malamnya.
“Iya, Sayang...”
“Bunda, May-sha mau pu-nya de-de ba-yi, bo-leh ya. Na-nti de-de ba-yi ada di pe-rut Bunda kan?” pintanya sambil menggerakkan tangan di perut.
Allan menepuk dahinya.
Bukan sekarang mintanya Maysha, tapi nanti kalau di kamar berdua, bukan di depan semua orang ... gerutu Allan dalam batin.
Alis Bu Dini pun mengerut mendengar permintaan cucunya. “Maysha ... Tahu dari mana kalau nanti ada dede bayi di perut bunda? Siapa yang ajarin minta dede bayi sama bunda?"
Please, Maysha ... Jangan jawab! batin Allan.
“Ayah!" jawabnya sambil menunjuk sang ayah.
Seketika Allan tersedak makanan yang baru saja melewati kerongkongannya. Rencana besar yang ia susun setelah melihat Gunung Himalaya berakhir memalukan. Meraih segelas air putih di atas meja, Allan meneguknya dengan tergesa.
“Loh, Allan ... Bukannya tangan kamu lagi kram ya? Itu bisa ambil gelas sendiri.”
Apessssssss!!!!!!!! jerit Allan dalam batin.
🌻
__ADS_1