Bukan Salahku Merebut Istrimu

Bukan Salahku Merebut Istrimu
BSMI 98


__ADS_3

“Loh, ini kenapa listrik mati?” Allan dan Beni saling lirik. “Ben, memang tidak ada genset di kantor ya?”


“Adalah!”


“Terus kenapa listrik bisa mati lebih dari sepuluh menit?”


“Mana aku tahu! Mungkin ada perbaikan. Sebentar, aku hubungi bagian teknisi.”


Baru saja Beni akan menghubungi bagian teknisi, seorang office boy tiba-tiba masuk dengan mimik muka panik.


“Maaf Pak Allan, Pak Beni, ada kecelakaan di lantai satu.”


Sontak Allan dan Beni terkejut mendengarnya. “Kecelakaan apa?” tanya Beni.


“Liftnya mengalami malfungsi,” jawabnya dengan wajah ketakutan. “Dan Bu Giany—”


Seketika wajah Allan memucat mendengar nama istrinya disebut. Belum sempat office boy itu menyelesaikan kalimatnya, Allan sudah berlari keluar dengan paniknya menuju tangga darurat untuk turun ke lantai satu. Begitu pun dengan Beni yang menyusul di belakang. Sepertinya akan butuh banyak waktu dan tenaga, mengingat Allan berada di lantai sebelas.


_


Di lantai satu suasana kepanikan sudah terlihat. Orang-orang mulai berkerumun di depan lift, termasuk Aluna dan Rendy. Beberapa orang teknisi pun sudah berada di sana untuk menyelamatkan Giany dan Desta.

__ADS_1


Sementara di bawah sana, Giany mulai kesulitan bernapas akibat kurangnya oksigen. Ia bersandar di dinding, dengan wajah memucat.


“Sabar ya, sebentar lagi mereka menolong kita dan kamu bisa keluar dari sini,” ucapnya berusaha menenangkan.


Allan baru saja tiba di lantai satu. Melihat kerumunan itu, ia segera berlari menuju lift, melongokkan kepala ke bawah dan melihat Desta di sana bersama Giany.


“Giany!” teriaknya penuh khawatir. Ia hendak turun dengan berpegang pada tali penahan lift, tetapi Beni dan beberapa orang segera menghalangi. “Lepaskan aku, Ben! Kamu tidak lihat istriku di bawah sana dalam bahaya!?” Sambil mendorong beberapa orang yang coba menghalanginya


“Aku tahu, tapi kalau kamu ikut turun akan lebih berbahaya. Biarkan mereka yang selamatkan Giany!” ucap Beni dengan tangan masih melingkar di lengan Allan. “Tenangkan dirimu, jangan panik!”


“Bagaimana aku tidak panik kalau Giany terjebak di lift?”


"Makanya kamu sabar, dan biarkan mereka bekerja."


“Maaf, Pak. Akan kami periksa setelah Bu Giany dan Pak Desta keluar dari sana.”


Sang teknisi kemudian menghubungi seseorang menggunakan handy talky dan dalam waktu kurang dari satu menit, listrik menyala kembali. Salah seorang di antaranya menginstruksikan agar Giany dan Desta tidak menempel pada dinding, karena lift akan naik.


Desta menyandarkan Giany di lengannya, karena sudah semakin kesulitan bernapas dan kesadarannya mulai berkurang.


Laki-laki itu mendongakkan kepala, menatap Allan yang berada di atas dan berharap sang bos tidak salah paham kepadanya dan Giany, karena terjebak di lift bersama. Tetapi, sama sekali tidak ada gurat kecemburuan di sana, selain rasa khawatir yang berlebih. Desta pun bernapas lega.

__ADS_1


Perlahan lift mulai bergerak ke atas. Desta mengeratkan tangannya yang melingkar di tubuh Giany saat merasakan sesuatu yang aneh dengan pergerakan lift. Ia meneliti tali penahan lift. Kelopak matanya pun melebar, ia mulai panik saat mendapati tali tersebut sudah hampir putus.


“Giany, bangun!” Desta mengguncang tubuh Giany beberapa kali hingga mulai tersadar. "Bangun! Kita sudah hampir sampai ke atas."


Lift hampir tiba di lantai atas, Desta dengan cepat menggendong Giany sehingga Allan mengulurkan tangan dan menariknya ke atas. Laki-laki itu memeluk erat dan mengecup kening istrinya untuk melepaskan segala ketakutan yang tadi dirasakannya.


Allan dan seorang teknisi kemudian mengulurkan tangannya kepada Desta, namun hal tak terduga pun terjadi. Tali penahan terputus, sehingga lift jatuh bebas ke lantai dasar bersama tubuh Desta di atasnya.


BRAK!


Suara keras seperti benda terjatuh menggema, mengejutkan semua orang. Aluna berlari mendekat dan seketika berteriak histeris.


Desta terbaring di bawah sana dalam kondisi tak sadarkan diri.


🌻


🌻


🌻


🌻

__ADS_1


🌻


__ADS_2