
Hari ini semua bahagia di hari pertama menempati rumah baru. Tak hanya Giany, tetapi Maysha juga sedang sangat senang setelah melihat kamarnya yang dipenuhi dengan boneka.
Giany baru saja memasuki kamarnya. Sebuah kamar yang untuk ukuran orang biasa sepertinya sudah sangat mewah.
Tiba-tiba bayangan masa lalu terbayang saat masih tinggal bersama sang ibu di sebuah rumah kontrakan yang sempit. Jangankan hunian mewah dengan berbagai fasilitas mewah di dalamnya memiliki rumah milik sendiri saja sudah sangat mustahil baginya.
Lalu bagaimana bisa ia mendapatkan semua ini? Bagaimana bisa seorang wanita biasa seperti Giany Namira mendapatkan sosok suami sempurna seperti Allan Hadikusuma. Giany menatap pantulan dirinya pada sebuah cermin. Sungguh ia merasa sangat tidak layak untuk Allan.
Akan tetapi semua pikiran itu terpatahkan dengan perlakuan Allan kepadanya. Allan menghujaninya dengan cinta yang bahkan tak pernah terbayangkan sebelumnya oleh Giany. Memanjakannya dengan kasih sayang yang sempurna dan menjadi perisai yang selalu memberinya perlindungan.
Giany menjatuhkan tubuhnya di bibir tempat tidur dan menangis.
Allan baru saja masuk ke kamar setelah selesai dengan beberapa urusan di lantai bawah. Melihat istrinya sedang menangis, ia segera mendekat. Duduk di sisi Giany dan menatap bingung bercampur panik.
“Sayang ... Kamu kenapa menangis? Siapa yang buat kamu sedih?” Ia meraih tubuh itu dan memeluk. Demi apapun, ia tidak akan rela jika melihat wanitanya itu bersedih.
“Tidak ada, Mas. Aku hanya merasa semuanya seperti mimpi?”
“Apanya?”
__ADS_1
“Kamu ...”
Dahi Allan berkerut tanda bingung. Ia belum mampu menangkap maksud wanita itu. “Memang aku kenapa? Apa aku habis melakukan sesuatu yang buat kamu sedih?”
“Tidak.”
“Terus kenapa kamu nangis?” Allan mulai frustrasi saat otaknya belum mampu mencerna maksud Giany.
Wanita itu merebahkan kepala di dada Allan. Hal yang paling disukai olehnya adalah menyesap aroma tubuh sang suami yang baginya menenangkan.
“Boleh aku tanya sesuatu, Mas?”
“Bagaimana kamu bisa mencintai aku sebesar ini, Mas? Kamu menghujani aku dengan bahagia yang tidak pernah aku bayangkan. Sampai setiap aku terbangun, aku selalu merasa semuanya hanya mimpi. Aku peluk dan cium kamu dan baru percaya kalau memiliki kamu itu nyata, bukan mimpi.”
Allan mengecup kening, kelopak mata dan bibir. “Kamu kenapa jadi melow begini sih, sayang? Seharusnya kita bahagia di rumah ini.”
“Aku hanya merasa tidak layak ada di sini, Mas. Aku ini siapa, aku hanya Giany Namira. Gadis 20 tahun korban kekerasan oleh Mas Desta. Aku terlahir dari keluarga yang tidak punya apa-apa, sedangkan kamu berasal dari keluarga yang dihormati. Apa Mas Allan tidak pernah merasa bahwa aku tidak layak?"
Allan hanya tersenyum menatapnya. Ia seolah memberi ruang bagi Giany untuk menumpahkan apa yang ada di benaknya.
__ADS_1
"Pertama Mas Allan menyelamatkan dan melindungi aku. Lalu karena desakan warga memaksa Mas menikahi aku dan akhirnya mengangkat derajatku. Dari hanya orang terbuang menjadi istri. Dan Mas sama sekali tidak keberatan saat mereka memaksa menikahi aku."
“Giany ... Dengar aku ... Apa yang kamu rasakan saat itu aku tahu ... kamu syok, frustrasi dan sedih. Wanita seusia kamu yang terbilang masih remaja menghadapi banyak ujian berat itu tidak mudah. Mereka menuduh dan menghina kamu habis-habisan, aku tahu kamu sangat tertekan. Maaf, Sayang ... Aku memilih diam bukan karena tidak sanggup melindungi kamu, tapi untuk bisa melindungi kamu tanpa batasan aku harus diam.”
"Melindungi aku tanpa batasan?"
"Iya. Menghalalkanmu adalah apa yang ada dalam rencanaku sejak awal mengenalmu. Aku bahkan harus menjadi perebut istri orang."
Giany menatapnya dalam.
"Lalu ... apa yang membuat kamu yakin untuk menerima pernikahan kita?” tanya Allan setelahnya.
“Ibu ...” Giany teringat saat Bu Dini datang padanya. “Di saat aku merasa menjadi beban bagi orang lain, ibu datang dan meyakinkan aku. Aku merasa tidak punya tempat untuk berlindung. Aku sebatang kara. Ibu bilang Mas Allan akan melindungi aku, seperti caranya melindungi ibu dan Maysha. Dan untuk pertama kali aku merasa memiliki seseorang.”
Setiap kata yang baru saja terucap dari bibir Giany seakan mengiris hati Allan. Dan hal itu membuat Allan bersumpah dalam dirinya tidak akan memberi celah kepada sesuatu yang dinamakan kesedihan untuk hinggap di hati Giany.
“Sayang ... Mulai sekarang kamu jangan sedih lagi, jangan berpikir kamu sendiri. karena kamu sudah punya aku ... aku milikmu, tulang punggungmu ... satu-satunya tempatmu bersandar. Dan kamu adalah satu-satunya tempatku pulang saat lelah.”
Allan menjatuhkan air mata, ia rengkuh tubuh Giany seerat-eratnya seakan tidak ingin apapun memisahkannya.
__ADS_1
🌻🌻