Bukan Salahku Merebut Istrimu

Bukan Salahku Merebut Istrimu
BSMI 122


__ADS_3

“Jadi ... Kamu sudah melamar Aluna secara resmi?” tanya Allan.


Kini mereka tengah berada di sebuah ruangan pribadi. Allan dan Desta duduk bersama di sofa, sedangkan Giany dan Aluna mengobrol di ruang tamu.


“Belum, Pak. Saya masih cari waktu yang tepat.”


Desta menggeser beberapa map ke hadapan Allan untuk ditandatangani. Sesekali pandangannya menyapu ruangan itu. Kagum, ruangan itu sangat menarik. Terdapat banyak buku tertata rapi dan lukisan indah yang menghiasi dinding.


“Kamu jangan kelamaan. Kalau lelet nanti keburu diambil orang lagi loh ...” ucap Allan tanpa basa-basi sambil membaca berkas satu persatu. Desta hanya menarik napas dalam.


"Terus saya harus gimana, Pak? Belum ketemu waktu dan tempat yang pas."


“Kalau saya jadi kamu, saya akan lamar secepatnya. Tidak usah tunggu waktu dan tempat yang pas. Di kantor banyak yang mau sama Aluna loh, sedangkan kamu ... tidak ada yang mau selain Aluna.”


Sambil menghela napas, ia menatap Allan. “Cara melamar yang baik itu gimana ya, Pak?”


Allan tersenyum misterius, lalu segera membubuhkan tanda tangan pada berkas-berkas itu dan menyusun dengan rapi di atas meja. Ia balas menatap Desta setelahnya.


“Loh, bukannya kamu sudah pernah melamar Aluna sebelumnya?”


“Itu kan sudah lama, Pak. Masa harus pakai cara itu lagi.”


“Memang kamu melamarnya bagaimana dulu?”

__ADS_1


Bayang-bayang masa lalu yang indah pun terkenang kembali. Setahun yang lalu, beberapa hari sebelum tragedi malam pertemuannya dengan Giany, Desta telah melamar Aluna. Suatu hari ia mabuk berat setelah menghadiri ulang tahun Rendy, sehingga melampiaskan hasratnya kepada Giany. Tapi sudahlah, semuanya sudah berlalu. Desta hanya ingin memperbaiki apa yang salah.


“Cuma bilang will you marry me, Pak”


“Basi!” celetuk Allan dengan santainya.


Terus yang keren bagaimana. Menikah karena digrebek? Itu kan lebih basi. batin Desta.


“Kamu harus lebih romantis.”


“Yang romantis memang bagaimana, Pak? Saya harus digrebek warga dan Pak Lurah juga gitu?”


Allan mendengus sambil melotot menatap Desta. “Kamu nyindir saya?”


Allan kemudian mengajari Desta cara melamar yang baik, berdasarkan pengalaman saat melamar Ayra dulu. “Kamu bisa melamar Aluna dengan kalimat rayuan. Misalnya kamu mau jadikan dia teman hidup, teman tidur dan menjadi ibu bagi anak-anakmu.”


Menyahut dengan anggukan, Desta merasa saran Allan ada benarnya. Ia pun berencana akan melamar Aluna malam ini, setelah mereka bertemu klien untuk membahas kerjasama dengan May-Day.


“Baik, Pak. Malam ini saya akan coba melamar Aluna.”


“Nah, begitu kan bagus. Ya sudah, saya harus berangkat sekarang. Saya sama Giany mau liburan dulu.” Ia menepuk bahu Desta, kemudian berdiri dari duduknya.


“Berarti saya harus beli cincin sama bunga dulu.”

__ADS_1


"Basi!" ucap Allan lagi.


"Kok basi, Pak? Kan dimana-mana melamar pakai cincin dan bunga."


"Sudah tidak jaman melamar dengan bunga dan cincin. Itu kuno. Kamu kalau serius kasih kunci rumah. Itu baru laki-laki serius."


"Kunci rumah saya gitu, Pak?" tanya Desta.


"Iyalah. Masa kunci rumah saya."


"Iya juga sih."


Allan berbisik pelan. "Aluna pasti klepek-klepek sama kamu kalau kasihnya kunci rumah."


Desta mengangguk pelan tanda mengerti. "Dulu Bapak melamar dengan kunci rumah juga?"


"Bukan!"


"Terus?"


Sambil menarik napas, Allan menjawab. "Will you marry me! Makanya saya bilang cara itu basi, karena hasilnya saya cerai."


🌻

__ADS_1


Desta be like 👉 😤😤😤😤


__ADS_2