
Wajah Giany memerah karena malu kedapatan mertua. Ingin rasanya menenggelamkan diri ke Palung Mariana saja. Anehnya Allan malah sangat santai, seolah kedapatan sang ibu bukan sesuatu yang memalukan.
“Muka kamu kenapa merah begitu?”
“Aku malu, Mas.”
“Memang kenapa pintunya bisa terbuka?” bisiknya.
Giany menunduk. Ekor matanya melirik Bu Dini yang entah mengapa masih betah berdiri di sisi meja nakas tempatnya meletakkan sarapan. “Aku habis dari balkon jemur handuk.”
“Oh.” Allan kemudian melirik Bu Dini dan tersenyum lebar. “Maaf, Bu. Giany lupa tutup pintu.”
Wanita paruh baya itu malah terkekeh. Ada raut kebahagiaan yang memancar di wajahnya. Kini harapannya sudah terpenuhi. Allan menikah lagi dan terlihat sangat bahagia. Sejak bercerai dari Ayra, ia selalu meminta Allan untuk mencari pengganti, namun putranya itu selalu menolak. Hingga akhirnya Giany hadir dalam kehidupan mereka bagai sebuah kejutan. Tidak percuma jika harus menjalankan misi merebut menantu orang.
“Ibu bawa sarapan untuk Giany. Kalian mentang-mentang pengantin baru mendekam di kamar terus sampai lupa makan.” Ia memicingkan mata menatap Allan. “Awas kamu kalau Giany sampai encok!”
Sontak wajah Giany semakin memerah mendengar ucapan frontal Bu Dini. Ia bahkan tidak berani menatap mertuanya itu.
__ADS_1
“Gimana mau encok, Bu? Baru mau usaha Ibu sudah muncul di depan pintu,” ucap Allan tanpa rasa malu.
“Mas!” Giany melayangkan cubitan di perut.
“Salah sendiri mau nganu tidak tutup pintu,” ledek Bu Dini.
Giany mengusap wajah mendengar perdebatan ibu dan anak itu. Sungguh, Allan dan bu Dini seakan sengaja menggodanya.
“Ya sudah ibu mau ke bawah. Silakan lanjutkan usaha kalian yang sempat tertunda.” Sambil tersenyum, Bu Dini beranjak keluar dari kamar dan menutup pintu.
Allan melirik Giany yang masih menunduk malu, rasanya sangat menggemaskan melihat raut wajah malu-malu wanitanya itu. Ia menatapnya penuh cinta. Baginya Giany adalah sosok wanita yang sangat lembut dan dewasa, meskipun usianya jauh di bawah Allan, tetapi ia dapat mengimbangi.
“Sayang ...”
“Iya, Mas ...”
“Kalau aku ada salah atau ada yang kamu tidak suka dari aku, ingatkan aku ya ... Mungkin aku tidak bisa menjadi seorang suami yang sempurna, tapi aku akan selalu belajar untuk menjadi yang terbaik bagimu.”
__ADS_1
Giany menerbitkan senyum di wajahnya, kemudian bersandar di dada polos Allan. Pikiran polosnya mendominasi tentang apa arti sebuah pernikahan. Ingatan bagaimana Desta menyiksanya secara fisik dan psikis mulai terbayang kembali. Tentu saja ia merasakan perbedaan yang besar.
Bersama Allan, jangankan memukul, membentak saja tidak pernah. Lalu suami seperti apa lagi yang diinginkan Giany, saat Allan telah menunjukkan kepadanya cinta yang hakiki—yang membuatnya tidak akan pernah berhenti bersyukur.
Ia yakin, Tuhan tidak sedang mengujinya melalui Desta, tidak pula menghukum, melainkan mengajarkannya untuk sabar dan ikhlas, agar saat kebahagiaan datang menghampirinya, ia pandai untuk bersyukur.
“Aku mencintaimu, Mas!”
Merindinglicious! Ah, lupakan soal licious yang sejak kemarin membuat mata dan lidah keseleo! Yang jelas jantung Allan terasa bergemuruh mendengar kalimat itu. Ia membalas pelukan Giany. Erat dan kuat.
“Sayang, lanjutin yang tadi yuk!”
“Yang mana, Mas?”
“Tadi kan aku bilang mau meningkatkan imun dan iman biar aman.”
Sepertinya ada yang langsung tegang tapi bukan arus listrik. Dasar raja modus, dipancing sedikit saja langsung anulicious. Allan, Allan ... Netijen sedang menganumu!
__ADS_1
🌻