
Mobil melaju dengan kecepatan sedang membelah keramaian jalan. Sudah lima belas menit berlalu namun belum ada pembahasan antara Allan dan Giany. Keduanya saling diam, mewakilkan rasa canggung. Sesekali Allan melirik Giany yang sejak tadi diam membisu.
“Giany …” Allan membuka suara, memecah kebekuan yang ada.
“Iya …” jawab Giany singkat, membuat Alan menarik napas.
Mas nya mana, Giany? Batin Allan.
“Boleh tanya sesuatu?”
“Boleh.”
Hmm … benar-benar ya ini manusia satu. Gerutu Allan dalam batin.
“Kamu ada rencana apa setelah resmi bercerai dari suamimu?”
Seketika Giany terdiam. Allan baru saja memberi sebuah pertanyaan yang membuat Giany merasa sulit menjawab. “Tidak ada rencana apa-apa.”
“Kamu …” Ucapan Allan terputus. “Ada rencana menikah lagi, tidak?”
Giany reflek menoleh kepada Allan. Ia terlihat cukup terkejut mendengar pertanyaan itu. Namun, beberapa saat kemudian ia menggelengkan kepala. “Tidak ada.”
“Kenapa?”
“Menikah bukan perkara mudah. Lagi pula saya takut hal yang sama akan terjadi lagi.”
“Tapi kan tidak semua laki-laki itu brengssek seperti suami kamu itu,” ucap Allan frontal tanpa sadar akibat kekesalan kepada Desta. Ia tahu Giany menjadi trauma karena perbuatan Desta yang sangat kejam. “Maaf, Giany … Saya tidak bermaksud menghakimi dia. Tapi …”
“Tidak apa-apa, Dokter. Saya mengerti. Lagi pula, selama tinggal bersama Mas Desta, saya memang tidak pernah diperlakukan dengan baik.”
__ADS_1
Giany kemudian membungkam. Sepasang bola mata indahnya digenangi cairan bening, tetapi ia menahannya sebisa mungkin, agar make up yang membalut wajahnya tidak meleleh dengan sapuan air mata.
Hingga beberapa saat berlalu, mereka tiba di sebuah hotel mewah tempat diadakannya acara besar itu. Giany terlihat ragu untuk turun dari mobil. Ia sadar pesta malam itu bukanlah sebuah pesta biasa. Salah sedikit saja bisa membuat Dokter Allan malu. Terlebih Giany sama sekali belum pernah menghadiri pesta mewah semacam ini.
Allan turun lebih dulu dan membukakan pintu mobil. Sambil tersenyum, ia mengulurkan tangannya kepada Giany. “Ayo turun!” ucapnya lembut.
Ragu-ragu, Giany menyambut uluran tangan Allan dan turun dari mobil. Pandangannya menyapu sekitar area parker. Tampak beberapa tamu yang juga baru tiba. Beberapa di antara nya tampil sangat cantik dan elegan.
“Kenapa, Giany?”
“Dokter … Saya belum pernah ke acara seperti ini sebelumnya. Apa lebih baik saya tunggu di mobil saja? Saya takut akan membuat malu Dokter.”
Allan terkekeh mendengar ucapan yang baginya terlampau polos itu. “Memang kenapa, yang di dalam itu manusia biasa semua kok.”
“Bukan begitu, tapi … saya malu.”
“Malu kenapa? Ini hanya pesta biasa. Kalau kamu gugup, ayo gandeng tangan saya.”
“Lagi pula kamu tidak kalah cantik dari wanita-wanita di dalam sana.” Sebuah kalimat gombalan yang secara terang-terangan baru saja terucap di bibir Allan, membuat wajah Giany merah merona.
Tidak apa-apa deh modus, yang penting tangannya digandeng Giany.
“Ingat, di dalam jangan panggil saya Dokter, tapi Mas,” ucap Allan santai namun sedikit menekan.
“Iya, Ma-Mas.”
__
Berjalan beriringan sambil bergandengan tangan, Allan dan Giany memasuki gedung mewah itu. Sebuah karpet merah membentang, membuat Giany merasa gugup. Apalagi melihat betapa ramainya malam itu oleh kehadiran para tamu.
__ADS_1
Hampir semua mata tertuju kepada sosok Dokter Allan Hadikusuma yang menghadiri undangan dengan membawa seorang wanita cantik. Terkenal sebagai duda keren yang belum pernah dekat dengan wanita manapun membuat banyak yang bertanya-tanya, tentang siapakah wanita yang sedang menemani sang dokter.
“Santai saja Giany. Jangan tegang begitu.” Allan dapat merasakan gugupnya Giany melalui genggaman tangannya yang erat.
“Iya, Mas.”
Alan melirik ke sudut ruangan itu, dimana beberapa orang pria melambaikan tangan ke arahnya. “Ayo, saya kenalkan dengan teman-teman saya.”
Giany hanya pasrah, mengikuti kemana pun Allan membawanya. Ia mengenalkan Giany kepada beberapa temannya.
Tanpa disadari oleh Allan dan Giany, sepasang mata menatap mereka dengan geram sejak menginjakkan kaki di sana. Desta sedang duduk bersama Aluna dan Rendy di sebuah meja, tak jauh dari posisi Allan dan Giany berdiri. Ia tidak pernah menyangka Allan akan membawa Giany ke acara penting seperti ini.
Penampilan Giany yang berbeda malam itu membuat Desta terpaku. Tidak pernah sebelumnya ia membayangkan Giany akan tampil memukau dengan gaun berwarna biru navy yang membalut tubuhnya. Riasan natural terlihat menyatu alami dengan wajah cantiknya. Boleh jadi Desta sangat menyesal telah kehilangan sosok wanita seperti Giany.
Tangannya mengepal tanpa sadar. Ingin rasanya memukuli Allan yang tampak begitu bahagia memperkenalkan Giany kepada beberapa orang.
"Desta, kamu kenapa sih?" tanya Aluna membuyarkan lamunan Desta.
"Tidak apa-apa," jawab Desta datar.
Aluna pun reflek menoleh ke arah yang sedang ditatap oleh Desta. Dirinya sama terkejutnya, saat melihat Giany bergandengan tangan dengan seorang pria.
"Itu kan Giany, Desta."
"Iya, Lun." Desta bangkit dari duduknya, "Kalian tunggu di sini, aku mau ke sana sebentar."
Desta melangkah ke arah Allan dan Giany dengan gurat kemarahan yang terpancar jelas di matanya.
Brengseek! Lihat saja, akan aku bongkar semua kebusukan mu di hadapan para tamu. Kamu tidak lebih dari perusak rumah tangga orang! batin Desta sambil melangkah mendekat ke arah Allan.
__ADS_1
🌻🌻🌻