
“Giany ... Giany ...”
Perlahan kelopak mata Giany terbuka ketika mendengar suara lembut memanggil namanya. Ia terbangun dengan raut muka terkejut dan reflek bangkit dengan posisi duduk. Sebelum akhirnya menghembuskan napas panjang sambil mengusap kelopak matanya beberapa kali dengan jari.
Allan tertawa gemas. Sepertinya istrinya itu lupa bahwa dirinya telah dinikahi oleh Allan, sehingga begitu terkejut saat baru terbangun dan mendapati Allan di sisinya.
“Ma-af, Mas. A-da apa?” Sambil melirik arah jarum jam di dinding. Waktu menunjukkan pukul dua dini hari. Hah, mau apa Allan membangunkannya di jam seperti itu? Sorot mata Giany penuh dengan tanda tanya dan cukup gelisah.
Allan tersenyum sambil merapikan anak rambut yang berada di sekitar wajah Giany, menyelipnya ke belakang telinga. “Ini malam pertama kita menikah. Ibadah bareng yuk!” ajaknya dengan lembut.
Mulut Giany terbuka tanpa sadar. Entah mengapa tubuhnya tiba-tiba gemetar. Ia tenggelam dalam pemikirannya sendiri, tentang yang dimaksud Allan ibadah di malam pertama mereka menikah.
“I-ibadah?” Pertanyaan itu lolos begitu saja mewakili rasa terkejutnya.
“Iya. Ini sepertiga malam terakhir. Waktu terbaik untuk ibadah malam.”
__ADS_1
Irama jantung Giany semakin tidak karuan. Tangannya meremas seprai kuat-kuat, seperti sudah kehilangan separuh akal sehatnya. Hanya kalimat ibadah malam yang terucap dari bibir Allan yang dicerna oleh otaknya. “Ibadah malam?” ucapnya nyaris terbata.
Allan terkekeh semakin gemas dengan tingkah Giany. Sepertinya ia menangkap dengan baik apa yang ada di benak wanitanya itu. “Shalat malam bareng, Giany ... Kamu pikir aku ajak kamu ibadah malam yang seperti apa?” Ia mengacak rambut Giany dengan gemas, lalu sambil tertawa kecil beranjak turun dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi.
Giany sedang mengatur napas yang sialnya tiba-tiba memburu. Padahal tidak sedang melakukan aktivitas berat. Rupanya rasa malu juga mampu untuk membuat paru-paru kembang kempis. Semenggetarkan inikah yang namanya malam pertama menikah?
Beberapa menit berlalu. Allan keluar dari kamar mandi. Giany seketika menunduk saat tersadar -- dengan tidak tahu malunya begitu terpaku menatap tubuh Allan yang hanya tertutupi sehelai handuk yang melingkar di pinggang. Menampilkan tubuhnya yang seksi. Dan wajahnya semakin memerah saat otak manusia normalnya memikirkan benda yang ada di balik handuk itu.
Allan membuka lemari, mengeluarkan baju koko berwarna putih berikut sarung berwarna senada dengan motif kotak-kotak. Ia melirik Giany yang masih mematung di tempat tidur sambil memeluk selimut.
“Ah, i-iya, Mas!” jawabnya gelagapan. Lalu bangkit dari tempat tidur. Meraih jubah mandinya yang menggantung di sudut ruangan dan cepat-cepat masuk ke kamar mandi.
Beberapa menit berselang. Giany keluar dengan menggenggam kuat jubah mandi di bagian dada, seperti takut jika terbuka. Wanita itu menuju lemari dan memilih pakaian. Entah mengapa nalurinya seolah berbisik untuk memakai pakaian berwarna senada dengan sang suami. Maka pilihannya jatuh pada sehelai gamis berwarna putih berbahan katun yang lembut. Bu Dini, sang mertua menyiapkan semuanya dengan baik. Giany sungguh merasa beruntung.
“Giany ... Ini mukenahnya.” Allan meletakkan tas mukenah di atas meja. Giany melirik benda itu. Ia ingat mukenah itu adalah mahar yang diberikan Allan kepadanya.
__ADS_1
“Ada tanggung jawab yang tidak ringan ketika seorang suami memberikan mahar seperangkat alat shalat kepada istrinya. Dia harus bisa menuntun istrinya untuk menjalankan kewajiban beribadah. Kamu mau kan, menjalaninya bersamaku mulai malam ini. Mari kita sama-sama belajar.”
Giany menatap lekat wajah Allan. Hatinya bergetar hanya dengan mendengar kalimat itu. Dan tanpa menyahut segera memakainya.
Berdiri di belakang Allan sebagai makmum, ini adalah ibadah pertamanya bersama laki-laki yang telah menjadi imam dalam hidupnya. Suara merdu Allan melafalkan setiap ayat terasa menyejukkan sukmanya. Sangat damai. Hingga rasanya ia tidak ingin saat ini berlalu begitu cepat.
Giany mengangkat kepala, menatap punggung tegak Allan sesaat setelah laki-laki itu mengucapkan salam tanda ibadah malam itu selesai. Bolehkah Giany merasa bahagia malam ini untuk pertama kalinya?
Air mata yang sedari ia tahan dalam setiap sujud mengalir deras saat bibirnya menyentuh punggung tangan suaminya. Seperti inikah pernikahan sebenarnya? Apa sebahagia ini ? Giany tidak tahu jawabannya. Karena suami pertamanya, Desta, hanya memberinya rasa sakit dan kecewa. Dan kini, Allan telah menunjukkan rasa hangat dan perlindungan dalam sebuah pernikahan. Hal yang tidak pernah ia dapatkan sebelumnya.
Mendengar isak tangis Giany, laki-laki itu memeluknya. Sesekali memberi kecupan di puncak kepala yang kini bersandar di dadanya. Tangisnya perlahan mereda dan berganti menjadi suara sesegukan. Ia mengusap punggung wanita itu dengan lembut.
Hal pertama yang akan aku ajarkan kepadamu adalah kasih sayang yang akan tumbuh melalui ibadah bersama. pelan-pelan, akan aku tunjukkan cinta yang sebenarnya dalam setiap hubungan.
🌻
__ADS_1