
Setelah aksi penolakan yang cukup menguras emosi, Ayra duduk di sebuah taman. Ia sangat tidak terima dengan perlakuan Maysha kepada dirinya dan menuduh Giany yang menyebabkan Maysha menolak dirinya.
Melihat Giany keluar dari ruang kelas, wanita itu pun segera menghampirinya.
"Kamu pasti sangat puas karena Maysha menolak ibu kandungnya sendiri, kan ..."
Giany mengernyit heran. "Maksud Bu Ayra?"
"Tidak usah pura-pura lugu!" bentaknya.
Giany menarik napas dalam. Ia ingin meninggalkan Ayra, namun wanita itu menarik lengannya. Tetapi Giany segera menghempas tangan Ayra.
"Maaf, Bu Ayra. Maysha itu anak yang sensitif, dia tahu mana yang tulus dan tidak. Lagi pula, kenapa baru sekarang-sekarang Bu Ayra datang? Selama ini Bu Ayra kemana?"
"Itu semua bukan urusan kamu! Sekarang saya minta kamu bujuk Maysha untuk mau menerima ibunya kembali."
Giany tersenyum sinis. Ia hampir tak percaya Ayra memintanya melakukan itu semua. "Maaf, itu semua bukan urusan saya."
Setelahnya, Giany meninggalkan Ayra seorang diri menuju sisi taman yang lain. Sementara Ayra hanya menatap geram punggung Giany yang telah menjauh darinya.
🌻
__ADS_1
Allan baru saja tiba di kantor polisi tempat Desta sekarang ditahan. Sebelum mencabut tuntutannya, ia ingin memastikan dahulu bahwa Desta benar-benar menyetujui syarat yang diajukan. Jika tidak, maka Desta harus betah berlama-lama mendekam di sel tahanan.
Fredy, kuasa hukum Allan sudah tiba lebih dulu dan menunggu di depan. Sontak laki-laki itu berdiri ketika melihat Allan masuk.
"Selamat pagi, Dokter."
"Pagi. Bagaimana, kamu sudah siapkan surat perjanjian yang saya minta."
Fredy mengangguk, sambil menyerahkan sebuah map berisi sebuah surat perjanjian yang semalam membuatnya pusing tujuh keliling. Allan membaca isi surat dengan teliti, memastikan tidak ada yang tertinggal.
"Bagus, sesuai permintaan," ucapnya sambil tersenyum. "Kalau begini si Desta tidak akan bisa lagi mengganggu Giany."
Fredy menatap Allan dengan intens. Benaknya penuh dengan pertanyaan tentang Giany. Tetapi tentu saja ia tidak akan berani bertanya, apalagi terhadap sesuatu yang bersifat pribadi.
Dengan sorot mata yang tajam, Desta membaca kata demi kata yang tertulis di dalam sebuah surat perjanjian yang telah dibuat oleh kuasa hukum Allan sesuai permintaan sang dokter. Rahangnya mengeras pertanda geram. Allan seperti menjatuhkan bom atom yang siap meledak kapan saja.
"Apa-apaan ini? Jangan harap saya mau tanda tangan!" Desta menggebrak meja dengan kekesalan yang memuncak. Kemudian melempar map cokelat itu dengan kasar ke atas meja.
Allan tersenyum sinis sambil menatap Desta. "Terserah mau tanda tangan atau tidak. Keputusannya ada di tangan kamu. Kalau tidak mau, berarti kamu cukup betah nginap di sini."
Desta semakin menggeram. Ingin rasanya menghajar Allan saat itu juga, tetapi tidak bisa melakukannya. Bisa-bisa malah akan merugikan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Kamu pikir saya akan diam saja?"
Allan menatap dengan senyum yang terlampau menyebalkan bagi Desta. Ia bahkan tidak peduli dengan kemarahan Desta sedikit pun. "Fred, kasih tahu dia berapa lama hukuman yang pantas bagi seseorang yang melakukan kekerasan dalam rumah tangga. Bukan hanya itu, dia juga menghilangkan nyawa anaknya sendiri!"
Fredy tersenyum. Ia menggeser kembali surat perjanjian itu ke hadapan Desta dan meletakkan pena di sana. Ia tahu Desta tidak ingin tanda tangan, tetapi dengan sedikit tekanan laki-laki itu tidak punya pilihan.
"Pak Desta, lebih baik tanda tangan kalau mau Dokter Allan mencabut tuntutannya. Saya rasa ini yang terbaik bagi Pak Desta. Lagi pula hukuman yang menanti jika Pak Desta dinyatakan bersalah bukan hukuman ringan."
Desta menarik napas dalam. Kini ia merasa hidupnya ada di tangan Allan. Sedikit melakukan kesalahan saja, maka semuanya berakhir.
Tangannya terulur secara perlahan dan meraih pena. Ia genggam di tangannya dengan erat seperti hendak mematahkannya. Seluruh jiwanya sangat tidak merelakan Giany untuk Allan. Tetapi ia sudah tidak ada daya untuk melawan Allan. Dengan sangat terpaksa ia membubuhkan tanda tangannya di sana.
"Bagus! Artinya mulai sekarang, kamu sudah tidak boleh mengusik kehidupan Giany lagi dengan alasan apapun," ucap Allan menekan. Ada senyum kepuasan yang terbit di sudut bibirnya. "Fred, kamu urus dia sampai selesai."
"Baik Dokter."
Setelah kepergian Allan, Fredy menatap Desta.
"Pak Desta nyali nya besar juga, Sampai mau berurusan dengan Dokter Allan," sindir Fredy sambil memasukkan map ke dalam tas kerjanya.
"Memang kenapa? Apa yang perlu saya takutkan dari orang seperti dia. Lagi pula dia hanya seorang dokter biasa."
__ADS_1
Fredy hanya berdecak seraya menggelengkan kepala.
🌻