Bukan Salahku Merebut Istrimu

Bukan Salahku Merebut Istrimu
BSMI 109


__ADS_3

Keesokan harinya ...


Menuruni tangga dengan tergesa dan panik, Giany hampir saja terjatuh. Beruntung ia berpegangan sehingga tidak sampai terjungkal ke bawah. Wanita itu baru saja mendapat telepon dari pihak sekolah Maysha.


“Bibi Misa, ibu di mana?” tanyanya.


“Ibu sedang ke tetangga sebelah, Bu Giany. Ada apa?”


“Saya mau ke sekolahnya Maysha, Bi. Gurunya barusan hubungi saya, katanya Maysha lagi ngamuk. Dia pasti tantrum lagi.”


Kontan Bibi Misa ikut panik mendengar ucapan Giany, hingga reflek berdiri dari duduknya. “Maysha ngamuk?”


“Iya, Bi. Kalau ibu pulang dan cari, tolong beri tahu kalau saya ke sekolah ya ...”


“Baik, Bu.”


Giany berlari menuju halaman depan untuk meminta Amir mengantarnya ke sekolah. Ia ingin menghubungi Allan, tetapi diurungkan karena takut Allan akan panik dan mengganggu pekerjaannya di rumah sakit.

__ADS_1


Kurang dari sepuluh menit mereka sudah tiba di sekolah. Jarak dari rumah ke sekolah tidak begitu jauh, sehingga tidak memakan waktu banyak. Giany segera membuka pintu mobil dan berlari menuju ruang kelas Maysha. Ada banyak siswa serta beberapa gudu dan orang tua siswa yang berkumpul di depan kelas. Giany sampai harus menerobos untuk dapat masuk ke sana.


Melihat Maysha menangis meraung di sisi meja, Giany pun segera mendekat. Ia memberi kode kepada dua orang guru yang sedang berusaha menenangkan—agar memberinya ruang berdua dengan Maysha.


“Maysha, Sayang ... Ini Bunda.” Ia ingin meraih tubuh kecil itu, namun Maysha semakin memberontak. Sepertinya belum sadar akan kehadiran bundanya. Giany lantas memeluk erat seraya mengusap rambutnya dengan lembut, walaupun masih dengan perlawanan oleh gadis kecil itu.


Perlahan Maysha mulai tenang saat penciumannya menyesap aroma tubuh sang bunda, berikut Giany yang terus membisikkan sesuatu di di telinganya. Mulai tersadar, dengan sisa tangis ia melingkarkan tangan pada tubuh Giany.


“Tenang ya, Sayang ... Tidak apa-apa. Maysha jangan takut, kan ada bunda di sini.”


Giany melihat kedua tangan Maysha yang masih mengepal. Ia yakin sesuatu baru saja memicu kemarahannya sehingga sampai mengamuk. Kemudian meneliti seluruh isi kelas, ada pecahan vas bunga berserakan di lantai, berikut kertas dan buku berhamburan.


“Tante, Maysha nangis gara-gara Aurel sama Fika. Mereka bilang, ibunya Maysha orang jahat, karena masuk penjara.” Dengan polosnya Lyla mengadukan perbuatan teman sekelasnya.


“Iya, Tante. Aurel sama Fika itu anak bandel, suka ganggu Maysha,” imbuh Chella.


Giany semakin mengeratkan pelukan saat merasakan tubuh Maysha mulai bereaksi. “Sudah, Sayang ... Tidak apa-apa,” bisiknya ke telinga Maysha, kemudian menatap Lyla dan Chella. “Tidak apa-apa, Sayang. Nanti tante bicara sama Bu Guru, ya.”

__ADS_1


“Iya, Tante ... Suruh hukum aja Aurel sama Fika.”


Giany hanya menyahut dengan senyuman. tangannya masih bergerak mengusap punggung dan rambut Maysha. Ia sadar, sebagai seorang model terkenal, kehidupan Ayra akan selalu disoroti media. Kasus kebakaran restoran dan kedapatan menggunakan obat-obatan terlarang membuatnya harus berurusan dengan hukum. Dan semua itu dapat berpengaruh pada mental Maysha.


*****


Setelah berdiskusi dengan beberapa guru pembimbing, Giany berpamitan. Ia menggendong Maysha keluar dari ruangan itu. Melewati koridor, tampak beberapa orang tua siswa sedang mengobrol. Giany bahkan harus menahan diri mendengar ibu-ibu membicarakan Ayra.


“Ibunya masuk penjara, anaknya jadi mengalami gangguan kejiwaan. Sampai ngamuk-ngamuk begitu kayak orang kesurupan. Lama-lama bisa gila loh, itu anak,” ucap ibu-ibu yang satu.


“Iya, Bu ... Amit-amit.”


“Lagian ini kan bukan sekolah SLB. Kenapa anak dengan gangguan mental begitu diterima di sekolah anak normal.”


Langkah Giany terhenti mendengar obrolan bernada sindiran itu. Ia menoleh dan menatap tajam ibu-ibu yang tengah asyik mengobrol. Jika biasanya ia sabar dan banyak diam, namun tidak kali ini. Sebab, ibu mana pun tidak akan senang anaknya dicemooh orang lain.


"Itu bibir apa pan*tat ayam sih, Bu. Hobby banget ngomongin orang! Kalau tidak bisa ber-empati sama masalah orang lain, kasihan lah sama anak sendiri, takutnya ikutin kelakuan buruk ibunya yang suka ghibah."

__ADS_1


Setelah membalas sindiran itu, ia melangkah tanpa permisi.


🌻


__ADS_2