Bukan Salahku Merebut Istrimu

Bukan Salahku Merebut Istrimu
BSMI 123


__ADS_3

Setelah berpamitan, Allan dan Giany berangkat ke sebuah tempat. Menempuh perjalanan selama tiga jam, mereka akhirnya tiba. Hari sudah gelap. Kini mereka berada di sebuah tempat yang sangat asing dan cukup menakutkan bagi Giany.


Di tempat itu hanya ada jalan sempit dengan pepohonan besar di sekitarnya. Bahkan tidak ada listrik.


“Kenapa kita kemari, Mas? Ini kan di tengah hutan. Dan kenapa tidak ada rumah lain di sini?” tanya Giany.


Ia mengeratkan genggamannya di lengan Allan sambil berjalan kaki melewati pepohonan yang lebat. Di hadapan mereka ada sebuah villa yang cukup besar dan indah. Seorang penjaga villa baru saja memberikan kunci.


“Villa nya memang di tengah hutan, Sayang. Tidak ada yang akan menduga kalau di tengah hutan ada villa sebagus ini.”


“Listriknya bagaimana?”


“Pakai genset bisa, pembangkit listrik tenaga air juga bisa.”


“Oh.”


Allan membuka pintu masuk. Begitu tiba di dalam, pandangan Giany berkeliling. Sungguh villa itu adalah sebuah tempat yang sangat indah. Jauh dari kota, namun ada fasilitas mewah di dalamnya. Giany sampai penasaran, siapa pemilik villa mewah itu.


Memasuki sebuah kamar, Giany semakin kagum. Sebuah kamar besar dengan kaca transparan di salah satu sisi yang menunjukkan pemandangan luar yang dihiasi lampu-lampu taman.


Allan meletakkan sebuah koper di sudut ruangan.


“Mas villa ini punya siapa?”


“Punya temanku, dia menawarkan kemari. Aku terima saja, kapan lagi bisa dapat villa bagus dan gratis.”


“Wah, villa nya bagus sekali ya. Pasti teman Mas itu orang kaya ...”


“Lumayan. Kamu tahu, dulu saat dia dipenjara karena dijebak orang jahat, istri dan anaknya disembunyikan di villa ini selama dua tahun. Dan selama dua tahun bersembunyi, tidak ada yang tahu kalau mereka di sini.”


“Memang temannya Mas Allan kena kasus apa sampai dipenjara selama dua tahun?”


“Kalau mau tahu baca saja novel Penjara cinta Sang Mafia. Kisah mereka tertulis di sana, termasuk tentang villa ini.”


Giany meraba tengkuknya. Merasa seluruh bulu kuduknya meremang. “Temannya Mas itu mafia ya?"


"Dulunya."

__ADS_1


"Tapi, Mas tidak berencana menyembunyikan aku di sini selama dua tahun, kan?”


“Haha, Giany ... Giany ... Kamu ini kok imut begini sih? Untuk apa aku sembunyikan kamu di sini selama dua tahun. Tenang sayang, dua hari sudah cukup kok.” Ia menggendong Giany dan membaringkan di tempat tidur. “Katanya mau elus si Arnold,” bisiknya pelan.


Giany menatap Allan penuh tanya. “Memang Arnold jadi ikut?”


“Jadi lah. Sepanjang jalan tadi Arnold tidur terus. Kamu yang harus membangunkan.” Ia meraih jemari Giany, menggenggam dengan erat. “Coba tutup matanya.”


"Kenapa harus tutup mata?"


"Biar Arnold bisa keluar dari persembunyian."


"Memang Arnold sembunyi di mana?"


Allan tertawa dalam hati. Bermain dengan kepolosan Giany benar-benar membuat hatinya berbunga-bunga. Kepolosan itu lah yang membuatnya semakin jatuh cinta di setiap harinya.


"Tebak, yang kamu pegang sekarang apa?"


Giany meremas benda yang sekarang berada dalam genggamannya. Agak letoy cenderung lembek dan tak memiliki tulang.


"Squishy, Mas!" jawabnya penuh percaya diri.


Tiba-tiba, Giany merasakan benda digenggamnya membesar dan mengeras. Ia baru tersadar segalanya. Malu? Tentu saja. Apalagi mengingat tadi siang ia tanpa rasa malu bertanya kepada sang mertua, dimana harus membeli serabi untuk Arnold.


"Massss, kamu ngerjain aku yaaaa!!!" teriaknya membuat Allan tertawa terbahak.


🌻


🌻


Sementara itu sebuah mobil berhenti di depan sebuah rumah kontrakan. Aluna baru tiba dengan diantar Desta setelah sebelumnya bertemu dengan klien. Pekerjaan mereka cukup menyita waktu hingga malam.


"Makasih ya, Desta. Aku masuk dulu ya ..." Ia akan membuka pintu mobil, namun Desta menarik pergelangan tangannya.


"Aluna, ada yang mau aku katakan," ujar Desta ragu-ragu. Ia mengeluarkan sebuah kotak dari paper bag.


"Apa, Des?"

__ADS_1


Laki-laki itu menarik napas dalam untuk mengumpulkan keberaniannya mengatakan apa yang sedang ada di benaknya. Ia sangat gugup untuk melamar gadis pujaannya hingga tak tahu harus berkata apa.


"Aku tahu aku bukan laki-laki yang baik. Aku banyak salah dan kekurangan. Lun, maukah kamu menemani aku?" Sambil menyerahkan sebuah kotak berwarna merah.


"Menemani apa?"


"Ma-maukah ka-mu menjadi teman tidurku dan menjadi ibu bagi anak-anakku nanti?"


Mendadak kedua bola mata Aluna melebar mendengar ucapan Desta. Napasnya menjadi lebih cepat dan wajahnya tiba-tiba memerah. Tetapi bukan karena tersipu apalagi tersanjung.


PLAK!


Tamparan keras ia hadiahkan ke wajah laki-laki itu, membuat Desta mengusap wajahnya yang terasa kebas. Entah apa yang salah dari ucapannya sehingga Aluna menamparnya.


"Kamu pikir aku perempuan apaan sampai kamu ajak tidur segala?" Ia merebut kotak dari tangan Desta dan membukanya, menemukan sebuah kunci dari sana. "Dan ini apa?"


Terkejut, Desta melirik kunci yang digenggam Aluna. Ia baru sadar salah memasukkan kunci kamar, bukan kunci rumah.


"Kunci kamar, Lun!"


Plak! Plak! Dua buah tamparan mendarat mulus.


"Brengseekk!!! Nikahi aku dulu kalau mau tidur sama aku!"


Karena terkejutnya Desta belum sanggup berkata-kata.


"Bu-bukan begitu maksudku, Lun!"


"Terus apa? Kamu minta aku temani kamu tidur terus kamu kasih aku kunci kamar! Kamu memang brengsekk ya..." Ia segera membuka pintu mobil dan membantingnya kasar.


Desta hanya dapat menatap heran, lalu bergegas menyusul Aluna. Tetapi sayang, Aluna sudah mengunci pintu kontrakannya rapat-rapat. Desta mengetuk beberapa kali pun percuma saja. Ia segera kembali ke mobil, duduk bersandar sambil mengusap wajahnya yang baru mendapat hadiah dari Aluna.


Diraihnya ponsel dari laci dashboard untuk menghubungi Aluna dan menjelaskan kesalahpahaman tentang ajakan tidur tadi. Namun baru membuka kunci layar, sudah ada pemberitahuan beberapa pesan belum terbaca, salah satunya dari Allan.


[Bagaimana hasil lamarannya?] Isi pesan Allan.


[Digampar, Pak!]

__ADS_1


🌻


__ADS_2