Bukan Salahku Merebut Istrimu

Bukan Salahku Merebut Istrimu
BSMI 135


__ADS_3

“Aaaargh!” teriakan kesakitan dari pasien membuat suasana semakin tegang. Suami si pasien lantas mengusap-usap perut istrinya.


“Sabar ya ... Aduh bagaimana ini, kenapa tidak ada dokter wanita yang bertugas sih?” gerutu suami pasien seraya mengusap perut istrinya. Sampai detik ini, ia belum memberi izin bagi Allan untuk menangani istrinya.


Allan dan beberapa bidan saling lirik satu sama lain. Sebagai seorang dokter, ia tidak bisa melalaikan tanggungjawabnya terhadap pasien dan lagi harus dapat menjaga emosinya dalam menghadapi suami pasien yang keras kepala.


“Begini saja, Pak. Biar bidan yang periksa bukaannya sekarang sudah berapa, tapi untuk bersalin, tetap harus saya yang tangani. Lagi pula ini kondisi darurat, keselamatan istri dan anak bapak taruhannya.”


Mendengar ucapan Allan, laki-laki itu menghela napas frustrasi, kemudian menatap istrinya iba. Sudah beberapa kali wanita itu berteriak kesakitan.


“Baiklah, kalau sudah tidak ada pilihan lain lagi,” ujarnya pasrah.


Allan menyahut dengan anggukan kepala, lalu memberi instruksi kepada seorang bidan muda untuk memeriksa bukaan. Ia keluar sebentar dan berdiri di balik tirai untuk menenangkan dirinya sendiri.


Pandangan matanya mengarah kepada Giany yang duduk di sofa. Giany menatapnya dengan sedih. Ia baru saja dibentak suami pasien tentu membuat perasaannya tidak enak. Tetapi Allan malah tersenyum.


Melalui senyum itu, seolah ia ingin berkata bahwa segalanya akan baik-baik saja. Allan lantas menghampiri Giany dan duduk di sisinya.


"Kamu belum pulang, Sayang? Amir belum datang?"


"Aku belum hubungi Pak Amir. Aku mau menunggu Mas saja ya. Boleh kan?"


"Tapi aku masih harus menangani pasien, tidak tahu lama atau tidak."


"Tidak apa-apa, Mas. Aku mau di sini." Ia menyandarkan kepalanya di lengan Allan.


Kalau bapak tadi memaki lagi, akan aku balas. Enak saja memaki suami orang. Sudah bagus istrinya mau ditolong. gerutu Giany dalam batin.


"Ya sudah, kalau mau tunggu. Nanti kalau kamu mau makan atau minum sesuatu, pesan dari kafe saja." Allan menyerahkan ponsel miliknya ke tangan Giany. "Ini pakai hape aku. Di situ ada kontak dengan nama 'kafe RS'. Bilang Dokter Allan yang pesan, nanti karyawan kafe antar pesanan kamu ke mari."


"Iya, Mas."


"Capek ya hari ini temani aku?"


"Tidak juga."

__ADS_1


“Dokter, sudah bukaan delapan,” ucap seorang bidan yang baru muncul dari balik tirai—yang memutus pembicaraan antara Allan dan Giany.


“Minta ibunya untuk baring ke kiri, ya ... Biar bukaannya cepat.”


“Baik, Dokter.”


Bidan masuk kembali melalui tirai setelah mendapat arahan dari Allan.


__


Satu jam berlalu. Allan, dengan dibantu tiga bidan menangani pasien bersalin. Suara erangan kesakitan semakin menjadi. Dari balik tirai, Giany dapat mendengar suara suaminya yang sedang menginstruksikan cara mengejan yang baik kepada pasiennya.


“Bu ... Jangan mengejan kalau tidak diarahkan untuk mengejan, ya ... itu bisa menguras tenaga dan Ibu akan cepat lelah. Maaf, bok*ongnya jangan diangkat, karena bisa mengakibatkan sobekan membesar.”


“Sakit ini, Dokter!” teriak wanita itu.


“Ya memang sakit, Bu. Kalau tidak sakit anaknya tidak bisa keluar. Latihan dulu ya, coba ikuti saya ..." Allan menarik napas. "Tarik napas jangan terlalu dalam, jangan juga terlalu pendek, tahan di paru-paru, dagunya nempel di dada. Nah, begitu bagus ... Terus buang napas melalui hidung.”


Meskipun berada dalam tekanan suami pasien yang arogan dan keras kepala, tetapi Allan tetap mampu menjalankan tugasnya dengan baik dan sama sekali tidak terpancing emosi. sejak tadi suami pasien terus menggerutu sebab tidak terima istrinya harus ditangani seorang dokter pria.


"Coba sekali lagi, Bu."


“Jangan tutup mata saat mengejan ya, Bu. Bisa membuat pembuluh darah di selaput bola mata pecah. Matanya harus tetap terbuka. Dan jangan teriak, karena bisa membuat Ibu cepat capek,” ucap Allan. “Coba ulangi yang tadi ya ...”


“Sakit, saya tidak kuat lagi,” rintih wanita itu entah untuk ke sekian kali. Bidan dengan telaten mengusap keringat di kening dan leher dengan menggunakan tissue. Sementara sang suami masih setia berdiri di sisinya dengan menggenggam tangan erat.


Ia hampir saja menangis karena mengkhawatirkan istrinya yang terlihat semakin kesakitan.


“Tolong istri saya, dokter. Dia tambah kesakitan!” ujar si suami.


“Saya tidak kuat lagi, Dokter! Tidak kuat!” tambah wanita itu.


“Harus kuat, Bu. Anaknya sebentar lagi lahir, kepalanya sudah keluar. Coba kita ulangi yang tadi ya ... tarik napas ... tahan!”


Wanita itu mengikuti arahan Allan dengan baik.

__ADS_1


“Nah, bagus. Sekarang dorong yang kuat!”


“Emhhhhh!” Ia mengejan dengan sekuat tenaga hingga seolah nyawa tercabut dari tubuhnya.


Detik itu juga, suara tangisan bayi melengking pun terdengar memenuhi ruangan. Seorang bayi berjenis kelamin perempuan baru saja terlahir ke dunia. Tangisannya yang kuat menandai bahwa bayi itu lahir dalam kondisi sehat.


“Alhamdulillah ...” Beberapa orang terdengar mengucapkan kalimat itu. Sama seperti Giany yang ikut merasa lega mendengar suara tangis bayi.


Di balik tirai, Allan segera melakukan perawatan kepada bayi. Memotong tali pusat dan membersihkan tubuh bayi dari sisa-sisa darah serta air ketuban yang melekat di tubuh kecilnya.


Melihat istri dan anaknya selamat dan sehat, si suami arogan dan keras kepala itu pun menghampiri Allan yang masih merawat bayi nya. Sikapnya pun mulai melunak.


“Terima kasih, Dokter ... sudah menolong istri dan anak saya. Saya tidak tahu apa jadinya kalau dokter tidak membantu. Maafkan sikap saya tadi.”


“Sama-sama, Pak. Itu sudah tanggung jawab saya.”


Selepas membalut tubuh mungil itu dengan selimut kecil, Allan menyerahkan bayi pada ayahnya.


“Ini anak Bapak. Silakan diadzankan di telinga kanan dan iqamah di telinga kiri.”


“Loh, Dokter ... Bukannya yang diadzankan itu anak laki-laki saja ya?” ucapnya dengan yakin.


“Tidak ada bedanya, Pak. Bayi laki-laki ataupun perempuan sama saja. Sama-sama dianjurkan untuk diadzankan.”


Sang ayah meraba tengkuknya. “Wajib diadzankan ya, Dok?”


“Mengadzankan bayi baru lahir itu sunnah. Potensi indra manusia yang pertama berfungsi adalah pendengaran. Sebelum dia mendengar yang lain, akan baik kalau dia diperdengarkan persaksian atas Allah dan Nabinya. Jadi, silakan wudhu dulu, lalu adzankan bayinya.”


Wajah laki-laki itu terlihat memerah seraya menunjukkan senyum kecut. “Saya ...” ucapannya terputus dengan helaan napas. “Saya tidak terlalu bisa adzan, Dok. Kalau bisa ... tolong Dokter saja yang adzankan anak saya,” pintanya dengan malu-malu.


Allan hanya menyahut dengan senyuman ramah, tetapi dalam hati memaki.


Tadi teriak-teriak ngatain dokter tidak mengerti aurat, tidak paham etika, agama dan lain-lain. Ternyata suami pasien ini adzan pun tidak bisa. Hmmm... Dasar suami sontoloyo!


🌻

__ADS_1


🌻


🌻


__ADS_2