
“Fred, kamu urus dia.” Allan menatap Ayra dingin tanpa ekspresi.
“Baik Dokter.”
Allan berdiri dari duduknya dan akan melangkah, namun Ayra menarik pergelangan tangannya, menatap dengan memelas seakan meminta dikasihani, tetapi Allan tak bergeming sedikitpun.
Ia melepas tangan Ayra dan pergi tanpa sepatah kata pun. Sementara wanita itu hanya dapat menatap punggung Allan yang perlahan menghilang di balik pintu.
Freddie menggeser map ke hadapan Ayra.
“Bu Ayra, ini adalah perjanjian yang harus ditandatangani oleh Ibu, sebagai syarat agar Dokter Allan membantu Ibu untuk keluar dari penjara.”
Ayra hanya menatap kertas putih itu tanpa berniat untuk tanda tangan, sehingga Freddie menarik napas dalam. Ia kembali berusaha meyakinkan.
“Menurut saya lebih baik Ibu tanda tangan dan semuanya akan beres. Dokter Allan akan membantu semua permasalahan Bu Ayra.”
Menghela napas panjang, Ayra lantas meraih pena dan membubuhkan tanda tangan di sana dengan pasrah. Tidak ada cara lain lagi. Penjara bukanlah tempat yang menyenangkan bagi seseorang yang terbiasa menjalani kehidupan glamor seperti Ayra. Berada di sana seperti sebuah neraka baginya.
Freddie menatap dengan senyum puas setelah mendapat tanda tangan Ayra. Hari ini ia akan mengurus semua, agar Ayra dapat segera terbebas dari semua tuntutan hukum.
🌻
__ADS_1
🌻
🌻
Semua orang berhak memilih dalam menjalani hidupnya dengan cara masing-masing. Allan memulai hidup baru dengan bahagia bersama Giany, serta Desta bersama Aluna. Mungkin begitu juga dengan Ayra, yang juga memiliki hak memulai hidup baru.
Setelah menjalani proses hukum, hari ini Ayra dinyatakan bebas bersyarat. Seharian beristirahat di apartemen untuk merenung. Malamnya ia habiskan untuk bersenang-senang dengan teman-temannya. Mencoba melupakan segala masalah yang datang bertubi-tubi.
Karena kasus kebakaran di restoran dan kedapatan menggunakan obat terlarang, ia kehilangan beberapa kontrak kerja dengan beberapa perusahaan. Bahkan Ayra tak lagi menjadi brand ambassador sebuah perusahaan kosmetik ternama. Karirnya benar-benar di ambang kehancuran.
Malam semakin larut, tetapi pesta belum berakhir. Ayra duduk merenung dengan gelas minuman di tangannya. "Aku sudah hancur sekarang. Aku kehilangan semuanya."
Ayra pulang dengan langkah sempoyongan. Seorang wanita yang menjadi asisten rumah membawanya masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. Ayra tampak frustrasi. Ia berteriak dan menangis dalam kesendirian. Namun, semua itu tak cukup untuknya bisa melupakan semua masalah hidupnya, sehingga obat-obatan terlarang menjadi sati-satunya pelarian.
“Halo, Dokter Allan ... Bu Ayra ...” ucapnya terbata menahan tangis. "Bu Ayra mabuk lagi dan pakai Shabu ..."
__
_
_
__ADS_1
Pagi itu Ayra duduk di meja makan dengan tubuh lemas sisa mabuk semalam. Yanie meletakkan segelas susu yang telah dicampur dengan madu ke hadapan Ayra. “Minum dulu, Bu. Biar tidak lemas.”
“Yanie, siapa yang antar saya pulang semalam?”
“Semalam Ibu diantar sama Mbak Rieta,” jawabnya.
“Oh ...” Ia menyeruput susu bercampur madu buatan Yanie, lalu melirik ke sudut ruangan. Ada dua buah koper berjejer di sana. “Itu koper kenapa ada di sana?”
“Oh, itu ... Anu, Bu ...” Ia menggaruk tengkuknya. Entah harus menjawab apa kepada Ayra.
“Jangan bilang kamu mau berhenti bekerja dan meninggalkan saya!”
Kedua bola mata Yanie pun digenangi cairan bening. Meskipun ia berusaha menahannya. Meskipun Ayra bukan pribadi yang bisa dinilai baik, namun ia memperlakukan Yanie dengan sangat baik saat bersamanya. “Bu-bukan punya saya, Bu ...”
“Lalu koper itu punya siapa?”
Belum sempat Yanie menjawab, bel rumah sudah berbunyi. Yanie mengusap air mata, kemudian beranjak menuju pintu. Ada Freddie Merkurius di sana dengan senyum ramahnya. Di belakang punggungnya ada Joko dan Amir.
“Sudah siap?”
“Sudah, Pak. Sebentar, saya panggil Bu Ayra dulu.”
__ADS_1
*****