Bukan Salahku Merebut Istrimu

Bukan Salahku Merebut Istrimu
BSMI 125- DESTA


__ADS_3

“Semua meja makan di mana-mana ngeselin ya ...” ujar Allan seraya mengetuk permukaan meja. Tidak di rumah lama, rumah baru dan sekarang meja makan di tengah hutan belantara pun, meja makan tetap sama menyebalkan. “Aku kayaknya kena kutukan meja makan deh, yank.”


Giany tertawa kecil. Jika sedang dalam keadaan kesal, Allan sangat menggemaskan. Jangankan manusia, benda mati pun dapat menjadi sasaran kekesalannya.


Allan meraih pisau dan garpu dari tangan Giany, kemudian memotong daging steak kecil-kecil. Satu hal yang Allan sadari, Giany belum pernah dan tidak tahu cara makan steak sama sekali. Terlihat dari cara memegang garpu dan pisau. Keinginan makan steak tiba-tiba muncul hanya karena semalam membaca sebuah majalah dan menemukan gambar steak yang menggugah selera.


“Ini, sudah aku potong kecil-kecil. Jadi kamu tinggal makan.” Ia menggeser piring ke hadapan Giany.


“Makasih, Mas,” ucapnya sambil tersenyum bahagia. “Sayang tidak ada nasi putihnya ya?”


Bibir Allan mengatup ketika mendengar ucapan polos itu. Ya, inilah orang Indonesia yang sesungguhnya. Belum dianggap makan kalau tidak pakai nasi. Ia ingin tertawa, tetapi menjaga mood Giany pada trimester pertama sangatlah penting dan Allan ingin Giany selalu bahagia menjalani kehamilan kali ini.


“Makan daging saja sebenarnya sudah bikin kenyang, kok. Kamu makan itu saja, tidak usah pakai nasi pasti kenyang. Kan ada kentang gorengnya juga.”


“Iya sih.” Ia mulai menyantap potongan daging itu. Allan lumayan pandai dalam hal memasak. Giany baru tahu itu karena selama mengenal Allan, suaminya tidak pernah bersentuhan dengan urusan dapur.


“Enak?”


“Enak, Mas. Dagingnya juga lembut dan kenyal.”


“Lembut dan kenyalnya kayak Arnold ya.” Allan tertawa gemas setelahnya.


“Arnold lagi. Kamu itu jahat, Mas. Ngerjain aku terus. aku malu tahu sama ibu.”


“Ya maaf. Kamu sih, tidak ngerti-ngerti. Padahal segitu jelasnya.”


“Habis Mas pakai istilah Arnold swasanagerah, swasanaseger, kan jadinya swanajengkel sekarang.”


Allan masih mengatupkan bibir. Kali ini lebih dalam dari yang tadi. Kata orang bijak jangan membangunkan singa yang sedang tidur, dalam keadaan emosi naik turun, Giany bisa berubah dari kelinci manis menjadi seekor singa.


“Ya sudah, habiskan makannya, setelah itu kita jalan-jalan.”


Mendengar kata jalan-jalan membuat mata Giany berbinar. Melupakan apa yang tadi membuatnya kesal. “Jalan-jalan? Kemana, Mas?”


“Ya ke hutan, Sayang. Kan kita sedang di tengah hutan. Anggap saja kamu Indiana Jones yang sedang berkelana.”

__ADS_1


“Tapi hutannya tidak ada ular kan?”


“Banyaklah,” jawab Allan santai membuat mata Giany melotot. "Tapi tenang aja, aku bawa ular sendiri sebagai senjata."


"Maaaaasss!"


_


Selepas menyantap sarapan spesialnya, Giany berjalan-jalan di sekitar villa besar itu dengan ditemani Allan. Senyum yang mengembang di bibirnya menggambarkan kebahagiaan, ia memejamkan mata menghirup segarnya udara pegunungan. Ini adalah salah satu momen terbahagia selama hidupnya.


“Sesenang itu ya kamu?” Pertanyaan Allan sekilas membuyarkan konsentrasinya. Ia berbalik menatap suaminya yang tengah berdiri di belakang.


“Senang, Mas. Aku suka sekali tempat ini. Tenang dan sejuk.”


Allan maju mendekat, tangannya mengusap puncak kepala istrinya dengan sayang. “Kalau kamu suka, kita bisa kemari lagi nanti. Maliq bilang kita boleh ke mari kapan saja.”


“Tapi nanti kemarinya ajak Maysha dan ibu ya ...”


“Boleh.”


Allan dan Giany adalah pasangan sederhana. Maka hal-hal kecil yang dikerjakan bersama selalu membuat hati berbunga-bunga.


Pernah dengar pacaran setelah menikah? Mungkin itulah yang dilakukan Allan dan Giany.


Kalau kalian bagaimana? Apakah pacaran setelah menikah juga? Jangan sampai terbalik ya. 🤭


🌻


🌻


🌻


Di belahan bumi lain, Desta sedang berada di ruang kerjanya. Ini adalah akhir pekan, tetapi memilih menghabiskan waktunya untuk bekerja. Ia akan mengajukan resign dari May-Day esok.


Bukan hal yang mudah meninggalkan May-Day. Bekerja keras selama bertahun-tahun adalah bentuk kecintaannya terhadap perusahaan itu. Tapi rasa berdosa terhadap Giany masih mendominasi walaupun ia telah mendapat maaf.

__ADS_1


"Desta!" Suara panggilan Rendy memecah keheningan.


"Kenapa, Ren?"


Rendy menatap ruang kerja Desta yang telah rapi. Beberapa barang pribadi milik Desta telah dibereskan.


"Kamu yakin mau resign?"


"Yakin ... Lagi pula aku perlu suasana baru."


"Marlyn bagaimana? Kamu yakin mau mencabut tuntutannya?"


Desta mengangguk pelan. Sama seperti Allan dan Giany yang memaafkan atas kesalahan fatalnya di masa lalu, ia juga akan mencoba memaafkan Marlyn. Seorang gadis yang berusaha menjebak Desta dengan mencampur obat perangsang ke dalam minumannya. Karena perbuatan Marlyn lah sehingga Desta mabuk berat dan akhirnya menjadikan Giany pelampiasan malam itu.


Karenanya pula Desta salah paham dan berburuk sangka terhadap Giany.


"Semua sudah berlalu. Akan sangat jahat kalau aku tidak bisa memaafkannya. Sementara perbuatanku jauh lebih jahat."


"Tapi kan kamu tidak perlu resign, Des. May-Day membutuhkan kamu."


"Keputusanku sudah bulat, Ren. Aku mau mulai semuanya dari awal."


Selepas menyelesaikan pekerjaannya, Desta segera meninggalkan gedung kantor. Ia mampir sebentar ke sebuah toko bunga dan membeli sebuket bunga mawar putih.


Kurang dari tiga puluh menit, Desta telah tiba di rumah. Dengan membawa buket mawar putih, ia berjalan menuju sebuah makam kecil yang terdapat di taman belakang rumahnya.


Ia memberi salam kepada makhluk kecil yang sudah beristirahat dalam damai di sana. Desta pun berjongkok di sisi makam, membersihkan rumput yang tumbuh di sekitar makam, kemudian meletakkan bunga di atas pusara.


Sambil berdoa, ia menitikkan air mata. Ada nama Rayyan yang terukir indah di atas batu nisan.


"Ray ... Maaf ya, papa baru sempat kemari lagi. Minggu ini papa sibuk. Kamu tidak marah kan?"


Tangannya mengusap ukiran nama Rayyan.


"Maafin papa ya, karena papa dulu menyiksa kamu dan mama sampai kamu harus jadi korban. Ya, papa banyak melakukan dosa besar. Kamu tahu Ray ... sekarang mama sudah menjalani hidup yang baru bersama seseorang yang jauh lebih baik dari papa. Kamu doain mama ya, biar mama bahagia selalu. Kita doain mama sama-sama. Di sini papa juga akan selalu berdoa untuk kamu."

__ADS_1


__ADS_2